Mengenal Etnis Lain Melalui Novel

Manusia LangittIndonesia memiliki keragaman suku bangsa, adat sitiadat, keanekaragaman lainnya. Turunan kembali dari suku juga ada sub suku yang tidak mau disamakan dengan sub suku lainnya. Jika dihitung-hitung akan banyak sekali keragaman etnis dan budaya yang harus dipelajari untuk mengenal negara kita sendiri. Namun, akan terasa membosankan jika disajikan dengan monoton seperti pelajaran-pelajaran Antropologi atau pelajaran mengenai berbgaia suku di Indonesia.

Manusia langit adalah salah satu novel etnografis yang mengambil latar belakang kehidupan di daerah Nias tepatnya di Banuaha. Sama seperti novel biasanya mengisahkan sesuatu tapi dengan unsur etnis Banuaha. Cerita yang ditulis tidak hanya berkisar dalam kehidupan di Banuaha tapi juga dikaitkan dengan kisah cinta dan kehidupan Mahendra, seorang arkeolog muda dari Tanah Jawa. Dalam cerita tersebut digambarkan bagaimana tradisi-tradisi yang ada di Banuaha, mulai dari kematian, pernikahan dan acara-acara adat lainnya yang menggunakan babi dan hewan ternak lainnya sebagai bentuk persembahan dan jamuan makan bagi tamu.

Mahendra seorang akademisi dari salah satu universitas di Pulau Jawa, pergi ke Kampung Banuaha dengan alasan topeng melakukan penelitian arkeologis disana, namun sebenernya ia memilih ke Kampung Banuaha karena ingin lari dari masalah pribadinya. Di Kampung Banuaha, ia tinggal bersama dengan keluarga Ama Budi, yang menjadi salah satu tetua adat di daerah tersebut. Ia memilih Banuaha karena diyakini tempat tersebut adalah tempat pertama kalinya turun para manusia langit yang menjadi penduduk awal Banuaha, para nenek moyang suku Banuaha itu sendiri.

Suatu hari, ia menemukan periuk bayi dalam suatu penggalian bersama Sayani, anak kedua Ama Budi. Periuk tersebut berhubungan dengan kebiasaan zaman dulu penduduk Banuaha tentang matinya bayi-bayi. Mahendra tidak menelan bulat-bulat informasi mengenai kematian para bayi yang rohnya diambil oleh roh-roh jahat. Dari analisisnya diperkirakan para bayi mati karena dibunuh oleh keluarganya sendiri karena takut tidak dapat menghidupi anak dan keluarga akibat adanya anggota keluarga baru. Secara hati-hati ia mengkonfirmasikan hal tersebut kepada Ama Budi.

Ama Budi memang seorang tetua adat disana, tapi pemikiranya sudah terbuka. Ia juga bisa berbahasa Indonesia walaupun dalam cerita, dialeknya masih kental denganNias. Setelah dikonfirmasi perihal periuk oleh Mahendra, Ama Budi bercerita tentang mitos-mitos yang berkembang di Banuaha. Tidak hanya mitos, hampir setiap malam Ama Budi lebih banyak bercerita tentang kehidupan di Banuaha termasuk adat-adat yang bagi dia sendiri sangat memberatkan. Tidak hanya cerita, tapi Ama Budi juga sering memberikan petuah-petuah kepada Mahendra.

Selain sisi etnografisnya, novel ini di beberapa bagian menonjolkan unsur cinta. Mahendra yang tiba-tiba teringat dengan mantan kekasinya yang seorang mahasiswinya sendiri di kampus dikaitkan dengan mitos yang berkembang di Banuaha. Dalam perjalannya di Banuaha juga, ia kembali jatuh cinta dengan seorang gadis disana. Namun, untuk mendapatkannya ia harus membayar sesuai dengan adat Banuaha untuk mendapatkan gadis tersebut.

Walaupun penulis merupakan seorang arkeolog, novel etnografis ini bagi saya lebih menonjolkan sisi antropologisnya daripada arkeologis karena hanya sedikit yang dikisahkan tentang penemuan benda zaman dulu oleh Mahendra. Penceritaan penemuan lebih dikisahkan diawal, tapi itu juga banyak bumbu antropologi. Di cerita antropologi lainnya, ia menceritakan benar-benar kehidupan dan peraturan adat lainnya di Banuaha yang mengakibatkan beberapa orang yang memilih keluar dari daerah tersebut untuk melakukan apa yang ia inginkan seperti. Sayangnya, beberapa istilah Nias dipaparkan di akhir cerita sehingga membuat pembaca harus membolak-balik kembali bagian yang sedang dibaca dengan daftar istilah. Terkadang saya bisa memahami istilah tersebut karena membaca bagian selanjutnya. Melalui novel ini, pembaca benar-benar dibawa ke dalam kehidupan di Pulau Nias tepatnya di Kampung Banuaha.

Judul buku : Manusia Langit
Penulis: J. A. Sonjaya
Penerbit: Penerbit Buku Kompas PT. Kompas Media Nusantara

sumber: kompasiana.com

Oleh: Rae Sita Michel Hutapea
Menyukai masalah sosial, budaya dan seni http://raschelrae.blogspot.com http://raschelrae.tumblr.com

  1. re

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai indonesia.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetaui lebih jauh mengenai indonesia.Saya juga mempunyai artikel yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di Indonesia Gunadarma

    Balas

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas