Dicari : Sastra yang Berpijak Pada Kearifan Lokal

Sebuah Gagasan Konseptual Rekonstruksi Budaya Lokal Ke Dalam Kewilayahan Produksi Sastra

Wayang, sebuah karya sastra yang berpijak pada kearifan lokal

Wayang, sebuah karya sastra yang berpijak pada kearifan lokal

Pengantar:

Ketika saya melihat film televisi Korea Selatan berjudul Jang Geum betapa banyak hal yang membuat saya kagum atas kecintaan pencipta kisah dan kreator film yang memanfaatkan latar sejarah kebudayaan berikut keindahan alam Korea Selatan dimunculkan dalam sintaks film yang menawan. Sintaks film yang berupa gambar, cerita, dialog, dan unsur dramatik mampu mengkomunikasikan kearifan lokal. Demikian juga disusul dengan film lain yang sejenis yang semua berakar dari latar kebudayaan dan menjadi promosi kebudayaan serta nilai pendidikan karakter yang efektif. Kemudian muncul dalam benak, bagaimana dengan karya sastra yang memiliki sintaks khusus. Mungkin novel Generasi yang Hilang karya Soeparto Brata dan Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari serta puisi-puisi  D. Zawawi  Imron  seperti Bulan TertusukIlalang dll. yang menjadikan saya membaca berulang-ulang tanpa bosan dan mampu menyelami keindahan lokal yang mampu ditampilkan dalam karya sastra. Mungkin saya tidak mampu berkreasi, namun mampu mengapresiasi dan membahasnya dalam konteks keilmuan kesastraan.

Seiring perkembangan zaman, pertumbuhan genre dalam sastra membawa jauh ke dalam bentuk-bentuk pemikiran yang semakin global dan kompleks. Sastra Indonesia menampakkan wujudnya dalam keberagaman dengan sifat komunitas lokal, sastra nasional, maupun kancah global melalui penerjemahan-penerjemahan karya sastra Indonesia. Dalam kaitannya dengan produksi dan penerbitan, karya sastra Indonesia masih didominasi Jakarta  dan belum banyak terbitan lokal dengan tema-tema lokalitasnya.  Majalah berbahasa daerah (misalnya Majalah Penyebar Semangat dan Majalah Jaya Baya terbitan Surabaya dan Majalah Joko Lodhang terbitan Yogyakarta) yang masih memuat  cerita-cerita pendek tema lokal dan bahasa lokal.  Majalah sastra nasional hanya Horison yang masih bertahan dan sekarang memfokuskan pada Kaki Langit untuk tujuan apresiasi sastra siswa sekolah. Penerbitan buku sastra yang bersifat lokal  belum atau bahkan tidak tampak dalam perkembangan kekinian sastra Indonesia.

Antropologi Sastra

Dalam kurun waktu sastra sebagai objek kajian ilmu pengetahuan, pendekatan sosiologi dan psikologi sastra  mendominasi kajian-kajian sastra. Semakin berkembangnya model multidisipliner, antropologi sastra  mulai digunakan seiring dengan pemfokusan terhadap keterkaitan kebudayaan dan studi  budaya dengan sastra. Hal ini mulai dirintis sejak 1977 melalui hasil Kongres Folklore and Literary Anthropology yang berlangsung di Calcutta India. Aspek antropologi dari sastra ini muncul dalam khazanah dunia ilmu sastra, mengingat sastra mampu mengangkat tema lokal yang selama ini menjadi objek folklore seperti sastra lisan, mitos, dan sistem religi. Dalam kaitannya dengan eksplorasi nilai-nilai lokal dalam menumbuhkembangkan sastra Indonesia dan atau sastra daerah serta penerbitan sastra di daerah dengan penggalian nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal, secara konseptual sangat signifikan. Hal ini dikarenakan (1) aspek-aspek naratif karya sastra dari kebudayaan yang berbeda-beda (2) struktur naratif sejak epik yang paling awal sampai novel yang paling modern, (3) bentuk-bentuk arkhais dalam karya sastra, baik dalam konteks karya individual maupun generasi, (4) adanya bentuk-bentuk mitos dan sistem religi dalam karya sastra, serta (5) pengaruh mitos, sistem religi, dan citra primordial yang lain dalam kebudayaan popular (Nyoman Kutha Ratna, 2004:65).

Dalam konteks Kearifan lokal setiap masyarakat membentuk kesadaran sejarah dan psikologis/ingatan-ingatan mengenai masa lalu. Penciptaan terhadap kisah atau nilai yang diyakini akan membangun konstruk yang melandasi  kehidupan psikologis masyarakat. Seperti dipahami bahwa kondisi psikologis masyarakat lokal, ritualisasi yang menyertai mitologisasi memantapkan identitas rakyat. Sastra Lisan yang  selama ini dirangkum dalam folklore yang dikembangkan melalui komunikasi oral membawa reinterpretasi yang dinamis. Kecenderungan menciptakan mitologisasi, mistifikasi, dan kosmosisasi menambah intervensi mendalam dalam kehidupan psikologis masyarakat.

Folklore dan alam pikiran akan membawa asosiasi erat antara mitos, sejarah dan folklore melahirkan ritualisme/seremonial di dalam masyarakat. Oleh sebab itulah fakta budaya ini kiranya perlu dilakukan upaya “invented tradition” sebagai langkah  revitalisasi atau penggairahan sastra Indonesia yang mengangkat kearifan lokal kesukubangsaan di Indonesia. Wujudnya berupa sebuah transformasi, past at the present yang berimplikasi pada tumbuh kembangnya genre dalam peta sejarah sastra di Indonesia. Kearifan lokal merepresentasikan sebuah nilai kebudayaan masyarakat yang menaungi keseluruhan kompleksitas norma dan perilaku yang dijunjung tinggi serta menjadi sebuah “belief”.

Alam pikiran budaya, yang bermula dari tradisi lisan yang berlanjut pada tradisi tulis dan tradisi baca, mengilhami tradisi lisan yang dituliskan dalam bentuk laporan-laporan folklore. James Danandjaya (2002:21) menyatakan bahwa folklore lisan adalah bentuk folklore yang termasuk ke dalam kelompok besar antara lain (a) bahasa rakyat (folk speech) seperti logat, julukan,pangkat tradisional dan title kebangsawanan, (b) ungkapan tradisional seperti peribahasa, pepatah, (c) pertanyaan tradisional seperti teka-teki, (d) puisi rakyat seperti pantun, gurindam, dan syair, (e) cerita prosa rakyat seperti mythe, legenda dan dongeng, dan (f) nyanyian rakyat. Apa yang telah disebutkan ini, merupakan sumber inspirasi dalam penulisan sastra lokal dan sastra nasional dengan berbagai kekayaan intangible culture sebagai pendorong tematik dan warna lokalitas sastra. Sastra lokal tidak saja berwarna lokal dalam setting fisik, melainkan juga berwarna dalam pola pikir dan kehidupan sehari-hari. Puisi-puisi D. Zamawi Imron adalah puisi-puisi berbahasa Indonesia ( yang berarti secara nasional dapat dibaca dan dipahami), namun apabila ditilik lebih dalam, mencerminkan bagaimana kecintaan D.Zamawi Imron terhadap alam dan budaya Madura. Konsep budaya Bepak-Bebuh-Guruh-Ratoh yang dijunjung tinggi dalam konteks Madura selalu tampak pada ruh-ruh yang mengiringi puisinya. Nafas laut, nelayan, garam, kapal bercadik, pantai , perbukitan, kisah kehidupan sehari-hari Madura dan konsep kemartabatan penghormatan kepada ibu dapat dibaca dengan indahnya dalam puisi-puisinya. Keindahan  folklore percintaan remaja di tanah  Jawa yang terjalin dalam puisi :

Bawa Lara Bentrok
Endraswara (2009:71)

Kang kataman larasmaya lara bentrok anglam-lami
Paran tumameng tilam rum baya, ruming sariranta
Sumarma marsudeng budi
Dhuh masmirah sang kusuma
Ambuka gandaning sekar gambir sawit mawar mawur

Terjemahan:

orang yang sedang jatuh cinta sakit sulit sembuhnya
Karena menderita hanya di kamar tidur dengan menghibur diri
Serta berupaya dengan nalar jernih
Dan kekasihku seorang kusuma
Akan membuka keharuman gending Gambir Sawit berdenting

Sutardji Calzoum Bachri yang mencoba membangkitkan tidur pajang Mantera sebagai puisi asli masyarakat Nusantara ke dalam khazanah puisi Indonesia era 70 an yang mencoba membebaskan kata dari kungkungan makna,mengembalikan fungsi kata seperti dalam mantera (Kredo Puisi; Horison Desember 1974) :

Mantera

lima percik mawar
tujuh sayap merpati
sesayat langit perih
dicabik puncak gunung
sebelas duri sepi
dalam dupa rupa
tiga menyan luka
mengasapi

puah!
kau jadi Kau !
Kasihku

Keindahan lokal bukan tampak pada isi melainkan cara pengungkapan isi melalui permainan bahasa dan asosiasi. Sastra tutur, sastra berkisah, merupakan salah satu kekayaan produksi sastra yang memanfaatkan keanekaragaman dan kekayaan warna lokal di Indonesia dalam khazanah Sastra Indonesia Modern. Imaji atau citraan lokal dalam karya sastra memerlukan keberanian dalam penggalaian tema-tema sastra kontemporer.  Peristiwa, suasana, cerita, perasaan dan gagasan tertentu lokal dengan berbagai kearifan lokal yang melekat adalah kekayaan tematik pemunculan sastra Indonesia berwajah lokal.

Eksplorasi Warna Lokal Sastra

Persoalan penggalian /eksplorasi sastra warna lokal akan terhadang oleh kondisi sastra dalam industri budaya. Kata ‘industri’ mengacu pada  sebuah usaha yang dimaksudkan untuk mengembangkan modal dari keuntungan atas penjualan produk. Termasuk di dalamnya pengadaan usaha produksi buku sastra. Ada persaingan antara produksi sastra dan produksi film (“baca sinetron’ dengan latar belakang lagu popular). Ada  pergeseran fungsi dalam penerbitan sastra, antara idealism dengan pasar. Komoditas yang bersinergi dengan selera konsumen. Perlu dipertanyaan siapa sebenarnya konsumen buku-buku sastra kita? Dalam tataran produksi nasional, sastra dalam genre manakah yang memiliki nilai jual dalam fungsi komoditas sastra? Seberapa banyak karya sastra “serius” terjual, seberapa banyak sastra dengan setting lokal laku terjual dan terbaca? Sastra sejarah ? Betapa pasar menjadikan idealisme sastra harus tunduk. Novel pop tampaknya masih berada dalam kurva tertinggi rating komoditas penerbitan sastra sekarang ini. Novel berlatar religi dan keberhasilannya setelah diubah dalam bentuk film, pada suatu masa tertentu pernah menjadi ‘boom’ dalam perkembangan sastra modern Indonesia.  Saya juga pernah berpikir ketika sekelompok sastrawan lokal (komunitas sastra Bojonegoro)mencoba memasarkan sastra lokal dengan bahasa lokal, saya melihat jumlah item buku yang dipasarkan dan jumlah yang terjual dalam kurun waktu tertentu. Dengan kondisi semacam ini memang perlu penelitian mendalam untuk mendapatkan data-data yang akurat, khususnya sastra dalam ruang lingkup industri budaya.

Penggalian warna lokal dan budaya lokal sebagai ruh sastra Indonesia yang berkearifan lokal perlu juga menggali kekuatan komunitas-komunitas sastra. Bagaimana eksistensinya dan kegigihannya dalam mempertahankan kehidupan berkesusastraannya. IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang) dalam kurun waktu  tahun 70-80 an memiliki geliat yang positif dalam mengadakan diskusi-diskusi sastra, pentas teater, pameran lukisan, dan baca puisi. Bahkan jauh sebelumnya komunitas sastra, seni dan budaya, Malang, mengapresiasi kegiatannya lewat pemasangan patung Chairil Anwar di depan Gereja Katolik Jalan Kayutangan, merupakan sebuah masa yang seharusnya dipertahankan dan diwariskan sebagai upaya pemertahanan dan upaya-upaya kultivasi atau persemaian bakat, keahlian, pengkajian, dan produksi sastra.

Dalam konteks kekinian, dunia sastra mengalami “kepesatan” dalam genre dan  bentuknya, keberanian Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Fira Basuki, yang memunculkan dunia pop dalam sastra dengan berbagai label seperti kritik sosial, erotisme libidal, atau pada generasi sebelumnya seperti Motinggo Boesje, Mira W, Marga T, La Rose yang menawarna romantisme pada zamannya, sampai muncul model Teenlit (sastra remaja) dan sastra berlatar kehidupan pesantren serta idealisme-idealisme yang lain, tak lain karena faktor kapitalisasi sastra lewat penerbitan yang memang mencari segmen pasar dan pembaca. “Keberhasilan” dunia penerbit membawa ke ranah-ranah tema sastra yang lebih luas. Betapa ketika masuk ke toko buku, betapa setiap hari muncul karya-karya yang sampai beragam. Bahkan kisah-kisah manusia termarginalkan pun terpublikasikan dalam sastra dan memiliki segmen pembeli (baca: pembaca sastra); seperti  karya Andrei Laksana lewat novel “Lelaki Terindah” (Gramedia Pustaka Utama,2010), dan gaya bahasa Andy Lotex dalam novel “Bila Hasrat telah Usai” (Perlambang Daya Cipta, 2007). Selain itu novel-novel berlatar Sejarah dan Legenda, seperti berlatar Sejarah Singasari danMajapahit, tokoh Pewayangan, sampai pada perjuangan Kelompok Etnis dalam Novel. Perkembangan selanjutnya kita dikejutkan dengan publikasi sastra novel berjudul Centhini yang dibesut ulang secara sastra kekinian oleh pengarang Perancis. Centhini yang nota bene produk sastra Jawa pada masa akhir abad-18 dan hampir tidak pernah dibaca oleh orang Indonesia bahkan orang Jawa sendiri, tiba-tiba menjadi bacaan yang ringan dan mudah dipahami dalam karya sastra novel.  Bahkan karya ini menjadi bahan diskusi di universitas-universitas Perancis. Proyek Centhini ini memang dibiayai oleh pemerintah Perancis. Kondisi ini seharusnya menjadi tempat berkaca kepada kita bahwa sebenarnya kearifan lokal, peninggalan tradisi tulis di masa silam, dan sumber-sumber folklorik menarik untuk dieksplorasi lagi kedalam produksi sastra Indonesia. Untuk itulah, sedang dicari sastra yang berpijak pada kearifan lokal.

Dimensi Kebudayaan: Sumber Inspirasi

Pada prinsipnya kebudayaan (baik produk maupun proses) mencakup nilai-nilai yaitu nilai cultural, norma dan hasil cipta manusia. Tiga dimensi kebudayaan sebagaimana telah dipahami bersama meliputi (1) dimensi kognitif atau budaya cipta, bersifat abstrak, berupa filsafat dan gagasan manusia, pengetahuan tentang hidup, pandangan hidup, dan wawasan kosmologik, (2) dimensi evaluative menyangkut nilai-nilai dan norma budaya, mengatur sikap dan perilaku manusia dalam berbudaya serta menghasilkan etika budaya, (3) dimensi simbolik budaya yang berupa interaksi sosial manusia serta symbol-simol yang digunakan dalam berbudaya. Kebudayaan adalah sebuah space (ruang) dan time (waktu) yang pada saatnya akan membentuk ekologi budaya melalui pengaruh-pengaruh seperti political space dan cultural agency. Proses-proses budaya menghasilkan sebuah kebijaksanaan-kebijaksanaan yang bernama Kearifan lokal.

Keragaman wilayah Indonesia (700 bahasa Daerah, 326 suku bangsa) menggambarkan sejumlah itu pula kearifan lokal yang dapat digali. Untuk itu bukan hal yang mustahil kalau sastra pun mampu menggali nila-nilai budaya untuk mewarnai isi penciptaan tidak saja dalam hal setting, melainkan pada sistem-sistem nilai yang menjadi bahan utama pengkisahan dalam karya sastra. Centhini sudah berhasil disajikan dalam bentuk kekinian oleh pengarang Perancis. Perlu digali lagi yang lain. Oleh sebab itulah pendekatan-pendekatan seperti : (a) pendekatan filologis, (b) pendekatan antropologis, (c) pendekatan etnografis, dan (d) pendekatan arkeologis, dan  (e) pendekatan historis dapat menjadi inspirasi penggalian nilai-nilai berkearifan lokal untuk produksi sastra di masa kekinian.

Secara filologis, ribuan naskah lama nusantara baik yang sudah dikaji, dalam proses , maupun yang  belum dikaji menyajikan kearifan lokal masa lalu untuk dihadirkan kembali dalam wujud sastra yang nyaman untuk dibaca. Karya-karya masa lalu yang anonym, informasi pengobatan, filsafat, kisah pewayangan, karya sufistik, sastra Babad, serat-serat, hikayat, perlu dikaji dan menjadi sumber inspirasi. Seperti naskah Pararaton, sebuah kisah epic Ken  Arok adalah sumber inspirasi nilai yang bersumber pada alam dan budaya Malang pada masa lalu yang dalam wujudnya sekarang menjadi ide bagi kehidupan bersastra. Pendekatan antropologis sebagaimana kepiawaian Ahmad Tohari dalam Novel Trilogi Ronggeng Dukuh  Paruk, Mangunwijaya dalam Burung-burung Manyar dan Balada Becak, Umar Kayam dalam Para Priyayi dan Jalan Menikung; dll. Pendekatan Etnografis, sebiah catatan kehidupan kesukubangsaan dalam sastra yang banyak berupa Kisah-kisah dalam sastra, seperti Calon Arang dalam versi Pamoedya dan Toeti Heraty, Sastra yang ditulis oleh pengarang Bali, dll. Pendekatan arkeologis, kisah berdasarkan peninggalan relief dalam candi yang memang berupa kisah terpahatkan, seperti kiah Garideya di Candi Kidal Malang yang dapat diambil nilai kecintaan anak kepada ibu menjadi sastra edukasi di masa sekarang, maupun relief candi Jago di Malang yang berkisah fable dan kehidupan di masa Singosari.  Sementara itu pendekatan historis yang banyak menginspirasi tema sastra. Nyai Wonokromo karya Mayon Soetrisno yang memang piawai dalam mengubah kisah berlatar Kolonial dalam sastra masa sekarang, Soeparto Broto, pengarang Jawa Timur yang berkisah sejarah baik dalam cerpen maupun novelnya dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

Upaya

  1. Peran kelompok dan komunitas sastra (di Malang) dalam mengeksplorasi, inveted tradition, dan pengkajian multidisipliner kearifan lokal, sumber-sumber budaya lokal sangat membantu tumbuhnya atmosfer kesastraan baik studi maupun produksi sangat positif untuk tumbuh kembang kehidupan sastra Indonesia di daerah.
  2. Revitalisasi ruang publik sebagai kantong-kantong budaya yang memungkinkan tumbuh kembangnya  kegiatan budaya dan apresiasi publik dlam habituasi kecintaan terhadap sastra.
  3. Sejalan dengan ekonomi kreatif, industry budaya seperti penerbitan lokal, sinergitas toko buku, pendiskusian sastra, dan perguruan tinggi sangat sinifikan dalam tumbuh kembang sastra Indonesia di daerah.
  4. Program  Sastra Masuk Sekolah perlu didukung dan perluasan akses penulisan kreatif sastra baik untuk siswa maupun umum.
  5. Pengkajian Folklore sebagai inspirasi bentuk dan isi karya sastra yang bernilai kearifan lokal dalam penciptaan karya sastra di daerah sebagai untuk diversitas Sastra Indonesia.
  6. Media Komunikasi Lokal seperti Radio dan Televisi adalah sarana yang efektif dalam membumikan folklore, sastra tulis, di daerah dalam rubric perbincangan atau kreatif program lain yang memungkinkan apresiasi masyarakat semakin intensif.

Daftar Bacaan

  1. Danandjaya, James. 2002. Folklore Indonesia. Jakarta: Grafiti.
  2. Endraswara,Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Folklor Konsep.Teori,Aplikasi. Yogyakarta: Medpress.
  3. Kutha Ratna, I Nyoman. 2004. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  4. Yosi Herfanda, Ahmadun. 2003. Sastra Kota.Bunga Rampai Esei Temu Sastra Jakarta 2003. Jakarta; DKJ.

 

(Arif Budi Wurianto, Tlassinurat, 19 Oktober 2012. Disampaikan pada acara Temu Sastra 2012 di Kota Malang, tanggal 20 Oktober 2012)

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas