Resensi Novel Gandamayu: “Membaca Refleksitas Kehidupan Manusia dari Sebuah Mitologi”

Di Setra Gandamayu, dewi tercantik se-Kahyangan itu menjalani kutukannya.

gandamayuTerkisahlah Dewi Uma, bidadari tercantik di negeri para dewa yang harus meringkuk dalam kuntuk suaminya sendiri Dewa Siwa. Beliau dibuang ke sebuah Setra (makam) angker bernama Setra Gandamayu. Di tanah kelam penuh bau anyir itu, beliau tak lagi mengenakan atribut kedewataannya yang kaya welas asih. Oleh belahan jiwanya, Dewa Siwa mengutuk dirinya menjadi seorang raksasa yang bergelar ratu penguasa Setra Gandamayu. Ia menjadi wanita paling ditakuti sejagat raya, bahkan bagi seorang dewa sekalipun. Ia adalah penguasa tertinggi dari segala Ilmu Hitam. Kini, beliau adalah Sang Dewi Durga.

Ironisnya, kutukan pahit yang diterima Dewi Uma itu sendiri lantaran sebentuk pengabdiannya yang salah di mata suaminya, Dewa Siwa. Dari sudut terlugu seorang istri, Dewi Uma telah mengerahkan segala cara untuk menyembuhkan Dewa Siwa dari sakit kerasnya. Bahkan dengan mengorbankan kesuciannya sekalipun di tangan seorang manusia yang tamak. Dewi Uma rela melakukannya demi mendapat obat kesembuhan untuk suami tercinta, Dewa Siwa. Ternyata seluruh pengabdian Dewi Uma belum cukup di mata Dewa Siwa, bahkan tak bernilai. Mirisnya Dewi Uma tengah berada dalam sebuah permainan untuk ujia kesetiaan seorang istri terhadap suaminya.

Intrik unik inilah yang kemudian digulirkan oleh Putu Fajar Arcana dalam novel teranyarnya bertajuk Gandamayu. Bahkan persoalan gender pun tak hanya menjadi urusan umat feminis di Bumi, dewi-dewi di negeri Kahyangan juga mengalami kegelisahan serupa. Putu mencoba mengambil perspektif kisah Dewi Uma atau Dewi Durga untuk mengaitkan persoalan kaum wanita yang pada umumnya berkutat pada ketidakberdayaan atas dominasi maskulinitas.

Segala persepsi feminisme yang ingin dicetuskan Putu pun begitu lugasnya mencuat dari sudut pandang Dewi Uma. Tak bisa dipungkiri, ketika seorang penulis pria menyoalkan isu perempuan, terkadang ada jalinan emosional dan sensitivitas yang tak sepenuhnya tersampaikan tinimbang dengan penggalian tutur seorang penulis wanita. Menariknya, Gandamayu tak melulu mengisahkan jalan elegi dari kaum wanita. Kisah Dewi Uma hanyalah sebuah pelatuk yang selanjutnya mengarah pada sepenggal kisah peperangan epik Mahabharata antara Panca Pandawa dan Seratus Korawa.

Putu Fajar Arcana menerjemahkan esensi Gandamayu sebagai sebuah mitologi hidup yang tumbuh mengakar dalam keseharian umat manusia. Dualisme ikatan itu pun diramunya menjadi satu paket cerita yang menyertakan kisah pewayangan dan realita kehidupan manusia di dalamnya. Putu pun menciptakan karakter petani sekaligus penembang dalam novel ini untuk bertindak sebagai pendongeng ulung yang mampu menghubungkan refleksi mitologi terhadap nilai-nilai kekinian masyarakat kita.

Putu Fajar Arcana tak sedang menyalin sebuah kitab mitologi, namun ia tengah memburu refleksitas dari kepercayaan masyarakat yang tumbuh berabad-abad itu.

Judul Buku: Gandamayu
Penulis: Putu Fajar Arcana
Genre: Fiksi
Penerbit: Penerbit Buku Kompas

sumber: kompasiana

Oleh: A.a Gd Ngurah Putra Adnyana
Seorang bloger yang kecanduan film, musik, dan penulis sajak galau termanis

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas