Peresmian, Pekan Budaya dan Brawijaya Lecture Series CCFS 2013

laman batas

“LAMAN BATAS DALAM PERSPEKTIF KETAHANAN BUDAYA”

P E N D A H U L U A N

Pusat Penelitian Budaya dan Laman Batas Universitas Brawijaya (Center for Culture and Fontier Studies, selanjutnya disebut CCFS UB) adalah unit pusat penelitian yang berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Brawijaya (LPPM UB) Malang yang didirikan pada tahun 2013. Tujuan pendirian pusat penelitian ini adalah menjadi pusat penelitian inter/multidisipliner yang strategis bagi pengembangan studi, ide-ide kreatif, dan pemecahan masalah terkait budaya dan studi laman batas. Tujuan lain CCFS UB diantaranya adalah menghasilkan rekomendasi bagi pemangku kepentingan (stakeholders) dalam menentukan arah kebijakan strategis; mengembangkan ilmu pengetahuan, humaniora, dan seni guna mendorong pengembangan budaya; dan menjadi simpul jejaring pemikiran akademik dan referensi mengenai budaya dan studi laman batas (frontier).
CCFS UB dalam mencapai tujuan tersebut, senantiasa berpegang pada visi dan misi organisasi. Menjadikan pusat penelitian yang unggul dalam bidang budaya dan pengkajian laman batas serta berperan aktif dalam pembangunan bangsa melalui proses penelitian dan pengabdian masyarakat. Sedangkan misi CCFS UB adalah menyelenggarakan penelitian dan pengabdian masyarakat yang berkualitas dalam bidang budaya dan pengkajian laman batas; dan melakukan pengembangan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan, humaniora dan seni, serta mengupayakan penggunaanya untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dan memperkuat kebudayaan nasional.

Sebagai pusat penelitian yang mengambil budaya sebagai inti kajian disiplin dalam memahami persoalan-persoalan laman batas, maka pusat penelitian ini bertumpu pada pendekatan budaya sebagai inti teoritis dan praxisnya. Studi mengenai batas budaya dalam pandangan ini melihat batas budaya sebagai produk diskursus historis, yaitu dikembangkan dengan tidak hanya melihat isu-isu batas secara geografis dan budaya sebagai fenomena makro – diplomasi dan pertahanan keamanan, tetapi juga melihatnya dalam perspektif mikro yang berasumsi bahwa batas budaya bersifat cair dan mengalir (flux and flow) dan lebih mendasarkan pada pengalaman individu dalam memandang budaya dan batas itu sendiri.

Guna memperkenalkan ide, permasalahan dan kapasitas organisasi dalam permasalahan budaya dan studi laman batas, maka Pusat Penelitian Budaya dan Laman Batas Universitas Brawijaya Malang (CCFS UB) mengadakan serangkaian kegiatan yang melibatkan partisipasi internal Universitas Brawijaya dan juga pihak eksternal selaku pihak pemangku kepentingan diantaranya Pemerintah Republik Indonesia, Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) dan pihak-pihak lain yang dianggap memiliki kepentingan pada isu laman batas. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan seminar nasional, pekan budaya dan kegiatan Brawijaya Public Lecture Series dengan beberapa pembicara internasional dan nasional. Di harapkan setelah rangkaian acara ini memberikan informasi dan kepedulian kepada masyarakat Indonesia dalam memahami permasalahan budaya dan studi laman batas guna tercapainya kemandirian bangsa dan sekaligus terbentuknya suatu jaringan sosial budaya (termasuk ekonomi, pertahanan, demografi) antar negara-negara dalam wilayah regional Asia Tenggara.

L A T A R B E L A K A N G

Di Indonesia, kajian tentang perbatasan, dalam bahasa CCFS UB disebut dengan Laman Batas, belum banyak dikembangkan. Kajian-kajian tersebut umumnya didekati dengan pendekatan konvensional yaitu memandang daerah perbatasan dalam kacamata pertahanan-keamanan suatu negara yang didominasi oleh pemahaman bahwa perbatasan hanya sebagai domain yang harus dijaga secara strategis dan militer dari berbagai kemungkinan infiltrasi dari luar. Dalam perspektif lain dilihat sebagai sekedar daerah frontier yang masih harus dikembangkan secara ekonomi.Dengan kata lain, bahwa perbatasan masih dipahami sebagai fisik tinjauan perbatasan (border studies). Namun demikian, Laman Batas yang dimaksudkan disini tidak hanya pada ide konvensional tersebut, melainkan juga pada kajian mengenai Laman Batas sebagai produk diskursus pada tingkatan mikro /individu.

Tidak dapat dipungkiri bahwa persoalan laman batas tidak dapat dilepaskan dari keadaan sosial budaya penduduk Indonesia, terutama yang terletak di daerah-daerah yang dikatakan sebagai frontier. Penduduk, sebagaimana halnya dikemukakan oleh Mantan Menteri Pertahanan RI Juwono Sudarsono, adalah pangkal dalam permasalahan di Indonesia mulai dari demokrasi, pendidikan, kesehatan, sistem transportasi sekaligus di dalamnya persoalan distribusi barang dan jasa ekonomis. Dengan demikian, isu-isu mengenai laman batas menjadi tidak terelakkan juga berbicara mengenai isu demografis. Isu penduduk dengan serangkain permasalahannya adalah menyangkut persoalan budaya dan ikatan budaya.

Isu laman batas menjelaskan bahwa ada permasalahan mengenai “Indonesia” khususnya, baik itu diterjemahkan sebagai masalah nasionalisme dan ketahanan budaya atau permasalahan hakikat interaksi antara negara vs negara, negara vs individu dan individu vs individu. Fakta menunjukkan bahwa persoalan negara di laman batas (frontier) adalah gambaran kekinian kompleksitas kehidupan negara-bangsa dan masyarakat. Kedua hal ini harulah dipisahkan, dimana negara-bangsa ada dalam argumentasi soal nasionalisme dan politik. Sedangkan masyarakat berasumsi pada interaksi antar individu.Asumsi pertama, tentu saja berkembang dari adanya ide “ketahanan budaya” demi mempertahankan pluralisme budaya termasuk di dalamnya isu nasionalisme budaya. Jika demikian, apakah pemahaman ketahanan budaya sesungguhnya? Merujuk pada definisi yang dikemukakan oleh Seda (2012) ketahanan budaya (cultural containment) merujuk pada pertaruhan “otensitas” dan nasionalisme. Asumsi demikian menunjukkan pada suatu pemahaman yang statis dan stabil. Sedangkan asumsi kedua berasumsi pada persoalan laman batas dalam tataran individu yang melihat ketahanan budaya sebagai suatu yang dinamis (flux dan fluid).

Dari isu tersebut, maka menjadi menarik berbicara mengenai laman batas dan ketahanan budaya yang tidak dilihat dari perspektif konvensional semata-mata. Akan tetapi melihat isu laman batas itu dengan gagasan ketahanan budaya yang baru. Ketahanan budaya yang baru adalah melihat budaya bukan lagi dalam persoalan “otentik” dan berpaku pada tradisi-tradisi lokal, akan tetapi melihat budaya dengan asumsi bahwa budaya sebagai produk diskursus historis yaitu pada tataran global dan lokal yang membawa munculnya era fluiditas dan hibriditas baru. Era dimana budaya dilihat sebagai bentuk dinamis yang bernilai positif bagi masyarakat. Globalisasi telah membawa sebuah pemahaman dan cara pandang baru dalam melihat bagaimana persoalan mengenai ketahanan budaya harus dipahami. Studi baru-baru ini dirilis oleh LIPI (2011) menunjukkan bahwa ada kekuatiran yang mendalam hilangnya tradisi dan sekaligus pudarnya bahasa lokal di daerah-daerah terdepan Indonesia. Gejala tersebut setidaknya tidak hanya terjadi pada daerah pinggiran akan tetapi juga terjadi di kota-kota besar. Dalam konteks tersebut, beberapa ilmuwan menyalahkan globalisasi, seringkali diasosiasikan dengan kapitalisme, sebagai penyebabnya. Namun demikian, perlu dipahami bahwa globalisasi sesungguhnya bukanlah suatu fenomena yang harus ditakuti akan tetapi seharusnya dipahami sebagai bagian dari interaksi global-lokal. Maka ketahanan budaya bukanlah dipahami dalam konteks ini yang bercirikan suatu fenomena yang stabil akan tetapi justru sebaliknya.

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas