Ketika Persaingan Agama Menjadi Prioritas Dalam Beragama

Agama, konon katanya adalah ajaran yang diturunkan agar manusia menjadi lebih teratur, lebih baik dan lebih bermoral, karenanya agama dianggap sebagai ajaran kebaikan. Memang jika menilik ajaran dalam agama (kitab suci), memang isinya adalah hal-hal yang bersifat baik, walaupun ukuran baik pun masih merupakan ukuran yang relatif. Pada sisi lain, agama diklaim sebagai ajaran kebenaran, artinya ajaran dalam agama adalah ajaran yang tidak dapat diragukan kebenarannya, karenanya ajaran agama bersifat mutlak dan tidak dapat dinegosiasikan lebih lanjut atau dikompromikan dengan hal lain. Jika ajaran agama mengatakan A, maka berlaku mutlak A dan tidak bisa menjadi A’ (A aksen) apalagi sampai menjadi B.

Dalam ajaran agama, akan kita temui hal-hal yang mengatur kehidupan manusia dalam hubungan vertikal dengan Tuhan, Allah, Dzat Adikodrati sebagai pencipta dan penguasa alam semesta, juga hal-hal yang mengatur kehidupan manusia dalam hubungan horizontal dengan sesama manusia, makhluk hidup lainnya dan dengan alam tempat manusia tinggal. Sehingga pada hakikatnya, agama bertujuan mengatur manusia agar menjadi manusia yang mampu memiliki dan menjaga hubungan baik, vertikal maupun horizontal.

Namun, gambaran tersebut sesungguhnya adalah gambaran ideal saja. Karena walau nilai kebaikan itu masih ajeg sebagai kebaikan, akan tetapi nilai kebenaran dalam agama sesungguhnya kurang valid, karena jika sebuah agama diturunkan oleh pencipta alam semesta, maka sesungguhnya dunia ini tidak akan memiliki lebih dari satu agama, alias hanya akan ada satu agama di muka bumi ini. Akan tetapi, jika hanya ada satu agama, tentunya tidak perlu lagi memberi nama atau label apa-apa pada ajaran tersebut sebagai sebuah agama. Pemberian nama/label pada sebuah ajaran tentunya dalam kebutuhan untuk memberikan pembedaan antara satu agama dengan agama lain. Jika hanya ada 1 agama, tentunya tidak perlu lagi menamainya sebagai agama A atau agama B. Akan tetapi jumlah agama lebih dari satu, maka perlu diberikan penamanaan sebagai pembedaan antara yang satu dengan yang lain.

Jika kebenaran itu adalah satu. Jika kebenaran itu tidak pernah mendua, lalu mungkinkah semua agama adalah ajaran kebenaran? Jika ajaran agama A adalah ajaran kebenaran, mungkinkah ajaran agama B juga ajaran kebenaran? Jika ajaran agama A adalah kebenaran, pastinya ajaran agama B bukan kebenaran. Demikian seterusnya. Maka, sesungguhnya walau semua agama mengklaim sebagai ajaran kebenaran, kenyataannya adalah tidak mungkin semua ajaran agama adalah kebenaran. Tidak mungkin semuanya benar. Tetapi ada kemungkinan salah satu adalah ajaran kebenaran.

Karena di antara sekian banyak agama, tidak mungkin semuanya adalah BENAR, maka ketika kursi kebenaran itu hanya ada satu, terjadilah perebutan kursi kebenaran tersebut. Di sinilah muncul persaingan antar ajaran agama. Awalnya, agama-agama berusaha menampilkan isi ajarannya untuk membuktikan ajarannya sebagai kebenaran. Ketika ajaran agama A memaparkan bukti kebenaran dalam agamanya, agama B pun melakukan yang sama. Masing-masing berlomba memaparkan ajaran agamanya sebagai kebenaran. Lalu muncullah usaha saling mengcounter pembuktian yang dilakukan oleh ajaran agama lain. Ketika agama A memaparkan ajaran agamanya, agama B akan mengcounter paparan agama A. Demikian pula sebaliknya. Saling mengcounter pemaparan ajaran, dengan penilaian dari kacamata masing-masing. Agama A menilai ajaran B dengan menggunakan ajaran A sebagai standard. Apa yang tidak ada dalam ajaran B adalah salah, karena ada dalam ajaran A. Demikian pula sebaliknya. Apa yang dibolehkan dalam ajaran A adalah salah di mata agama B, karena yang diperbolehkan oleh ajaran agama A tidak diperbolehkandalam ajaran agama B.

Dengan demikian, agama pun memasuki tahap kompetisi perebutan predikat kebenaran. Siapa yang tidak sepakat adalah musuh dari agama. Demikian masing-masing mengklaim ajaran mereka. Beratus tahun dan beribu tahun, manusia beragama berkutat dalam persaingan memperebutkan predikat kebenaran. Hingga, substansi ajaran sudah bukan hal yang diutamakan dalam beragama, karena manusia sekarang beragama bukan lagi murni untuk urusan moral dan hubungan vertikal horizontal, akan tetapi manusia beragama dalam sebuah persaingan abadi memperebutkan predikat kebenaran. Dan predikat kebenaran itu pun diterjemahkan dalam berbagai cara. Mulai dari membanggakan jumlah pemeluk, membanggakan aktivitas ritual, mempertontonkan masuknya pemeluk baru, dan tentu sebaliknya menjelek-jelekan agama lain yang merupakan saingan, mencibir aktivitas agama lain, dan berbagai bentuk persaingan lainnya.

Pemeluk agamapun kemudian bukanlah orang yang mempraktikkan ajaran agama dengan sebaik-baiknya, namun pemeluk agama telah menjadi tidak lebih orang-orang yang siap mati untuk memperebutkan kursi predikat kebenaran tersebut, seakan bahwa kursi tersebut akan membuktikan kebenaran dari ajaran agama. Padahal kebenaran itu hanya bisa dibuktikan dengan praktik yang benar sehingga tujuan dari agama itu tercapai. Pencapaian tujuan dari agamalah yang sesungguhnya akan membuktikan kebenaran dari ajaran agama tersebut.

Dan jika tidak bisa mempraktikkan hidup sesuai ajaran agama, lalu buat apakah manusia beragama? Apakah hanya untuk menambah alasan bermusuhan? Sepatutnya semua menyadari bahwa semua agama di muka bumi ini, tidak mungkin semua benar, tetapi sangat mungkin semua salah. Dan itu mungkin agama yang saya anut atau yang anda anut.

sumber: kompasiana

Oleh: Meyiya Seki

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas