Saling Silang Sengkarut Sastra: Dari Perselingkuhan Sampai Dengan Pengukuhan

Bagaimana kita mesti membaca perkembangan ‘peta sastra’ Indonesia belakangan ini, dan bagaimana kita memahami situasi dan kondisi itu? Pertanyaan yang bersifat umum ini rasanya perlu kita sodorkan, di antara berbagai masalah yang kadang nampak jelas, gamblang, seolah-olah kondisi sastra Indonesia oke-oke saja, seperti yang selalu kita baca di sejumlah komen jemaah fesbukyiah yang senang memberikan jempol, sambil berharap imbal balik jempol lain akan ditabalkan kepada dirinya pula, di antara komen basa-basi yang rasa-rasanya punya dorongan motivasi mirip stiker slogan yang tertempel di pantat bis: sesama bis kota dilarang saling mendahului. Inilah mungkin bentuk kesadaran diri masakini: narsisme demikian kuatnya berkembang seiring kemerosotan komunikasi kritis yang kian hilang.

Dunia sastra kita juga kini kian melebar kegiatannya, dari art center, pusat kesenian dengan dukungan lembaga kesenian yang tak lebih dari event organizer, sampai dengan hotel dan café serta warung dan rumah-rumah budaya, dengan kegiatan peluncuran novel, kumpulan puisi, cerita pendek, esai – biasanya diringi oleh potongan pembacaan karya sastra – yang konon semuanya diisi oleh diskusi, yang tak jarang tak lebih dari basa basi, seiring dengan watak jemaah fesbukiyah yang punya kecenderungan sejenis ‘toleransi’ atas nama ‘demokrasi’: siapa saja boleh bicara dan menulis. Gerak gegap gempita ‘toleransi’ dan ‘demokrasi’ ini bukan tak mungkin mendapat dorongan motivasi sebagai reaksi tak langsung atas dan dari arus fundamentalisme yang dipelihara oleh rejim Orba dan kini berkembang ke mana-mana.

Tapi, janganlah terlalu pesimis, apalagi fatalistik. Sebab, peta sastra rasanya tak mudah dan tak gampang benar untuk dinilai dan apalagi dibaca seketika. Bagaikan sejenis belukar yang tumbuh dan mengerumun di antara hutan beton perkotaan yang tak ramah, belukar itu bisa jadi nampak menghibur mata kita yang butuh benar kepada yang hijau-hijau, seperti oase di antara kegersangan kota dan kehidupan kebudayaan umumnya. Namun tentu juga, pikiran sinis, pesimisme dan tak sedikit pemikiran kritis juga saling silang di antara belukar yang menjadi habitat pertumbuhan dan perkembangan sastra mutahir, dan yang kemutahirannya tak ditentukan oleh isi dan visi apalagi isme atau paham, tapi oleh bagaimana dan kapan sebuah karya di tag di laman fesbuk. Setiap penulis – dalam bentuk apapun – mengejar waktu, deadline, agar dapat dan bisa dianggap hadir, ada dihadapan orang lain, di hadapan publik. Presensi, seperti di dalam ruang kuliah, menjadi penting, apalagi – sekali lagi – di dunia dan jemaah fesbukiyah: dua minggu, apalagi dua bulan absen, publik jagat maya akan bertanya- tanya, dan sejumlah dugaan bermunculan: di manakah dia sekarang, bagaimana kondisinya, apakah dia sehat, sedang ngapain dia, gimana dengan kegiatan – dan bukan hanya soal tulis-menulis puisi, cerita pendek, esai, dan berita kegiatan, dan terutama visualisasi via foto yang dituntut untuk hadir sebagai tanda kehadiran, presensi. Jagat maya mempertemukan manusia. Halimdulilah!

Tentu saja punya konsekuensi logis di dalam kehidupan kebudayaan dan peradaban, seperti yang diramalkan dan diungkapkan oleh Akademi Perancis yang pada tahun 1990-an melalui hasil penelitiannya menyatakan, internet ikut menciptakan dan mengembang-biakan bahasa banal, vulgar, dan kekacauan struktur pemikiran. Menarik. Dan yang paling menarik justeru pengungkapan hasil penelitian itu membuktikan tentang proses kerja kebudayaan yang diciptakan setiap harinya namun tak pula mengarah kepada penciptaan peradaban. Tapi, rasa-rasanya, apa hal itu terjadi hanya pada masa kini, ketika internet, jaman jagat maya muncul. Mungkin berbeda, tapi lihat saja di dalam sejarah, kebrutalan terjadi dan bahkan penghilangan nyawa – bukan hanya pembakaran dan penghancuran naskah – dilakukan oleh hanya perbedaan teks, paham, ideologi, seperti 1965-1968 hingga kini di Indonesia, 1960-80 di Latina Amerika, 1950-60 di Amerika Serikat, dan berbagai belahan dunia lainnya.

Tapi kita juga tak bisa menolak pengungkapan hasil penelitian itu, karena terdapat sisi kebenaran yang perlu kita renungkan kembali. Misalnya, marilah kita ambil contoh dari dalam ruang sastra: bisakah gosip, isu, sinisme dan ‘kritik asal bunyi’, tuding-menuding, dan ada kecenderungan untuk ‘membantai’ gaya komen dan ‘kritik sastra’ awal tahun 1970-an, serta berbagai pengukuhan, legitimasi, tumbuh berkembang dengan penyebaran yang pesat jika tanpa jagat maya? Media internet membuat siapa saja bisa menyatakan diri dan hadir, dan kerap tanpa malu-malu seperti kucing lapar yang mencakar di dalam ruang gelap. Itu bedanya dengan media cetakan yang memiliki penjaga gawang, apalagi penjaga yang piawai yang mampu memilah dan memilih mana yang patut dan yang tak layak untuk dipublikasikan. Disini kita bicara tentang kriterium, suatu ukuran yang bisa kita sepakati bersama tanpa kita harus menanda-tanganinya. Berbeda dengan jagat maya, semuanya merasa memiliki ukuran dan semuanya bisa menolak kriterium. Maka benarlah apa yang dinyatakan oleh Akademi Perancis, kekacauan struktur terjadi akibat media ini begitu terbuka kepada kemungkinan manusia untuk menyatakan diri. Dan bisa tanpa kendali diri. Dan pernyataan itu, kerap tanpa risih, tanpa mempertimbangkan bahwa menepuk air di dulang bisa terpercik ke muka sendiri. Tapi, jagat maya tak memiliki wajah, hanya lembaran, laman yang berisi huruf dan kata-kata, kalimat, bahasa, yang kesemuanya bisa dengan cepat – seperti kecepatan jagat maya – dilupakan. Orang-orang di dalam jemaah fesbukiyah telah menjadi cepat lupa dan pelupa, seperti watak orang-orang di wilayah urban yang selalu mengejar sejenis kebaruan, inginnya selalu up to date dan dengan gampang meninggalkan jejak atau bahkan memupus jejaknya sendiri.

Dalam konteks itu, sambil meraba-raba, menduga-duga di antara belukar sastra dan kekisruhan kriterium disemua bidang dan segi kehidupan dan kebudayaan di sekitar kita, mungkinkah Djoernal Sastra Boemipoetra (DSB) berusaha membangkitkan tatanan nilai yang konon dikangkangi oleh sekelompok orang, dan mungkinkah DSB ingin, berusaha menegakan ‘kebenaran sastra’? Kenapa DSB begitu gempita menggebah berbagai isu politik kebudayaan, dan bagaimana dengan gemuruh, tajam dan garang DSB menembak isu tentang kapitalisme, imperialisme, dan kenapa pula DSB selalu menyasarkan peluru-peluru kritiknya yang tajam kepada Teater Utan Kayu (TUK, sekarang Pusat Kesenian Salihara, PKS), dan khususnya kepada Goenawan Mohamad (GM). Ada apa dengan GM, seorang esayis piawai, pemikir kebudayaan serta tokoh jurnalisme yang dikagumi banyak orang dan khususnya oleh kaum kelas menengah dan atas perkotaan serta kaum priyayi baru didikan Orba yang menyenangi kalimat-kalimat, untaian kata-kata dalam esai Ca(tatan) Ping(gir) GM di Tempo yang mendayu-dayu dan cenderung melankolik, sehingga ada sekelompok kaum penulis muda bukan hanya menggugatnya tapi juga menentang dan menantang secara frontal – walaupun saya juga belum pernah menyaksikan sejenis pibu di atas panggung sastra dan melihat dengan mata kepala munculnya jurus-jurus sakti dari kedua ‘partai persilatan’ yang nampaknya lebih gemar mengumpat dari pada membuktikan kesaktiannya melalui ‘ketupat belah empat’: tak ada meja perjamuan, tak ada meja cengkerama dan yang ada cuma jagat maya. Mungkin keduanya sejenis ‘perguruan silat’ yang lebih banyak memakai tele-bahasa, tele-lidah, layak seperti kaum dukun yang suka dengan tehnik sembur-menyembur agar tanah jadi subur dan hidup jadi makmur. Kenapa, bagaimana dan ada apa keduanya berseteru? Atau, mungkin saya keliru menelusuri jejak masalah dan salah merumuskan, menyodorkan pertanyaan dalam konteks perkembangan sastra dan munculnya DSB di antara kekeringan dan kelangkaan kritik yang frontal, yang selama ini adem ayem, dan hanya ada bisik-bisik gosip di antara iringin musik atau klenengan di sebuah café atau warung.

DSB yang diterbitkan pertama kali pada pada tahun 2007 – entah pada bulan apa – dengan sub-tajuk Boekan Milik Antek Imperialis, muncul seiring dengan pertumbuhan pesat ‘komunitas sastra’ dan kegemaran serta kegembiraan menulis yang merebak di mana-mana dan khususnya di jagat maya, bagai benih tanaman sehabis musim penghujan ketika matahari mengantarkan panas ke sela-sela rerimbunan, yang kian lama kian menjadi belukar. Belukar sastra itu mungkin karena tak ada tukang kebon, tak ada sosok kritikus yang mampu dan bisa memangkas tanaman menjadi kebun atau ladang, seperti kita menyaksikan begitu banyaknya ‘komunitas sastra’ di berbagai penjuru nusantara yang berkembang sendiri-sendiri sambil memupuk diri, sementara di sisi lain tak sedikit yang memasuki ruang rias dan berdiri di depan cermin sambil bersolek dan mematut-matutkan diri, siap tampil di atas panggung tanpa merasa perlu ada seorang sutradara. Presensi hal terpenting, bagi siapa saja dan kapan saja, di dalam kondisi ketiadaan figur, sosok yang disegani sebagai penilai dan perumus kriterium. Dan seseorang, siapa saja, bisa menyatakan, saya hadir di sini karena saya ada di dalam jagat maya. Tapi, nampaknya jagat maya ini tak cukup meyakinkan, bagi sebagian orang. Bukan hanya hadir, presensi, di jagat maya yang dibutuhkan. Ada berbagai event seperti festival atau forum, juga berbagai jenis undangan lainnya misalnya residency, atau suatu ruang institusi yang juga nampaknya masih menggoda bagi penulis sastra untuk diisi – dan diperebutkan – atas nama kehadiran dirinya. Dalam konteks itulah tak jarang kita, khususnya saya mendengar tentang sesuatu yang diragukan, dan lalu dicaci, dan jarang saya dengar adanya kritik: festival para penulis, forum pertemuan, residensi senantiasa diiringi oleh semburan tele-lidah.

Tele-lidah masing-masing menganggap dan menuding, bahwa mereka berkongkalikong dan tak pernah membuka selebar-lebarnya kepada kemungkinan lain dari presensi orang lain. Dengan kata lain, tele-lidah menganggap bahwa ada kesepihakan, ada sesuatu penilaian yang dianggap melanggar keadilan. Tapi, apa seeh ‘keadilan’ itu, kata tele-lidah lainnya? Masalah kesempatan adalah momentum yang ditangkap oleh seseorang atau sekelompok orang, dan bukan soal ‘keadilan’. ‘Keadilan’ itu subyektif sifatnya, tergantung siapa yang merumuskan, dan itu hanya nomor kesekian. Di dalam masyarakat kita di mana pembangunan dan moderenisasi identik dengan speed(y), dan orang-orang bergegas menuju ke suatu arah…., dan berusaha meraih…, maka soal momentum diterjemahkan sebagai ‘kesempatan’. Saya kira, yaaa, saya duga, mungkin, soal kesempatan inilah yang sering menjadi saling silang sengkarut dalam dunia kesenian kita, termasuk dalam tingkah laku sastra. Sebab, rasanya seeh, perlu juga kita ingat-ingat bahwa di dalam kondisi dan suasana speed(y), orang sulit untuk berpikir mendalam, merenung, reflektif: tak sempat memikirkan – atau bahkan tak membutuhkan – kriterium, apalagi memikirkan orang lain. Yang dibutuhkan adalah keputusan secepat-cepatnya, agar momentum tak luput.

Apakah hal itu yang ingin disodorkan oleh DSB, yang ingin dibongkar kehadapan publik? Saya kira, saya duga, bukan sekedar itu. Itu harapan saya. DSB nampaknya ingin memberitahu ada sesuatu yang (di)luput(kan) di dalam masyarakat sastra Indonesia, yang membuat sastra Indonesia memasuki sejenis primordialisme baru melalui media dan ruang institusi yang dihuni oleh sejenis patronase. Tapi, anehnya kenapa banyak obrolan dari banyak kasus misalnya DSB menganggap Mingguan Kompas telah menjadi mesin pencetak penyair yang seleranya menurut redakturnya, dan TUK-PKS dengan para ‘adipati sastra’ yang dianggap sewenang-wenang memilih para penyair yang diundang ke dalam acaranya. Kenapa DSB tidak melihat hal itu sebagai sejenis kanalisasi, dan kanal ini bisa menjadi sejenis saluran pemikiran, sama halnya dengan DSB yang bisa menjadi sejenis kanal sastra dalam ruang paham yang berbeda dengan TUK-PKS atau Mingguan Kompas. DSB juga mengungkap masalah antara legitimasi sastra dan perselingkuhan. Tapi, apa anehnya dengan perselingkuhan dan legitimasi? Hal itu bukan barang baru. Perselingkuhan (politik kebudayaan) yang paling keren dan dahsyaat adalah antara Soekarno dengan seniman dan arsitek di jamannya yang menghasilkan patung publik, koleksi lukisan terbaik di Indonesia, serta disain arsitektur di Jakarta. Yang harusnya dilacak oleh DSB adalah soal bagaimana mutu, kualitas sastra (dan kesenian) dari hasil perselingkuhan itu, apa ada sesuatu yang monumental? Rasanya gak ada, biasa-biasa aja. Lalu kenapa mesti ribut? Dan perlu juga diingat, soal perselingkuhan – personal maupun sosial, politik maupun ekonomi – di lingkungan masyarakat kita, sesungguhnya tak ada. Bagaimana kita bisa menuding seseorang ‘selingkuh’ sementara kita tak memiliki kriterium. Yang ada tudingan. Saling tuding-menuding. Inilah sesungguhnya masalah kebudayaan kita, substansi diri orang Indonesia: aku ada karena aku menuding.

Jadi, terus terang, dalam kasus seperti itu, saya perlu dan mesti menyatakan, bahwa semuanya itu gosip. Tak ada sesuatu yang mendasar yang membuat saya terhenyak oleh gugatan yang menantang oleh DSB yang mengajak saya ke dalam permenungan. Saya hanya kagum kepada DSB yang berani menentang GM dan Kompas, yang kata tele-lidah sudah menjadi ‘berhala’. Tapi, mong-ngomong, apa kelirunya seeh kalau jadi ‘berhala’, apa salahnya dengan memuja atau dipuja dan menyodorkan atau disodorkan sesajian oleh orang seorang, bahkan dengan sikap sungkem dan taqlid? Saya pribadi tak peduli dengan berbagai jenis ‘berhala’ apapun juga, kalau memang ada, apalagi ‘berhala’ imitasi yang memang jadi watak posmo. Dan kebetulan di dalam kepala saya – beruntung ibu-ayah saya mendidik dengan keringat – tak ada ruang bagi hal-hal seperti itu. Tapi, itulah juga soalnya, orang lain menganggap ada ‘berhala’, sementara saya tidak, dan saya cenderung itu hanya soal posisi dan re-posisi dan momentum: waktu yang akan menguji.

Dan waktu itulah yang nampaknya diisi oleh Katrin Bandel (KB) dalam DSB, melalui esai-esainya yang cerdas dan tajam, yang membuat saya merasa gembira membacanya, karena ada sesuatu yang dikuaknya dari belukar sastra, dan bukan hanya sekedar gugatan berupa semburan tele-lidah, tapi dengan kepiawaian peneliti-akademisi yang terampil menggunakan perangkat, memberikan pembaca sejenis ‘Aufklaerung’ di antara kebuntuan dan kemandulan para kritik sastra dari lingkungan kampus di Indonesia. Pun esai-esai yang ditulis oleh pasangan KB, penyair Saut Situmorang. Dalam kaitan inilah DSB terasa kehadirannya mengisi khasanah sastra Indonesia mutahir dengan bobot berbau ideologis, ikut mengisi kekosongan polemik sastra hampir 30 tahun setelah Perdebatan Sastra Kontekstual pada tahun 1984-86. Dan semoga saja DSB yang akan datang terus hadir dan mampu menghadirkan sejenis kriterium yang makin dan lebih jelas, dan berani menolak serta memupus gosip, isu dan tele-lidah gaya dukun imitasi.

Solo, 19 Oktober 2012

Horasss !

-o0o-

Oleh: Halim HD
Networker Kebudayaan.

2 Komentar Pembaca

  1. Saut Situmorang

    1. Kalok benar bahwa “‘Keadilan’ itu subyektif sifatnya, tergantung siapa yang merumuskan, dan itu hanya nomor kesekian”, untuk apa Keadilan diperjuangkan begitu banyak banyak manusia, bahkan sampek mengorbankan nyawa mereka?! Wiji Thukul misalnya. Gandhi di India misalnya. Jesus di Palestina misalnya.

    2. Pendapat bahwa “‘Keadilan’ itu subyektif sifatnya, tergantung siapa yang merumuskan, dan itu hanya nomor kesekian” adalah pendapat khas kaum Posmo yang tak percaya pada adanya Narasi Besar seperti Kemiskinan, Kebenaran, dan ya Keadilan. Jurnal “boemipoetra” menolak Posmodernisme kernanya! Kerna jurnal “boemipoetra” sebagai bagian dari budaya Dunia Ketiga percaya pada Narasi-narasi Besar seperti Kemiskinan, Kebenaran dan ya Keadilan!!!

    3. Klaim ini “Bagaimana kita bisa menuding seseorang ‘selingkuh’ sementara kita tak memiliki kriterium. Yang ada tudingan. Saling tuding-menuding. Inilah sesungguhnya masalah kebudayaan kita, substansi diri orang Indonesia: aku ada karena aku menuding” lebih tepat ditujukan kepada so-called “Perdebatan Sastra Kontekstual pada tahun 1984-86″ yang tak jelas juntrungannya itu! Pretensinya sih ilmiah (sosiologis) dan teoritis tapi realitasnya cuma daur-ulang klaim-klaim asersif tentang “sastra”, “budaya” dan “lokalitas” yang tak mampu dijelaskan dengan baik! Mirip artikel yang sedang saya komentari ini lah!!! Cumak antologi slogan doang!

    Balas

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas