Jangankan Seniman, Tuhan Pun Akan Diabaikan Bila Tak Kreatif

malkanSebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada BEM Fakultas Syariah IAI Nurul Jadid yang telah memberi saya kesempatan untuk ikut urun-rembug pada pembicaraan kita sore ini. Tentu menjadi keheranan yang luar biasa bagi Anda semua: Kenapa dari ratusan penulis dari Sabang sampai Merauke tak dihadirkan yang nama dan karyanya sudah tak asing lagi? Kenapa bukan, katakanlah, Habiburrahman El Syirazi, Andrea Hirata, atau Ayu Utami? Kenapa Malkan Junaidi, siapa dia dan apa keistimewaan dari karya-karyanya? Dan jika benar ia penulis hebat lantas kenapa tulisan-tulisannya tak pernah muncul di media cetak semacam Horison dan Kompas? Lebih lanjut kenapa penyair yang dihadirkan, kenapa bukan novelis atau cerpenis? Bukankah puisi, tak sebagaimana novel dan cerpen, bukan komoditas yang bisa dipertimbangkan nilai ekonomisnya?

I

Topik seminar kali ini adalah “Pemuda di Tengah Krisis Kreativitas”, sehingga oleh karenanya ada setidaknya tiga hal yang perlu digaris-bawahi: (1) Pemuda, siapa yang disebut pemuda itu? Secara sederhana bisa dikatakan pemuda adalah setiap yang berusia antara 17 sampai 35 tahun, atau setiap yang memiliki potensi kreatif, tak masalah berapa umurnya. Kita sering mendengar kalimat syababul yaum rijalul ghad, pemuda hari ini adalah pemimpin di esok hari. Yakni pemuda itu identik dengan semangat, idealisme, dan daya cipta. Perubahan menuju segala yang positif biasanya ditumpukan di pundak para pemuda tak lain sebab potensi yang terkandung dalam diri mereka. Franz Kafka (1883-1924), seorang novelis dan cerpenis Jerman yang baru sangat terkenal setelah meninggal dunia, mengatakan Youth is happy because it has the ability to see beauty. Anyone who keeps the ability to see beauty never grows old.  Pemuda bahagia sebab kemampuannya melihat keindahan. Namun sebenarnya siapapun yang menjaga kemampuannya untuk melihat keindahan tak akan pernah menjadi tua; (2) Kreativitas, berarti kemampuan menciptakan sesuatu, sering disamakan dengan istilah produktivitas, namun sebenarnya keduanya bukan tak ada bedanya. Kreativitas lebih berhubungan dengan mengadakan sesuatu yang belum pernah ada, sedang produktivitas berhubungan dengan proses menghasilkan dalam jumlah banyak sesuatu yang sama atau berbeda dengan yang telah ada sebelumnya; dan (3) Krisis, yaitu keadaan genting, penuh ketidakpastian dan disorientasi.

Perihal kreativitas dan krisis ini Kafka pernah pula bilang Productivity is being able to do things that you were never able to do before. Produktivitas adalah kemampuan mengerjakan sesuatu yang sebelumnya tak pernah mampu kau kerjakan. Yakni untuk bisa dikatakan kreatif atau produktif dalam istilah penulis novelet Metamorfosis tersebut, seseorang membutuhkan tak saja proses membuat dan menghadirkan sesuatu, namun juga kebaruan dalam sesuatu yang dibuat dan dihadirkan tersebut.Tanpa ada hal baru, hal yang berbeda secara signifikan dari hal-hal yang dibuat sebelumnya, maka kreativitas jalan di tempat dan mengalami krisis. Kita bisa melihat hal semacam ini dalam 7 tahun terakhir. Di industri musik, misalnya: grup band bermunculan bak jamur di musim hujan, melejit dengan satu dua  lagu lantas lenyap entah ke mana. Kita merasakan adanya krisis bukan sebab tak ada karya yang muncul, sebaliknya justru di tengah guyuran hujan karya. Apa sebab? Tak lain karena di balik produktivitas yang dipamerkan, ternyata ada esensi yang luput dihadirkan, dalam hal ini adalah eksplorasi musikal yang semakin merosot dan kecerdasan dalam mencipta lirik lagu yang juga kian tumpul. Lalu kita melihat stasiun-stasiun televisi seolah berlomba-lomba menjadi juru selamat, dengan menyajikan berbagai ajang pencarian bakat, melahirkan para juara yang namun setelah season yang diikutinya habis, habis pula pamornya. Ironi tak berhenti sampai di situ, sebab demam K-Pop atau Korean Pop kemudian melanda; remaja dan pemuda merasa tidak canggih dan modern jika tak mengenal penyanyi Korea, jika tak hafal lagu-lagu mereka, atau jika tak mengikuti segala trend yang terkait dengan mereka, entah itu gaya rambut, mode pakaian, ataupun cara bernyanyi dan menari. Persoalannya bukan bahwa yang dari luar itu buruk atau bahwa menggemari sesuatu yang bukan made in dalam negeri itu tercela. Yang menjadi masalah adalah belum juga menjadi pertanyaan: kenapa kebudayaan mereka yang menginvasi kebudayaan kita, kenapa bukan sebaliknya? Apakah mereka secara fitrah memang lebih hebat ataukah ini semata sebab imunitas dan daya cipta generasi muda kita demikian lemah?

II

Saya akan menceritakan fragmen kehidupan saya secara singkat berikut cuplikan proses kreatif yang terjadi di dalamnya. Dari situ semoga muncul suatu refleksi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pada pertengahan hingga akhir tahun1980-an saya adalah salah satu anak yang paling tekun mendengarkan sandiwara radio. Ada beberapa yang terkenal waktu itu, di antaranya Tutur Tinular, Saur Sepuh, Misteri Gunung Merapi, dan Babad Tanah Leluhur. Mendengarkan sandiwara radio sangat berbeda dari menonton sinetron. Radio hanya menyajikan suara, tanpa visualisasi. Pendengarlah yang secara aktif membuat visualisasi imajinatif di benaknya masing-masing tentang cerita dan perwujudan tokoh-tokoh sandiwara yang ia dengar. Saya mengikuti sandiwara-sandiwara tersebut dengan sangat intens dan antusias dan mungkin karenanya menjadi begitu terpengaruh. Saya ingin hebat seperti tokoh-tokoh di sandiwara yang saya dengarkan, buat saya mereka sangat nyata dalam kefiktifannya, saya ingin menjadi seperti Arya Kamandanu atau Brama Kumbara atau Sembara atau Saka Palwaguna, para pendekar yang memiliki ilmu kanuragan tinggi dan banyak melakukan kebajikan terhadap sesama. Maka saya pun mulai belajar silat, kebetulan ada tetangga yang mau mengajari. Tak puas belajar pada tetangga, saya pun selama tiga tahun belajar Karate dan setahun latihan Tae Kwon Do.

Apa yang saya lakukan waktu kecil hingga remaja, berupa mimikri atau mimesis, meniru dan berusaha menjadi seperti karakter-karakter di sandiwara radio tadi, adalah sebentuk usaha linear yang boleh dibilang naif, mirip dengan nyanyian dan tarian anak sulung saya dalam usahanya meniru-niru Cherrybelle. Untunglah, sebelum tersesat  lebih jauh, saya lalu mengenal puisi. Sebetulnya sejak Madrasah Ibtidaiyah puisi sudah ada di buku-buku pelajaran, namun saya lebih menyukai dan lebih sering membaca cerpen dan novel. Puisi, menurut saya saat itu, tampak terlalu sulit dan tak berguna dibaca. Namun pandangan ini mulai berubah saat saya masuk Madrasah Aliyah. Waktu itu, alih-alih indekos, saya tinggal di sebuah pesantren. Ada seorang kakak kelas yang beda kamar dengan saya, entah cuma iseng, entah untuk tugas sekolah, atau entah memang merupakan hobi, ia menulis 7 atau 8 judul puisi di sebuah buku tulis usang. Saat ikut membacanya saya terheran-heran memikirkan proses kreatif puisi-puisi tersebut, dan diam-diam merasa tertantang untuk juga menulis. Jadi, dalam kasus saya, puisi awalnya muncul bukan sebagai pesona, melainkan sebagai sebuah pintu yang di baliknya adalah lorong gelap yang menantang nyali. Saya baru jatuh cinta pada puisi setelah di suatu kesempatan membaca puisi Sutardji yang berjudul “Ah”. Membaca Sutardji bagi saya seperti keluar dari hukum-hukum absurd, peraturan-peraturan yang memaksa kita menjadi robot yang patuh pada sang pemegang remote-control.

Menginjak kelas 3 saya mulai serius menulis puisi. Ratusan judul saya tulis, berbagai aliran dan gaya saya coba, dan bahkan setamat Aliyah saya memutuskan memperdalam ilmu sastra di Universitas Negeri Malang. Namun, ketika benar-benar berhasil kuliah di jurusan yang saya inginkan, semua tak seperti yang saya bayangkan. Kuliah terasa begitu membosankan, selain sebab ekspektasi saya untuk bisa bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa yang punya minat serius terhadap sastra tak pernah terpenuhi, pun ternyata materi sastra nyaris tak pernah diberikan, yang jadi santapan tiap hari sebaliknya adalah pelajaran linguistik. Sebagai kompensasi saya menghabiskan waktu di luar jam kuliah di perpustakaan kampus, membaca sebanyak mungkin buku-buku sastra yang untungnya tersedia secara cukup, jika bosan membaca maka saya ganti menerjemahkan puisi-puisi asing, entah itu karya penyair Inggris, Amerika, atau Jerman. Salah satu yang masih terkenang dan sangat memengaruhi cara pandang saya atas puisi adalah puisi “Die Sonne” karya tokoh Dada terkemuka, Hugo Ball.

Semester II saya memutuskan berhenti kuliah dengan beberapa alasan, salah satunya sebab kesehatan ayah saya yang menurun. Pendidikan saya lanjutkan di sebuah pesantren tak jauh dari rumah. Di pesantren itu saya punya banyak waktu untuk merenungdan menulis. Saya merevisi, menyeleksi, dan membukukan puisi-puisi saya yang saya anggap bagus. Ada 5 kumpulan yang saya hasilkan hingga masa itu, berisi 250-an judul puisi dalam tulisan tangan yang cukup rapi. Masih dalam status santri, awal tahun 2002 saya menikah, usia saya baru 21 tahun saat itu. Dua tahun kemudian, pada November 2003 ayah saya meninggal dan sebulan sesudahnya anak pertama saya lahir. Peristiwa mortalitas dan natalitas melibatkan dua orang yang secara biologis dan psikologis sangat dekat dalam waktu yang tak berselang lama ini entah bagaimana menimbulkan konflik batin yang memengaruhi secara radikal proses kreatif saya. Tiba-tiba saya memutuskan berhenti menulis puisi, karena menurut saya puisi itu nonsense, tiada manfaatnya. Keputusan ini secara simbolis saya wujudkan dengan membakar semua puisi yang pernah saya tulis dan semua buku berbau sastra yang saya miliki. Sepanjang tahun 2004 saya praktis hanya bertani, pena berubah jadi cangkul dan kertas berubah jadi petak-petak sawah.

Namun menjadi penyair agaknya sudah menjadi takdir saya. Tahun2005 saya kembali menulis, kali ini dengan pijakan proses kreatif yang lebih pasti,antara lain sebagai berikut:

1. Untuk mengubah seribu kepala, kita harus memulainya dari satu kepala, dan kepala pertama selalu adalah kepala kita sendiri.

2. Cara paling efektif untuk tetap berada di jalur yang benar adalah dengan setia pada kata hati, dan menulis puisi menurut saya adalah bagian dari usaha untuk senantiasa mendengar dan menuruti kata hati tersebut.

3. Salah satu cara kerja puisi adalah dengan menghadirkan ambiguitas kemaknaan, kemultitafsiran, dan ini sangat ideal untuk melindungi orang dari fanatisme sempit dan untuk melatih mindset mereka agar menerima kenyataan bahwa kebenaran bisa hadir dalam ribuan wajah.

Saya tak pernah mengirimkan karya saya ke media cetak. Pertama saya selalu merasa tulisan saya jelek dan ketika sudah terlihat bagus biasanya saya tak berhenti merevisinya. Kedua saya percaya ada cara alternatif untuk mengenalkan karya ke orang lain selain melalui media dan sistem konvensional semacam itu, cara dan media yang lebih demokratis. Ketiga saya merasa kenikmatan menulis, membaca, dan mengritik karya sendiri lebih besar dibanding kenikmatan menerima pengakuan orang lain atas karya saya. Karena itulah internet pada akhirnya menjadi pilihan ideal. Saya banyak memosting karya-karya saya di sana, melihat respons langsung orang atas tulisan-tulisan tersebut dan melakukan dialog sederhana dengan mereka. Ini tentu musykil saya lakukan bila medianya adalah koran harian atau majalah bulanan. Akhir tahun 2010 seorang yang saya kenal di sebuah situs sastra menawarkan diri untuk membiayai penerbitan kumpulan puisi saya yang waktu itu masih dalam bentuk soft-copy. Tawaran tersebut semula saya terima, namun lantas saya tolak. Terus terang saya tak ingin terlibat dalam hutang budi. Namun teman saya itu bersikeras dan bilang uang untuk itu sudah ia siapkan. Akhirnya saya mengizinkannya membiayai separuh biaya penerbitan. Jauh sebelumnya saya tahu buku puisi tidak memiliki nilai jual dan penerbit-penerbit mayor menghindar untuk menerbitkannya. Oleh karenanya saya memilih menerbitkan buku saya secara indie, dengan biaya sendiri. Akhir Agustus 2011 buku selesai dicetak dengan jumlah 300 eksemplar saja. Kenapa hanya 300? Bukannya masalah pesimisme, namun mereka yang mengenal saya sebagai penyair masih sejumlah itu dan menurut saya jika ada 1 saja orang yang membeli karya saya lantas karya itu memberinya pengaruh nyata, inspiring katakanlah begitu, itu lebih indah ketimbang buku saya laku 1.000 eksemplar namun tak satu pembaca ingat isinya.

Buku tersebut berjudul Lidah Bulan, berisi 99 judul puisi yang saya tulis di rentang tahun 2005 hingga 2009, merupakan pemadatan dari 4 kumpulan puisi yang total isinya 171 judul. Jadi ada sebanyak 72 judul puisi yang saya eliminasi. Pemadatan tersebut bukan karena pertimbangan biaya cetak, namun pertimbangan resepsi pembaca. Slimmer better, demikian kurang lebih motto saya. Lidah Bulan dari segi penjualan bisa dibilang gagal total. Namun saya merasa senang sebab perlahan namun pasti buku ini memberi pengaruh nyata pada para pembacanya. Ada yang mengadopsi gaya tulisan saya, ada yang terpengaruh oleh kampanye anti-endorsement yang saya lakukan, ada seorang pelukis yang dengan inisiatifnya sendiri membuat interpretasi puisi-puisi saya melalui lukisan, ada ketua komunitas sastra yang memakai puisi saya untuk lomba baca puisi dan menang, ada seorang guru yang minta izin memakai puisi saya untuk materi ujian semester, ada yang melapor bahwa dirinya hafal salah satu puisi di buku itu, dan kehadiran saya sore ini di majelis ini, bukankah bukti yang sangat valid bahwa karya saya meski tak laku namun membawa pengaruh nyata?

Apa yang bisa dipetik dari fragmen kehidupan dan proses kreatif di atas sangat tergantung pada Anda. Namun izinkan saya untuksedikit lancang menawari Anda sebuah kesimpulan: Hal pertama dan terutama yang dibutuhkan seseorang untuk mewujudkan impiannya adalah percaya bahwaimpiannya itu layak untuk diwujudkan dan percaya bahwa dirinya mampu mewujudkannya. Sebab jika kita membicarakan kreativitas maka artinya kitamembicarakan visi dan idealisme, dan jika kita membicarakan visi dan idealisme maka akan sia-sia pembicaraan kita tanpa membicarakan realitas sosial di mana visi dan idealisme itu hendak ditanam. Terkait ini Vladimir Lenin (1870-1924) pernah mengatakan A revolution is impossible without a revolutionary situation; furthermore, not every revolutionary situation leads to revolution. Revolusi mustahil terwujud tanpa adanya situasi revolusioner. Namun tak setiap situasi revolusioner membawa kita pada revolusi. Apakah kita hendak mengikuti kemauan orang banyak, dan dengan begitu kita kehilangan identitas, ataukah kita bersikeras membuat orang banyak memahami apa mau kita, syukur-syukur mengikutinya, yang artinya kita memberi kesempatan pada diri sendiri untuk menemukan identitasnya. Keduanya merupakan pilhan bebas, dan tentu ada konsekuensi dari setiap yang kita pilih, bahkan saat kita memilih untuk tak memilih pun tetap akan ada konsekuensi yang harus diantisipasi.

III

Selanjutnya, mengingat ada sub bahasan Jati Diri Pemuda dalamMengejawantahkan Karakter & Identitas Karya, perkenankan saya bergeser ke lain spektrum, ke “mitos menjadi diri sendiri”, untuk mengimbangi segala yang sudah saya sampaikan. Sangat sering kita mendengar kalimat “be yourself”. Bahkan mungkin kita sendiri kerap mengucapkannya. Yang menjadi pertanyaan adalah: betulkah orang bisa menjadi orang lain sehingga diperlukan kalimat semacam “jadilah dirimu sendiri” itu? Apakah sebenarnya menjadi diri sendiri? Apakah jika saya menulis puisi dan Anda menulis puisi maka salah satu di antara kita dianggap tak menjadi diri sendiri? Apakah menjadi diri sendiri berarti menajamkan perbedaan, mencari-cari keunikan diri dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga jadi ciri utama kedirian seseorang?

Mari bayangkan kita adalah orang tua dari seorang anak berusia 3 atau 4 tahun. Itu adalah usia awal di mana kita menanamkan ke benaknya mengenai apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang harus dikerjakan dan apa yang musti dihindari, dan sebagainya. Ikut campur kita ihwal sifat atau sikap apa yang harus dimiliki anak adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Dalam bahasa orang barat mungkin begini: “kamu tinggal di rumahku dan makan dari jerih payahku, jadi ikuti aturanku.” Namun faktanya fase pengorientasian sikap tak berhenti pada usia tertentu, setelah seseorang mandiri secara finansial misalnya. Ia sebaliknya berlangsung seumur hidup. Buku-buku pelajaran, ceramah moral guru agama, atau hukuman tertentu yang ditimpakan saat anak terlambat tiba di sekolah atau secara tak sengaja tidak mengerjakan PR juga merupakan bentuk kontrol dan pengorientasian kepribadian. Demikian pula undang-undang dan tata tertib yang dibuat oleh negara yang dikawal oleh polisi dan pengadilan sejatinya juga adalah suatu bentuk orientasi dan kontrol. Oleh karenanya orang sebenarnya tak bisa sepenuhnya menjadi diri sendiri ketika menjadi diri sendiri berarti bebas melakukan yang diinginkan. Kebebasan yang relatif mutlak baru bisa didapatkan jika orang hidup jauh dari peradaban, sendirian di tengah hutan. Namun berapa banyak hal yang bisa dilakukan manusia di tengah hutan dalam keadaan sendirian? Tak banyak. Di tengah hutan, sendirian, orang akhirnya dijangkiti keinginan untuk kembali bersama manusia yang lain, dan dengan demikian kebebasan jadi tak berarti. Sebab meski hukum komunal tak menyentuhnya, namun justru ia dalam siksaan tak henti dari suatu keinginan-hidup-bersama-yang-lain.

Lantas bagaimana jika menjadi diri sendiri berarti menjadi unik, berbeda dari yang lain? Nah, seberapa jauh sih perbedaan yang bisa dibikin jika kebutuhan dasar satu orang dengan yang lain hampir sama saja? Anda dan saya sama-sama minum air dan makan nasi, sama-sama butuh diperhatikan dan dihargai, dan sebagainya. Dengan kebutuhan dasar yang hampir sama sepertiitu kita tak bisa menghindar dari membuat dan mematuhi aturan, artinya kebebasan-untuk yang menjadi pilar “be yourself” itu mitos belaka. Mari kita konkretkan dengan sebuah contoh: Katakanlah Anda adalah seorang penulis novel; Anda telah mengerahkan segenap daya, telah menulis sesuai gaya yang paling Anda inginkan, apakah dengan begitu otomatis orang akan menyebut tulisan Anda unik dan Anda sudah menjadi diri sendiri? Belum tentu. Jadi siapa sebenarnya yang punya otoritas untuk menentukan bahwa Anda telah unik dan sudah menjadi diri sendiri? Jika orang lain maka siapa yang memberikan otoritas itu padanya dan siapa yang memberikan pemberi otoritas itu otoritas? Juga apa standar seseorang layak memegang otoritas penentu keunikan dan siapa yang berwenang menentukan standar itu? Atau jika diri sendiri maka artinya setiap orang memiliki otoritas yang sama. Padahal jika semua orang memiliki uang satu milyar, maka tak satu pun bisa disebut kaya atau miskin. Demikian juga jika setiap orang memiliki kewenangan yang sama, maka itu sama dengan tak ada yang berwenang.

Pembicaraan tentang topik sederhana “menjadi diri sendiri” ternyata bisa jadi pembicaraan yang ruwet jika kita ngotot masuk ke sumsum persoalan menjadi diri sendiri itu. Mungkin kita memang tak perlu membicarakannya secara filosofis. Kita cukup membicarakannya sekedar sebagai bagian dari politik identitas. Dengan membawa sebuah cermin cekung kita bisa mendapatkan sebuah refleksi: identitas memiliki nilai politis tertentu dan (baik identitas atau nilai politis tadi) bisa didapat melalui suatu politik tertentu pula. Misalnya saya adalah seorang esais atau kritikus. Saya melakukan kajian serius atas novel Anda yang kita singgung tadi, lantas entah sebab ingin memperlihatkan keunggulan Anda sebagai penulisnya atau ingin memperlihatkan keunggulan saya sendiri sebagai pengkaji dan pengulas, saya membuat sebuah analisis dan penilaian yang meruncing pada sebuah kesimpulan: novel Anda unik dan Anda sebagai penulisnya telah menempuh jalan Anda sendiri. Karena kedudukan saya di kancah kesusastraan nasional sudah mapan, katakanlah sebab sebelumnya saya telah menghasilkan banyak karya yang diakui banyak tokoh sebagai yang patut diperhitungkan, dan karenanya para pemilik media dengan senang hati memberi saya ruang untuk menampilkan hasil kajian saya atas novel Anda tadi, maka saya memiliki suatu nilai politis, atau dalam istilah pebisnis nilai tawar, dan tak heran jika tulisan saya mendapat tempat yang strategis untuk memengaruhi opini khalayak pembaca sastra. Katakanlah yang terjadi kemudian adalah hampir semua pembaca sepakat dengan evaluasi saya. Nah, Anda dan tulisanAnda yang sebelumnya diterima secara biasa-biasa saja akhirnya dibaca ulang dan diapresiasi secara jauh lebih istimewa. Secara romantis kita bisa menyebut apa yang terjadi ini sebagai relasi simbiosis penulis-kritikus-pembaca. Yang artinya Anda tak bisa hadir sendirian dan mencapai sebuah kualitas “unik dan menjadi diri sendiri”, melainkan berkat campur tangan saya dan anggukan setuju dari para pembaca. Sebab betapapun serius saya dalam tulisan saya tadi, namun jika seluruh pembaca kukuh dengan opini yang sama sekali lain, maka mungkin satu-satunya yang mengakui Anda unik dan telah menjadi diri sendiri adalahsaya.

Dari sedikit ulasan di atas bisa diambil sebuah poin penting bahwa menjadi diri sendiri ternyata melibatkan dialektika yang tak pendek. Dari satu sudut pandang ia memang adalah hasil dari suatu usaha keras, sedang dari sudut pandang yang lain ia tak lebih dari permainan opini yang hasil akhirnya tak pernah diketahui, yang diketahui hanyalah banyak orang untuk sementara waktu menganggap suatu karya itu unik dan seorang itu sudah menjadi dirinya sendiri, namun tak ada yang menjamin suatu opini akan populer selamanya. Meski demikian menurut saya berkarya adalah esensi dari hidup dan kemanusiaan.Tanpa karya apa bedanya manusia dari kambing? Dan soal kreatif, soal memiliki warna unik dalam karya, maka jangankan seniman, Tuhan pun akan diabaikan manusia bila tak kreatif.

Oleh: Malkan Junaidi
Penyair dan Aktivis Facebook

2 Komentar Pembaca

  1. warliah

    saya sangat berterima kasih dengan adanya tulisan seperti yang tentera di atas kren mejadi bhan bagi kita sebagai penggemar sastra

    Balas

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas