Kapan Ada Iklan Buku di TV Swasta Indonesia?

Iklan merupakan hal penting dalam setiap acara-acara yang diadakan di televisi swasta Indonesia. Iklan atau bahasa inggrisnya advertising merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan barang atau jasa yang ditawarkan kepada calon pelanggan atau konsumen sekaligus mengajak calon pembeli untuk membeli barang yang ditawarkan. Manfaat iklan yang terbesar adalah membawa pesan yang ingin disampaikan oleh produsen kepada khalayak ramai.

Begitu banyak jenis-jenis iklan yang ditayangkan. Mulai dari iklan sampho, iklan wafer, iklan handphone, iklan applikasi sosial media hingga iklan rokok termahal. Dibalik begitu banyaknya kampanye anti rokok tetapi televisi tetap menayangkan iklan rokok mulai dari yang murahan hingga yang mewah. Seharusnya televisi mampu memberikan didikan dan mampu mengkampanyekan energi/sisi positif bagi penontonnya. Namanya juga televisi merupakan gudang bisnis yang tidak memperhatikan lagi efek positif yang diberikan. Iklan yang mendidik masih sangat kurang saya temui.

Ada satu yang saya rasa masih kurang? Iklan untuk mempromosikan buku nasional.

Salah satu iklan yang bisa mendidikan masyarakat Indonesia. Emang penting ya mempromosikan buku nasional dan dijadikan iklan? Penting banget.  Dengan begitu, penulis dapat dihargai melalui promosi bukunya. Banyak di luar sana penulis-penulis muda dengan tulisan yang menarik tetapi kurang pada promosi bukunya. Hanya sebagian orang yang mengetahui bukunya terbit melalui sosial media. Itupun sosial media dari penerbit dengan teman akun sosialnya yang hanya beberapa. Dan salah satu usaha penerbit adalah mengadakan lomba-lomba seputaran buku yang diterbitkan agar pembaca semakin tertarik untuk membeli.

Mungkin ada beberapa di antara Anda yang masih belum mengetahui Buku/Novel ‘Perburuan Bintang Sirius’ ? Tentunya masih ada, bukan? Tetapi pasti di antara Anda minimal mengetahui rokok ‘Gudang Garam Merah – Pria Punya Selera? Anda mengetahuinya pasti minimal melalui iklan, bukan? Nah!

Ada lagi acara yang kurang ditayangkan melalui televisi swasta Indonesia yaitu, acara bedah buku dan resensi/review buku melalui berita nasional. Padahal melalui iklan atau acara resensi buku melalui berita atau acara bedah buku dengan menghadirkan penulisnya langsung, mampu memberikan peluang bagi penulis untuk berkarya lebih dan mampu memberikan pesan penting yang ada dalam bukunya untuk menarik perhatian pembaca agar membeli bukunya. Dan efek positif lainnya adalah mampu mengangkat buku-buku nasional karya anak bangsa di mata dunia serta mampu menjadi catatan sejarah pernah ditayangkan melalui televisi.

Mungkinkah hal ini sulit ditemukan di TV Swasta Indonesia? Tetapi kapan? Tertarik kah mereka akan ide ini?

sumber: kompasiana.com

Oleh: Erfin Triyaman Harefa

  1. lila

    Salam.

    Memang belum banyak buku yang diiklankan melalui televisi. Seingat saya baru dua: Laskar Pelangi (bersamaan dengan iklan filmnya) dan Si Anak Singkong (Biografi Chaerul Tanjung). Dua buku bestseller. Buku kedua konon laku hingga 140ribu eksemplar.

    Buku pertama, Laskar Pelangi, memang sudah best seller sebelum diiklankan. Namun, buku kedua sepertinya memang mencapai angka penjualan yang fantastis tersebab iklannya. Selain melalui televisi, iklan Si Anak Singkong juga tersebar melalui radio, internet, dan display utama (dengan banner mencolok) di toko-toko buku terkemuka. Buku tersebut ‘membeli’ ruang promosi yang cukup besar dengan biaya tinggi.

    Sekarang, kembali ke modal. Bahkan penerbit sekelas Gramedia pun (mungkin) berfikir sekian kali mengingat besarnya biaya iklan televisi. Terlebih penerbit kecil atau teman-teman yang menerbitkan bukunya secara independen dengan modal terbatas.

    Untuk acara bedah buku, nampaknya memang juga belum ada yang rutin melakukannya. Tapi sudah ada program Kick Andy yang rutin memberikan buku gratis bagi penontonnya. Meskipun, tidak setiap episode ada pembahasan mengenai buku-buku yang dibagikan.

    Ada pula program-program berita pagi di beberapa televisi swasta yang menayangkan buku-buku pilihan. Kadang buku yang sensasional, kadang buku yang ‘punya modal’. Tak lupa, peran infotaiment yang memberitakan artis-artis Indonesia yang mulai marak menulis buku. Sasaran pasar ibu-ibu tentu turut melariskan buku Krisdayanti, Nadine, Asmirandah, Tina Toon, dan lain sebagainya.

    Balas

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas