Kearifan Lokal; Memadukan Tradisi dan Modernitas

dayak iban

“Masihkah di zaman modernitas saat ini tradisi harus dipertahankan serta nilai-nilai keislaman harus tunduk padanya?”

Akhir-akhir ini pergumulan antara islam, tradisi dan modernitas menjadi subyek perbincangan yang semakin ramai dikalangan kaum muslimin. Pergulatan diantara keduanya semakin menyita energi kalangan intelektual muslim untuk memecahkannya, terutama sejak otoritas islam sebagai kekuatan politik merosot tajam pada abad 18 . Namun hingga saat ini masih belum ada suatu konsep teoritik praktis baik dalam bentuk solusi maupun antisipasi mengenai persoalan islam  tadisi dan modernitas.

Ancaman dan Tantangan

Perjalanan sejarah pemikiran manusia yang kian mendialektika, kehidupan manusia didominasi oleh pemikiran menuntut  setiap agama  akan mengalami tantangan baru menuju perubahan. Bagaimana agama dituntut untuk memperkuat tradisi dan disisi lain agama juga dituntut untuk melakukan perubahan. Sengitnya perebutan ekspansi antara tradisi dan modernitas kerap kali disalahpahamkan oleh sebagian orang.

Disuatu sisi orang banyak berparadigma inklusif terhadap ajaran agama, lontaran dalil bid’ah, sesat (Dlalalah) acap diusung sebagai term keislaman kini. Gejala demikian yang kini termasuk ancaman dari puritanisme agama. Kecenderungan puritan dalam Islam seakan  telah menggusur tradisi-tradisi nenek moyang yang dipandang bertentangan dan merusak Islami murni, seperti ziarah kubur, sedekah bumi, tahlilan, selametan karena semuanya berbau sinkretik dan tidak bersumber dari ajaran Islam yang otentik.

Disamping ancaman puritanisme, kecenderungan warna-warni tesis penafsiran ajaran agama yang berstandar pada ukuran baik buruk telah mengakar sentimentalism agama. Sehingga wajar bila hingga saat ini Indonesia masih bertaraf pada perilaku radikal, teroris, dan fundamental. Semuanya tak lain adalah ancaman dan tantangan akan kegersangan spiritual dan hilangnya kearifan lokal bangsa.

Dominasi keadaban

Berbagai dimensi kehidupan manusia telah menggambarkan bagaimana kondisi islam, tradisi dan modernitas. Selain berdampak positif juga berdampak negatif. Karenanya harus ada ukuran-ukuran transedental untuk melahirkan síntesis yang membuat masyarakat terus bergerak kearah kehidupan yang berkeadaban. Begitu pula, puritanisme síntesis yang dilahirkan dari tesis modern perlu mempertimbangkan kearifan lokal agar masyarakat madani yang tetap bergerak maju. Menyadari pentingnya kearifan lokal, untuk itu sudah sepatutnya tugas kita saat ini ialah menemukan dan memfungsikannya guna mengembangkan kehidupan masyarakat yang berkeadaban.Wallahu a’lam bisshowab….

sumber: www.rimanews.com/read/20121227/86287/kearifan-lokal-memadukan-tradisi-dan-modernitas

Oleh: Nursodik
Mahasiswa CSS MoRA IAIN Walisongo Semarang. Pengelola Rumah Baca Pes Ma Al Firdaus Semarang

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas