Tirai Abu – Abu

Kopi cethe on paper. Karya: Sawir Wirastho

Kopi cethe on paper. Karya: Sawir Wirastho. 2013

I
[Sosok kaku, wajah terpaku pada sebuah jambangan yang bergolak]
Sayup dan samar tertindih desah angin:

Apakah hidup sekedar perlombaan adalah berkhianat, jika aku menyeretnya dalam jerat kompetisi dengan parameter subjektifitas. Tapi jika itu hanya pilihan yang ada, maka; hasrat itu akan ku biarkan terus mengembara.

[Di bawah bayang – bayang galau, suram merah meretas terang bergelayut mega-mega kedukaan]
Sebuah gumam menyibak tabir:
Nafas terberat selalu kuhirup, dan kulepaskan saat derita terlanjur kutuliskan di telapak tanganku, Kepasrahan selalu mengajarkan kekalahan, sebab hidup tak semudah melepas pakaian.

II
[Kerut masam bergayut, mozaik derita terukir pada papan-papan kehidupan]
Sebuah sosok terjerembab pada image-image kedengkian. Lentera berkerejapan. Sisi-sisi ruang diguncang belaian tangan-tangan merah sang bayu :
Jangan pernah mengusik dunia anak–anak, sebab hanya dunia itulah yang masih menyisakan keindahan. Tak peduli kegaduhan atau angkara, hanya senandung kasih penghiasnya.
Seperti biasa, hidup berangkat dari pagi. Siapa menunggu – ditunggu siapa; mencari seseorang yang menggigil dibalut mimpimi-mpi tentang kesunyian. Tercekam kelam mega-mega kedukaan. Berlari ia kebalik sisi hidup yang tersamarkan kemunafikan.
Tak terbacanya ayat-ayat suci, tentang malaikat atau hamba, menjadikan kapastian malam merambat di lehermu. Sedetik – dan sedetik mutlak, nafas menyayat jantung.

III
[Seseorang terperangkap wajah dusta]
Semburat ungu membalik realitas menyeret pada kegalauan, sebuah kepribadian terperangkap sudut kenistaan :

Seutas senyum diantara kepalsuan, letih; tapi harus dan terus berjalan ___ menuju sepi, hampa dan nelangsa. Terenggut pada kisah wajah fatamorgana. Mozaik sengsara diantara gelak-tawa fragmen hasrat gila.
Jadikanlah diri kita lebih berharga dengan memberikan ruang dan lentera, agar misteri dan tabir yang terlihat kelam itu dapat kita pahami. Atau setidaknya marilah kita tempatkan nada-nada atau kata dalam sajak ceria pada cerita kesedihan dan kesendirian ini. Dari pada kita duduk terdiam menonton pertunjukan tentang kebodohan, berharap akan datangnya momentum tersibaknya tabir abu-abu kehidupan.

IV
[Tirai-tirai telah diturunkan, menyisakan sepetak ruang. Tabir merah maron menghantarkan daya magis]
Sebuah kata, barisan kalimat–kalimat suci dibarengi lantunan firman Tuhan, bukanlah simbolisasi romantisme moral.

Jangan pernah kau lupakan tiap gerak kaki dan jengkal demi jengkal tanah yang ditinggalkan jauh di belakang. Menjadikan sebuah catatan tersendiri. Sampai kita tidak mampu berbuat, kemudian membiarkan itu semua beralangsung ___ membusuk ditelan kesendirian sepi .
Derit pintu derak-berderak pilar-pilar keyakinan ; serpihan rasionalitas yang tersisa entah dimana; Arogansi massal, dispresi mewabah seakan berspora. Jerit desah pilu terangkai dalam nyanyian bidadari, musik pembuka angkara murka, menjadikan do’a hanyalah bianglala. Sedang obsesi tertinggal dalam kubang misteri.

V
[Cahaya biru dengan kemisteriusannya membungkus sosok dingin kaku, ekspresi kosong pada kuasa Tawadhu’ menyingkirkan kepasrahan atas ketidakmampuan. Lembar demi lembar tirai tersingkir sempurna, sisakan cahaya biru; magis dan memendam misteri. Seseorang terpampang tenang dalam khusuk
Seseorang kehilangan arakter dan emosi telah luruh, berjalan sepi membersihkan duka cita menghapus noda tinta atas realitas yang terpampang pada papan yang fana. Ditaburkannya benih-benih ambiguitas kenisbian dan paradoks pertunjukan.]
Selembar kabut melayang membungkus kejadian pada angan.

Sayap-sayap lunglai, rapuh meninggalkan remah. Burung gereja terpekur menanti fajar. Warna-warni pudar_kupukupu dalam toples. Bintang mengintip di sela ranting cemara. Senyum simpul rembulan di balik matahari buta. Menandakan Tuhan tak pernah berdusta_atas janji dan naskah yang telah dibuat, karena-Nya bekerja dengan segala kerahasiaan.

Bedali-Lawang, Malang, Juli 2005

Oleh: Sawir Wirastho

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas