Fungsi Aksara Batak Perlu Dikembangkan

aksara batakMEDAN, RIMANEWS — Diskusi terbatas tentang aksara Batak diadakan oleh Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nomensen (UHN) Medan, pada Sabtu 11 Mei 2013.

Bertempat di Ruangan Pusat Dokumentasi Batakalogi diskusi berlangsung pada pukul 14.00 sampai 17.20 WIB dan dihadiri oleh peserta dari Balai Arkeologi, ahli epigrafi, mahasiswa Fakultas Imu Budaya dan Ilmu Sejarah, arsitek, pelaku media serta bisnis souvenir berbasis lokalitas dan kultur.

Aksara sebagai Bentara Peradaban menjadi topik utama dalam diskusi dengan dua narasumber, yaitu Drs. Manguji Nababan, staf ahli Batakologi UHN dan Thompson Hs, Direktur Artistik PLOt Pematangsiantar.

Manguji mengungkap silsilah aksara Batak dalam konteks aksara sedunia bersumber dari Aksara Semit kuno yang menurunkan aksara Pallawa (India Selatan) dan berdekatan dengan aksara Lampung Kerinci, Rejang dan aksara Bugis.

Fungsi tradisional aksara Batak juga disampaikan dalam berbagai kategori yang pernah dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu seperti P. Vorhoove dan J.Winkler, dua peneliti Belanda zaman kolonial.

Aksara Batak juga memiliki versi dan varian. Ada versi surat pustaha, Versi Van der Tuuk, versi Zending, dan landsdukkerijk, diterangkan bahwa persi ini muncul ketika aksara Batak masuk dalam tehnologi percetakan..

Sementara variannya dapat ditemukan di Toba, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Angkola Mandailing. Pintu masuk aksara Batak menurut asumsi yang disinggung Manguji diperkirakan dari daerah Angkola-Mandailing setelah melalui pintu perdagangan lama di Barus.

Fungsi-fungsi tradisional aksara Batak pada awalnya adalah alat komunikasi dan kemudian berkembang sebagai medium pencataan ilmu dan perdukunan pada manuskrip yang biasa dikenal di Toba dengan Pustaha Laklak.

Aksara di wilayah Batak lainnya juga digunakan melalui medium bambu dan tulang binatang untuk fungsi tertentu dengan kelengkapan simbol-simbol lainnya untuk kepentingan ramalan atau orakel.

Fungsi tradisional ini menurut Manguji meredup sejak kebijakan penggunaan ejaan Van Ophujsien pada tahun 1901, meskipun sebelumnya pengembangan fungsinya melalui percetakan buku-buku sempat terjadi seperti yang dibuat oleh Van der Tuuk tentang Batak Toba, Dairi, dan Mandailing serta cetakan bible beraksara Batak.

Terhentinya pengembangan fungsi ini semakin mengurangi perhatian terhadap aksara. Namun pada zaman Soeharto ada upaya penyatuan varian aksara Batak dalam satu bentuk font dan menyepakati sistem nomor. Namun sitem itu malah mengaburkan dan tidak relevan dengan tradisi tulis seperti yang kita temukan di naskah kuno Batak.

Setelah program font untuk berbagai varian diciptakan oleh seorang peneliti dari Jerman bernama Uli Kozok dan dibantu oleh ahli computer yang bernama Siege. Usaha Uli Kozok untuk mengenalkan aksara Batak kembali dapat dipelajari melaluio terbitan buku yang berjudul Warisan Leluhur, terbitan Gramedia 2003, 2006, dan 2011.

Membicarakan pengembangan fungsi ini pada zaman modern Thompson Hs mencoba membuka pengalaman dan pengamatan atas aksara Batak. Dia pernah membuat puisi yang beraksara Batak pada tahun 2005 dan membacakannya di Solo dalam acara Refleksi Seabad Indonesia Merdeka.

Fungsi-fungsi yang teramati adalah pemanfaatan aksara untuk menunjuk nama jalan, souvenir pernikahan, melengkapi informasi plank pelayanan publik, dan sampul buku. Fungsi pengembangan ini menurut Thompson Hs harus berangkat dari pengetahuan dan kemampuan menggunakan aksara Batak secara manual.

Pengetahuan itu tidak berguna seandainya tidak dimanfaattkan atau dikembangkan. Ide dan kemungkinan pemanfaatannya bisa saja digunakan untuk t-shirt dan sumber studi kultur pop, seperti yang ditanggapi oleh peserta dari Tauko Medan. Namun kode-kode semiotik perlu diperhatikan untuk tidak menimbulkan arogansi atas penggunaan sumber-sumber kultural.

Menurut Manguji, diskusi ini masih akan dilanjutkan dengan pelatihan menulis aksara Batak secara manual dan computer untuk Mahasiswa sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya USU. Direncanakan sambil melakukan kegiatan tentang keaksaraan Batak akan dilakukan semacam lembaga spesifik untuk program pengembangannya untuk masyarakat. Dari 700 bahasa di Nusantara hanya ada 13 yang memiliki tradisi beraksara, termasuk Batak. ( JFS/RIMA)

sumber: rimanews

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas