Kepiting yang Mencari Surga

foto ilustrasi: indonesiasastra.org/dvd

foto ilustrasi: indonesiasastra.org/dvd

Nasib buih di lautan tak kentara ketika malam, setia menyapa pasir dan angin bersama gelombang. Di pulau kecil tak berpenghuni, ada cerita yang tak diketahui. Hanya terbaca cahaya bulan dalam malam temaram.  Ini kisah tentang kepiting kecil bercapit satu yang bertanya perihal surga.

Kepiting kecil bercapit satu gundah dengan sebuah tanya. Ia mencoba mencari jawab pada bintang yang jauh, asing tak dikenalnya. Tak ada jawab.

Ia berpaling pada karang. Karang membisu kokoh tak bergeming tanpa juga bicara. “Apakah karang ini sudah tuli karena terlalu sering dihempas keras ombak saban hari?” Tanyanya dalam hati.

Mulai kecewa, kepiting kecil bercapit satu berjalan miring mencari jawab pada belantara. Di belantara tak ada yang menyapanya,  apa lagi tempat untuk bertanya. Akhirnya, kecewa habis pada puncaknya. Ia memutuskan duduk sendiri dalam sepi, berpikir mencari jawab atas tanyanya.

Sambil merenung, ia bersenandung. Lagu sorak merayakan ombak yang tiada pernah berhenti menghampiri pantai. Lagu gembira satu-satunya yang ia tahu dari ibu, diajarkan kepadanya sebelum ibu dan seluruh keluarganya pergi entah ke mana. Yang ia tahu, ia tiba-tiba sudah sendiri pada suatu pagi.

Sebelum lagu usai, ia berhenti. Kepiting bercapit satu telah memutuskan bahwa ia menemukan jawaban pasti tentang surga yang dicari. “Surga yang kucari sudah ketemu!” Teriaknya dalam hati. Ia memutuskan memberi jawaban atas tanyanya sendiri .

Iya, pada capitnya yang tinggal satu.
Iya, surga itu ada hanya ada pada dan oleh dirinya sendiri.

Oleh: Sura Dananjaya

Tags: 

16 Kome