Sastrawan Sebagai Pencuri: Tanggapan Untuk Penyair Sitok Srengenge

Kian Santang NoteDalam sebuah ceramah T.S. Eliot tentang Kebudayaan Eropa (dalam buku The Idea of Christian Society) dibabarkan tentang generasi emas sastra Eropa, yang ternyata beroleh energi vitalnya justru ketika masuk dan merembesnya pengaruh dari kebudayaan-kebudayaan (sastra) luar, diantaranya dari Cina dan Jepang. Kita ingat gerakan simbolisme yang diusung Ezra Pound setelah dia menerjemahkan sajak-sajak klasik Cina. Lalu dalam esai “Tradition and the Individual Talent” Eliot juga mendedahkan bahwa setiap penulis harus menemukan (dan menciptakan) tradisinya sendiri, atau berada dalam satu tradisi yang melingkupinya. Harold Bloom, kritikus sastra Amerika yang mengeditori 450 buku sastra, dalam The anxiety of Influence, mempertajam apa yang diwedarkan Eliot, yakni tentang pengaruh karya-karya sastra terdahulu terhadap para sastrawan yang menulis sesudahnya dan bagaimana perjuangan para sastrawan menemukan suaranya sendiri. Dari itu saja sudah jelas agaknya, pentingnya kita membandingkan satu karya dengan karya lainnya. Baiklah saya ambil sedikit lagi contoh dari khazanah sastra Amerika Latin: suatu kali Neruda membaca Walt Whitman, dan sejak itu dia bertekad untuk berkarya menyamai Walt Whitman, dan hasilnya kita tahu sendiri. Demikian juga Paz, yang pada suatu masa begitu terpesona oleh T.S. Eliot, dan kemudian mengambil ruh dan teknik Eliot sebagai titik tolak karyanya, kelak bahkan karya monumental dia “Blanco” sering dibandingkan dan dianggap sejajar dengan karya monumental T.S. Eliot “The Waste Land“. Dalam esai saya tentang Realisme Magis (di Jurnal Cerpen) saya menjelaskan dengan cukup mendetail bagaimana saling pengaruh mempengaruhi itu terjadi, bahkan antara seni rupa dan sastra. Untuk dikatakan secara terus terang: para sastrawan itu mencuri dari sastra dan budaya lain namun kemudian menjadikan barang curian itu sebagai¬† pijakan untuk karya-karyanya. Dia tak semata meniru. Dia mengolahnya, menyimpangkannya, membalikan dan memunggunginya, sampai kemudian menemukan suaranya sendiri. Dalam proses itu salah baca kadang bagian lain dari kreativitas. Alhasil para sastrawan pencuri itu, dengan demikian, membayar lunas hasil curiannya dengan karyanya sendiri. Marquez berhutang budi pada Faulkner, tapi membayarnya dengan lunas lewat Seratus Tahun Kesunyian.

Mari kita lihat kasus sastra indonesia.

Bukankah bapak puisi modern indonesia, Chairil Anwar, juga seorang pencuri juga? (Rilke, Auden, Slaurhoff, adalah sastrawan-sastrawan yang karyanya dicuri Chairil),  lalu Rendra (mencuri Lorca), Sitor (mencuri Pound dan Rimbaud), Sapardi (Eliot), GM (Dickinson), Pram (Steinback, Gorky), Abdul Hadi (Rumi), sampai Eka Kurniawan ( Marquez), dan seterusnya, dan selanjutnya, bila ada yang pencuriannya tidak terlacak dalam khazanah sastra dunia, maka mungkin mesti ditengok ke khazanah sastra daerah atau budaya lisan.

Dengan memberi contoh tradisi kritik sastra bandingan (di Indonesia, untuk kritik puisi,¬† baca karya Soebagio Sastrowardoyo dalam “Sosok Pribadi dalam Sajak” dan untuk novel bisa dibaca karya Faruk Ht tentang “Novel Postkolonial Indonesia“) serta menunjukan secara langsung, walaupun ringkas, saling pengaruh antar sastrawan dan karya-karyanya mudah-mudahan menjadi jelas kenapa saya sering membandingkan satu karya dengan karya lainnya (misal dalam esai panjang saya tentang Afrizal, yang bahkan membandingkan karya Afrizal dengan seni rupa Warhol), tetapi kadang saya mencari ke khazanah budaya lokal pengarangnya sendiri (seperti esai saya tentang Iman Budi Santoso). Dengan itu, saya merasa, berada dalam satu tradisi panjang yang sudah saya bentangkan di atas. Tentu saja ini hanya satu pendekatan terhadap sastra, banyak juga pendekatan lainnya, yg juga tak kalah menarik.

Catatan: NOTE ini sebagai tanggapan tambahan atas pertanyaan penyair Sitok Srengenge: kenapa membandingkan satu karya dengan karya lainnya, kenapa tidak karya itu saja yang dibahas? Karena ditulis spontan, saya mohon maaf kalau tak melengkapinya dengan referensi. Mungkin lain kali kalau berminat menjadikannya esai, saya akan sempunakan dan perluas gagasan-gagasan dalam note sederhana ini.

sumber: facebook/notes/kian.santang

Oleh: Kian Santang

4 Komentar Pembaca

  1. Saut Situmorang

    Pertama: Nama penyair Amerika-Inggris yang menulis buku “The Idea of Christian Society”, esei berjudul “Tradition and the Individual Talent” dan sajak panjang “The Waste Land” itu adalah TS Eliot [dengan satu "l"], bukan TS Elliot, dengan dua “l”.

    Kedua: Penyair Amerika Ezra Pound (bukan Ezra Pond!) TIDAK pernah mengusung gerakan (sastra) bernama Simbolisme! Simbolisme sudah lama ada dan bahkan mazhab itulah yang hendak dilawan Ezra Pound dkk waktu mereka menciptakan gerakan sastra bernama “Imagism” di Inggris. Gerakan Imajisme ini memang sangat dipengaruhi oleh estetika minimalis puisi klasik Cina dan Haiku Jepang. Ezra Pound jugak terlibat dalam penciptaan gerakan seni avant-garde lainnya di Inggris awal abad 20 yaitu Vorticism dengan majalahnya yang terkenal BLAST. Simbolisme dalam dunia sastra selalu dianggap dimulai oleh penyair dandy Prancis, Charles Baudelaire, yang sangat dipengaruhi oleh penyair-cerpenis gendheng Amerika, Edgar Allan Poe.

    Ketiga: TS Eliot sangat terkenal dengan pernyataannya: “Immature poets imitate; mature poets steal”.

    Keempat: Kok tulisan di atas terasa kayak punya relasi intertekstual dengan esei di bawah ini ya? Apa intertekstualitas ini jugak termasuk dalam konteks “immature-mature” seperti dalam kutipan pernyataan Eliot di atas?

    http://boemipoetra.wordpress.com/2011/10/18/tradisi-dan-bakat-individu/

    Kelima: Tentang “Sitok Srengenge”; lha, emangnya TUK tau apa seh?! :)

    Balas
  2. Redaksi Indonesia Sastra

    @Saut Situmorang
    Terima kasih banyak Bang Saut atas koreksi dan juga paparan serta tanggapan dari tulisan di atas. Melalui diskusi semacam ini, semoga yang muda-muda, yang serius belajar sastra bisa banyak belajar.
    Semoga penulisnya berkenan mampir untuk memberikan umpan balik atas tanggapan bang Saut ini.
    Nuwun

    Balas
  3. Danu Saputra

    Pertama: Bagaimana proses editorial tulisan-tulisan dalam situsweb ini? Sebagai situsweb yang menggunakan kata “Indonesia” dan “sastra”, penulisan kata ulang yang menggunakan angka “2″ seakan menunjukkan kemalasan pengelola situsweb. Bahkan sudah berhari-hari sejak Bang Saut meberikan koreksi tetapi tidak ada pengubahan dalam tulisan di atas atau paling tidak tanggapan yang menjawab koreksi dari Bang Saut.

    Kedua: Saya pikir Sitok Srengenge bukanlah orang yang buta tentang intertekstual, pernyataan yang disampaikan oleh Sitok Srengenge seperti apa yang ditulis dalam “catatan” dalam tulisan di atas semestinya tidak layak untuk dibahas melalui tulisan di atas. Apa yang saya tangkap dari tulisan di atas hanya semacam kesombongan diri penulis yang menempatkan Sitok Srengenge sebagai orang yang tidak paham konsep intertekstual. Sesungguhnya saya mengharapkan pembahasan yang jauh dari pernyataan Sitok Srengenge, pembahasan pada pemaknaan lapis kedua bahkan lapis ketiga.

    Balas
    1. Redaksi Indonesia Sastra

      @Danu Saputra
      Sebelumnya, kami menyampaikan terima kasih banyak kepada Mas Danu yang telah sudi mengunjungi website kami.
      Yang pertama: memang kami mengunggah tulisan di atas sesuai dengan aslinya (dari sumbernya), namun kami sangat berterima kasih kepada Mas Danu yang telah mengingatkan kembali dan kami akan segera memperbaikinya. Mohon maaf atas kelalaian dan keterlambatan kami.

      Yang kedua: mengenai pembahasan yang dimaksud, sebenarnya mungkin telah disinggung secara panjang lebar dalam beberapa komentar yang ada di link sumber dari tulisan ini yang telah juga dicantumkan di atas. Semoga Mas Danu berkenan untuk mengunjunginya.

      Sekali lagi kami menyampaikan terima kasih banyak atas perhatian Mas Danu pada web kami. Dengan adanya kritik serta saran dari para pembaca seperti Mas Danu ini, akan sangat mendorong kami untuk selalu berbenah diri.
      Salam,

      Balas

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas