Antara Wanita dan Harta

kupu2malamSeiring makin derasnya laju arus globalisasi membuat banyak orang makin nelangsa. Betapa tidak, kebutuhan hidup yang semakin menggunung di era sekarang, kerap kali tak diimbangi dengan ketersediaan alat pemuas kebutuhannya. Ibarat petikan ungkapan Besar Pasak dari pada Tiang. Hal ini mengindikasikan jika globalisasi memang berimbas negatif kepada banyak orang.

Setali tiga uang, dampak negatif globalisasi pun terasa sangat mencekik leher rakyat bangsa ini. Kebutuhan yang tak dapat dituda-tunda lagi mengharuskan sebagian masyarakat menghalalkan segala cara untuk memuaskan kebutuhannya. Diantara yaitu dengan korupsi, berdukun, bahkan perdagangan wanita; baik dewasa maupun yang masih di bawah umur. Fenomena seperti itulah yang dikisahkan Achmad Munif dalam novelnya ini.

Menjadi korban

Wanita adalah simbol keluesan, keindahan, serta kelembutan. Ia dicipta untuk semakin memperindah dan mempercantik kehidupan manusia di dunia. Dari rahim wanita pulalah seseorang dilahirkan. Maka sudah sepatutnya mereka mendapat tempat yang mulia lagi terhormat mengingat jasa dan peranannya yang urgen.

Namun, kebanyakan kaum hawa justru tak dipedulikan, dikucilkan, dan direndahkan masyarakat. Karena itulah melalui novel ini, Munif berkeinginan untuk mengungkap tabir. Sekecil itukah martabat wanita dimata khalayak? Kecantikan, kelemahlembutan, serta kelemahgemulaiannya malah dimanfaatkan ke hal yang negatif oleh ‘oknum-oknum’ yang tak bertanggungjawab. Para perempuan dijadikan korban keserakahan duniawi dan kebejatan nafsu birahi.

Sebuah kehidupan dipedesaan terpencil yang berada di salah satu sudut kota Jawa Timur, yang semula indah, damai, dan tentram. Meskipun bila ditilik dari sudut pandang ekonomi tak begitu maju. Akan tetapi, lagi-lagi karena alasan finansial perkampungan itu berubah menjadi ajang perdagangan wanita.

Adalah Gandon salah seorang penduduk desa Kedungdoro yang selalu saja punya akal untuk mengelabuhi gadis-gadis tetangganya. Dengan berdalih akan memberikan pekerjaan yang layak di perkotaan, para gadis dengan mudahnya diajak ke kota. Setibanya di kota alih-alih mendapatkan pekerjaan yang enak, mereka justru dijadikan Gandon sebagai wanita penghibur malam. Mereka bermetamorfose menjadi ‘kupu-kupu malam’ yang selalu mencari bunga untuk dihinggapi di setiap pojok kamar.

Selanjutnya, gambaran kehidupan kota yang gemerlap dan bebas pun dapat terlihat dari ‘kehidupan malam’ di kota Yogyakarta. Di kota Gudeg itulah mucikari-mucikari menjual dagangan mereka. Barang dagangan tersebut bukan berupa bahan sembako, bahan pangan, atau sejenisnya; melainkan perempuanlah yang menjadi ‘jajanan empuk’ setiap malam tiba. Para lelaki hidung belang dengan senangnya berkeliling tiap sudut kota. Mulai utara hingga barat daya untuk mencari mangsa.

Pada akhirnya, saya rasa novel setebal 248 halaman ini akan sangat bagus sekali untuk semua pembaca yang ingin mengerti betapa susahnya hidup di zaman sekarang. Sampai-sampai harga diri wanita dipertaruhkan demi sebuah harta.

Judul: Kupu-Kupu Malam
Penulis: Achmad Munif
Penerbit: Narasi
Cetakan: Pertama, 2011
Tebal: 248 halaman

sumber: rimanews.com

Oleh: Agus Sopar Ab
Mahasiswa IAIN Semarang

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas