“TENGGELAM” dalam Tafsir Heryus Saputro

TENGGELAM

Aku tenggelam
Di sungai matamu
Yang mengalir
Dan menyeretku
Sampai ke hilir tangis

12.03.12

Hal pertama yang menggelitik saya saat  membaca puisi bertanggal 12.03.12 ini, adalah cara Hardia Rayya menulis (atau mengetik) puisi lima baris ini, di mana  tiap baris (hanya) terdiri antara dua hingga empat kata (dan seluruh isinya hanya mencakup tigabelas kata), dan tiap baris itu selalu  dimulai dengan HURUF BESAR.

Apa ini sekadar efek templete dari sistem rekam komputer, atau kesengajaan? Kalau memang efek templete, karena berdasar berkas yang saya terima (dari Abah Yoyok) semua puisinya ternyata ditulis/diketik dengan cara itu, berarti ini cuma masalah teknis yang bisa diabaikan. Tapi bagaimana bila cara penulisan awal  tiap baris dengan huruf besar ini memang sebuah kesengajaan, sebagaimana umumnya kecenderungan  menulis puisi yang kadang menabrak kaidah tata bahasa?

Bila memang ini sebuah kesengajaan, maka lima baris kata-kata  dalam puisi “Tenggelam” ini sekaligus juga merupakan 5 (lima) buah kalimat pendek, yang satu sama lain saling terkait membentuk performa sebuah puisi. Kalaulah benar bahwa tiap baris  sekaligus juga merupakan sebuah kalimat, yang satu sama lain runtut dengan kalimat  berikutnya, maka…kira-kira…apa ya… maksud tersirat yang hendak diungkap Penyair Hardia? Coba perhatikan kalimat-kalimat pendek  ini satu-satu: Aku tenggelam/Di sungai matamu/ Yang mengalir/Menyeretku/Sampai ke hilir tangis. Terus terang, cukup repot saya menyimpulkan makna tersirat dari kalimat cut to cut seperti itu. Karena bila dipertela satu-satu, ada kalimat tak lengkap sebagaimana lazimnya sebuah kalimat, membuat kening berkerut untuk menyibak maksudnya.

Tapi, baiklah! Kita lupakan prasangka soal ‘kesengajaan’ penulisan huruf besar sebagai awal kalimat ini. Karena, terlepas dari penulisan huruf besar di tiap awal kalimat tadi, yang barangkali memang hanya sekadar templete, keseluruhan isi (kalimat demi kalimat yang bila disambung menjadi) puisi ini menarik untuk diutak-atik dan disimak. Dengan melupakan penggunaan huruf-huruf besar di awal kalimat kedua dan seterusnya, puisi ini menarik: ringkas, lumayan padat dan (ini yang merangsang minat saya) berpeluang untuk di-multitafsir-kan.

Menurut saya, Penyair Hardia lumayan pintar memilih kata yang dirakit atau dianyam menjadi puisi ini. Banyak pilihan kata  yang dihadirkannya itu yang tak sekadar kata dalam arti harfiah dan baku, tapi juga (sesungguhnya) merupakan majas atau kias, ataupun idiom klausa, dari sebentuk fenomena atau kejadian lain yang ia rasakan.

Kata demi kata yang sambung-menyambung, dijahit si penyair menjadi kalimat-kalimat pendek yang lumayan bernas, yang tiap kalimat mampu menguarkan metafora tertentu, setidaknya dalam fantasi artistik diri saya. Kalimat-kalimat pendek yang bukan sekadar berita atau uraian sebuah news, melainkan kalimat-kalimat pendek yang lentur, plastis, dengan kandungan unsur puitika di dalamnya, dan…terbuka untuk ditafsirkan.

Sila simak kata demi kata ini: “tenggelam”, “sungai”, “mata”mu, “mengalir”, “menyeret”ku, “hilir”, “tangis”. Ada nilai-nilai lain dari kata-kata tersebut selain arti bakunya bahasa Indonesia. Ada majas, kias, yang dalam bentuk rangkai kalimat seperti mengajak kita untuk masuk kedalam situasi kejiwaan si aku-liris yang tengah berada dalam situasi tenggelam (di) sungai mata(mu) (Yang) mengalir (Dan) menyeret(si a)ku (penyair) (sampai ke) hilir tangis.

Indah dan menggetarkan rasa!

Pertanyaan elementer yang kemudian muncul di benak saya adalah: “Lagi ngapain ya, Si Hardia, saat kemudian menulis puisi ini?” Perasaan  atau situasi psiko-klinis macam mana yang mengkungkung diri si aku-liris saat itu? Apa bukan tidak mungkin kalau sebenarnya Hardia si aku-lirik, sebagaimana bunyi kalimat dalam puisi itu,  memang sebenar-benarnya sedang berhadapan dengan sesosok orang lain (pacarnya barangkali), yang sedang menangis tersedu-sedu, sebagai bentuk unjuk rasa untuk menuntut sebuah tanggung jawab dari si Hardia. Barangkali saja,  saking tersedu-sedunya si sosok penting dan pribadi itu menangis, si aku lirik yang “juga manusia, punya hati dan perasaan”,  ikut hanyut bahkan ‘tenggelam’ di ‘sungai airmata’nya yang (seperti tak putus-putus) mengalir  dan (bahkan) menyeret (si aku lirik) sampai ke hilir tangis tersebut.

Begitukah kejadian sesungguhnya yang menjadi trigger atau picu ledak tergubahnya puisi ini? Persisnya, pasti, hanya Penyair Hardia Rayya anak Balaraja itu yang tahu. Tapi bila itu yang terjadi, maka puisi Tenggelam di atas, menurut saya sekadar berhenti hanya sebagai sebuah puisi romantis yang tak punya makna lain, apalagi sampai membuka peluang orang untuk memberi tafsir lain.

Tapi sungguh seperti itu, kah? Menurut saya tidak. Menyair, mengubah syair, merupakan proses kerja kreatif dari seseorang yang coba mengungkap apa yang dirasakan, dilihat dan didengarnya, ke dalam bentuk kesimpulan bernama puisi atau sajak. Dalam upaya menyimpulkan sekian bentuk kejadian (yang dirasa, dilihat dan didengar-nya) itu, ia coba mencari simpul-simpul pikiran yang tepat, mencari idiom-idiom makna yang pas, mencari kata-kata metaforis, yang dirasa cocok untuk dirangkai menjadi kalimat atau ungkap puitik.

Seberapa mampu atau seberapa bisa seseorang ‘menemukan’ idiom-idiom atau kata untuk ‘menyimpan’ metafora puitika yang ia inginkan? Semua amat sangat tergantung pada wawasan ataupun ufuk pandang seseorang (calon penyair) dalam memahami khasanah sastra (baca: puisi). Dan pen-cahar-ian ini tak ada kaitannya dengan umur ataupun jam terbang seseorang dalam menggeluti puisi. Ada banyak contoh orang (mengaku) bersyair sejak lama dan usianya tak lagi terbilang muda, tapi apa yang tulisnya lebih banyak sekadar catatan kata-kata  yang tak menarik untuk direnungkan.

Tapi ada juga (banyak) orang muda yang (karena) merasa menulis puisi itu mudah, (karena) bentuknya simpel (dibanding bentuk-bentuk penulisan sastra  lainnya), serta-merta menuliskan apa-apa yang dirasakannya ke bentuk (format) yang difahaminya sebagai puisi. Lalu dengan lewat kemudahan jaringan komunikasi zaman ini, segeralah karya-karya itu diFBkan. Ber’puisi-puisi’, berbilang-bilang, berlembar-lembar, berhari-hari, bahkan juga dibukukan, diantologikan.

Saya setuju bahwa tak ada karya yang tak bermanfaat. Itu betul! Semua orang juga faham itu. Saya juga sependapat bahwa semangat  ataupun gairah bersastra (puisi) seperti ini, di FB atau di manapun, merupakan hal baik, tak boleh dimatikan, tapi harus terus dikembangkan. Cuma masalahnya, seberapa banyak karya-karya (katanya) puisi di atas bermanfaat bagi dunia perpuisian ataupun dunia kepenyairan, khususnya di Indonesia, lebih khusus lagi untuk diri si pembuat karya? Karena begitu banyak karya yang cenderung cuma sebagai ‘sampah’ untuk kemudian dilupakan orang. Semua ini, menurut saya, berpangkal dari ketidakmampuan orang seorang dalam memilih idiom kata sebagai simpul bentuk ujud karya (puisi)nya.

Nah…! Balik ke ‘kasus penyair’ Hardia Rayya, saya percaya…anak muda satu ini tak termasuk bagian dari dua contoh ‘penyair’ di atas. Dalam rentang masa kepenulisan (puisi) yang rasanya terbilang baru, paling tidak…saya ‘ngeh karya-karyanya baru di ‘zaman FB’, Hardia sudah menampakkan kemahirannya dalam memilih idiom kata yang bermakna lebih dari sekadar kata, untuk menjahit kalimat-kalimat dalam puisinya.

Ada berbelas karya puisinya yang saya terima dari Abah Yoyok. (Si Abah bilang, “Sebetulnya puisinya ngebadeg. Banyak. Tapi, ya gitu deh…banyak sampahnya! Dan ini kukirim…nyang rada mendingan…!) Itu kata si Abah, lho! Dan betul! Puisi-puisi penyair Hardia yang saya terima memang rada mendingan. Ungkapan-ungkapannya banyak yang menarik dan menggelitik untuk disimak. Dan itu tadi: pilihan katanya sering tak sekadar kata dalam arti baku. Pilihan kata-katanya banyak yang punya persfektif lebih untuk ditafsirkan. Satu dari puisinya yang menarik, ya…”Tenggelam” yang tengah kita ‘hancurkan’ ini. Coba dengar kalimat pertamanya: Aku tenggelam

Secara bahasa, kalimat itu menjelaskan bahwa si aku-liris tengah dalam keadaan atau situasi tenggelam. Tenggelam dimana? Di kolam? Di setu? Di laut? Di sungai matamu, ungkap Hardia lewat baris kedua. Ya, si aku (liris) tenggelam di sungai matamu. Sungai matamu? Apakah matamu itu sebuah sungai yang mampu membuat si aku liris tenggelam?

Di sinilah menariknya kalimat (kalimat) puitik yang diungkap Hardia Rayya. Ia sudah berhasil memilih idiom-idiom kata yang ketika dirakit menjadi kalimat, mampu mengundang pembacanya untuk mencari tafsir lain dari sekadar arti harfiah kalimat tersebut. Aku tenggelam/Di sungai matamu/ Yang mengalir/Dan menyeretku/Sampai ke hilir tangis. Sebuah rangkaian kalimat yang mengalir, dan membuka ruang diskusi untuk ditafsirkan oleh siapapun yang membacanya.

Sejujurnya, puisi ini menarik. Kita bisa berfantasi secara artistik di banyak kata yang menyiratkan ragam arti. Kita bisa berfantasi bahwa kata sungai matamu sebagai ‘aliran kepedihan’ di obyek penderita yang disebut si aku-liris sebagai ‘mu’. ‘mu’ disini pun bisa berarti manusia, atau wanita, atau pacar dari si aku-liris, tapi bisa juga ‘mu’ sesungguhnya kata ganti dari sebuat tempat atau sebuah persoalan atau sebuah ‘nama diri’ yang lebih luas dan besar dari sekadar ‘pacar’ si aku liris. Bukan tidak mungkin, dalam penafsiran saya, ‘mu’ adalah kata ganti diri dari INDONESIA yang sedang sakit, merintih pedih dan ‘menangis’ bagai ‘sungai’ ‘Yang Mengalir’Dan menyeret’ si aku liris, menjadikannya ‘tenggelam’ ‘Sampai ke hilir tangis’. Sungguh sebuah puisi yang terbuka untuk ditafsirkan!

Tapi, menurut saya, kalimat-kalimat puisi Tenggelam ini belum ditulis dengan mantab. Masih ada kata yang kalaupun dibuang tak kan mengurangi arti, bahkan rasanya akan lebih taktis. Artinya, kalaulah saya yang menemukan suasana puitis seperti ini, barangkali saya akan menggubahnya lewat ungkapan: …yang mengalir/menyeret/ke (h)ilir/tangis. Persisnya, kalaulah saya menjadi Hardia Rayya, puisi “Tenggelam” itu akan tergubah seperti ini:

Aku tenggelam
di sungai matamu
mengalir
menyeret
sampai ke hilir
tangis.

Tapi, apapun, hak penyair buat mengungkap dan menuliskan apa-apa yang ditasakan, didengar dan dilihat…sebagaimana ia ingin menulisnya, sesuai pemahamannya tentang rasa bahasa, cara menggunakan pungtuasi dan lainnya menyangkut ke-tatabahasa-an. Dan barangkali…itulah yang membedakan seorang Hardia Rayya dengan Heryus Saputro.

Pamulang, 24 Maret 2013

Bahan diskusi bedah sastra Bengkel Sastra Cisauk 24 Maret 2013

Oleh: Heryus Saputro

Tags: ,

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas