Fasisme Sastra

Pasca tumbangnya rezim orde baru, Indonesia mengalami kebebasan berekspresi di berbagai bidang. Mulai dari seni rupa, jurnalisme, sampai sastra. Tak kurang dari penggiat-penggiat kebudayaan ini mulai bergeliat lagi dengan munculnya berbagai ide, proses, tema, dan karya-karya yang isinya lebih bervariasi. Namun, ternyata hal ini tidak diimbangi dengan kemerdekaan publikasi dari beberapa pihak. Contohnya di ranah sastra. Meski polemik antara Lekra dan Manikebu kini kian kabur, namun beberapa pihak masih saja berpolemik-kalo tidak boleh dibilang perang-. Polemik jalur berkesenian ini tidak lagi berada di ranah diskusi, namun juga telah masuk ke ranah yang lebih aplikatif lagi, contohnya penerbitan karya-karya sastra.

Penerbit-penerbit yang sudah mapan atau establish agaknya enggan bahkan tidak pernah menerbitkan karya-karya sastra yang menjadi ‘pengikut’ kubu Lekra. Bukan tanpa sebab ini terjadi. Biasanya penulis-penulis dari kubu ini lebih mengedepankan makna yang bertema kritik-kritik sosial dengan mengabaikan estetika sastra yang disebut-sebut di dalam teori sastra seperti eufemisme, metafora, peyorasi, dan ameliorasi. Ini hal yang lumrah di kubu Lekra, karena mereka menganut paham Seni untuk Pembebasan. Kecenderungan penulis dari kubu ini adalah penggunaan bahasa yang lugas dan sederhana. Hal ini dimaksudkan agar publik yang membaca karya sastra lebh mudah memahami makna yang ingin disampaikan. Berbeda dengan kubu Manikebu yang karya-karyanya lebih berisikan tema-tema yang berjarak dengan realitas sosial yang penuh dengan carut marut penderitaan rakyat. Karya-karya kubu manikebu lebih menganut karya-karya yang sarat dengan estetika yang disebut-sebut dalam teori-teori sastra kebanyakan.

Polemik ini kemudian tidak hanya membuat penerbitan yang sekarang ada hanya melahirkan karya-karya yang tidak memiliki arti apapun kecuali menghibur, tetapi juga menumbuhkan fasisme dalam karya. Saya mengutip Hugh Purcell untuk melihat ciri-ciri fasisme. Fasis sendiri berasal dari kata fascio yang mengacu pada makna pengabdian, loyalitas dan kepatuhan terhadap perintah dalam sebuah aspek kehidupan. Dalam fasisme, demokrasi pasti akan ditolak. Bahkan Mansour Fakih mengatakan, fasisme menolak liberalisme yang menekankan pada kebebasan individu dan persamaan antar manusia. Saya menyebutkan fasisme dalam sastra adalah mereka yang tidak memberikan kebebasan penulis untuk berkarya. Siapa saja mereka itu. Pertama, adalah penerbit. Penerbit yang sudah mapan, tentunya akan berpikir ulang dalam memilih menerbitkan sebuah karya. Penilaian layak atau tidaknya sebuah karya diterbitkan didasarkan pada pertimbangan laku atau tidaknya karya di pasaran. Penerbit-penerbit ini hampir banyak menolak menerbitkan karya-karya penulis pemula, dengan pertimbangan mereka belum dikenal publik. Belum lagi persoalan pemilihan tema. Tema cinta akan lebih dipertimbangkan untuk diterbitkan ketimbang karya yang sarat dengan kritik sosial.

Kedua, adalah editor. Saya pernah berdiskusi dengan seorang kawan, siapa yang berkuasa atas sebuah karya? Jawabnya ternyata tidak mutlak. Kalau karya itu belum dipublikasikan, tentunya yang berkuasa atas karya adalah penulis. Tetapi ketika karya itu akan diterbitkan, maka yang berkuasa atas karya tersebut adalah editor. Mengapa bisa begitu? Editor akan memilih karya-karya mana saja yang layak diterbitkan. Jika tidak sesuai dengan ‘selera’ pribadi sang editor, maka karya tersebut akan di banned alias tidak akan mendapat ‘rekomendasi’ dari editor untuk diterbitkan.

Menyesakkan memang fenomena fasisme dalam sastra ini. Ini membuat potensi-potensi munculnya penulis-penulis muda menjadi sangat terhambat bahkan cenderung dikerdilkan. Kalau mau naskahnya diterbitkan dan dieditori oleh editor yang telah memiliki jam terbang yang panjang, maka penulis harus rela ‘melacurkan’ diri dengan menulis sesuai dengan ‘selera’ editor dan pasar. Jika tidak maka jangan harap karyanya bisa diterbitkan oleh penerbit-penerbit yang telah mapan. Namun sisi menariknya dari proses ini adalah sikap perlawanan yang muncul dari kawan-kawan penulis yang menolak dikapitalisasi oleh pasar dan tunduk pada fasisme dalam sastra. Mereka kemudian melawan dengan mendirikan penerbitan-penerbitan mandiri-independen- dengan mengangkat editor yang hanya bertindak sebagai memberi arah dalam menulis dan mengedit tulisan tanpa harus kehilangan fungsi sebagai editor. Menariknya dalam proses ini adalah, tidak hanya karya-karya yang diterbitkan dalam penerbitan independen ini lebih beragam dalam segi tema dan eksplorasi tulisan, namun editor tidak menjadi penguasa tunggal atas sebuah karya. Justru yang terjadi adalah terbukanya ruang diskusi antara pihak penerbit, editor, dan penulis. Ketiga komponen dalam lahirnya sebuah karya ini duduk sama rendah berdiri sama tinggi dalam melahirkan atau menerbitkan sebuah karya.

Proses ini pun melahirkan karya-karya yang lebih variatif dalam segi tema maupun eksplorasi gaya penulisan. Inilah eloknya berproses secara independen, karena penulis dibebaskan dalam arti seluas-luasnya untuk mengeksplorasi dirinya sendiri tanpa harus dibatasi oleh aturan-aturan yang disebutkan di dalam teori-teori sastra. Bahkan tidak jarang muncul gelitik untuk membuat sebuah teori sastra baru yang lahir dari proses-proses menulis ini. Dan lebih dari pada itu, proses yang lebih demokratis ini juga mendorong munculnya para penulis baru yang justru secara ideologis, kemampuan eksplorasi gaya menulis, dan ide-ide tulisan yang justru lebih berani ketimbang para penulis yang telah memiliki nama. Namun, tentunya proses yang independen ini masih harus digarisbawahi bahwa ada aturan yang harus disepakati bersama, bahwa dalam karya-karyanya, penulis-penulis ini tidak diperkenankan menyerang secara SARA. Aturan ini bukan tanpa sebab diberlakukan oleh pihak manapun, baik dari penerbit yang telah mapan maupun dari penerbit independen. Karena menulis karya yang menyerang SARA justru akan menjauhkan penulis dari publiknya sendiri dan menjadikan penulis sebagai pihak yang menyulut pertikaian yang membuatnya menjadi penulis yang kehilangan nurani. Penulis sastra adalah sosok yang sangat humanis karena mereka mampu mengintensifkan kenyataan yang ada di sekitarnya.

Selamat memilih menjadi penulis di kubu manapun.

Selamat berproses.

Dewi Indra Puspitasari

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas