Peristiwa Yang Terlupakan

Geger PecinanSelama ini, kita hanya mengetahui perang besar dan menyeluruh di Jawa yaitu perang Dipenogoro yang rentang waktunya selama lima tahun (1825-1830). Dalam perang ini perjuangan pangeran Dipenogoro cukup menyulitkan pihak kompeni, sehingga mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi pihak kompeni. Meskipun Pangeran Dipenogoro akhirnya ditangkap melalui taktik licik kompeni dan diasingkan ke Manado kemudian dipindah ke Makassar.

Selain perang Dipenogoro ternyata ada perang yang cukup besar, yang rentang waktunya tahun 1740-1743. Yaitu perang Sepanjang atau Geger Pacinan. Perang yang melibatkan orang Tionghoa, Jawa, VOC, dan lainnya. Dalam perang ini Tionghoa bekerjasama dengan Jawa untuk menumpas kebiadaban kompeni yang biasa disebut VOC (Veerenigde Oost-Indische Compagnie). Namun, Perang ini kurang populer seakan-akan terkubur waktu karena tidak tertulis dalam buku sejarah di kurikulum sekolah.

Perang ini dilatar belakangi oleh pembantaian massal yang dilakukan oleh kompeni terhadap orang Tionghoa di Batavia (Jakarta). Kompeni takut kekuasaannya di Batavia jatuh ke tangan orang Tionghoa dengan cara pemberontakan, sehingga kompeni melakukan taktik licik dengan menjelek-jelekan orang Tionghoa dengan berbagai cara. Puncak dari pembantaian massal tersebut mencapai puncaknya pada tanggal 10 Oktober 1740 dengan pembantaian yang sangat tidak manusiawi.

Saat itu, Gubernur Jenderal Valckenir memerintahkan agar penduduk Tionghoa yang masih tersisa dikumpulkan menjadi satu. Kaum lelaki, perempuan, tua-muda sudah tidak dibedakan lagi. Mereka diseret keluar dari rumah tinggal atau tempat persembunyian. Orang Tionghoa yang berada di penjara dipisahkan dari etnis lainnya dan langsung dieksekusi seketika. Kompeni berhasil mengumpulkan sekitar 500 orang Tionghoa, yang kemudian digiring ke Stadthuys (sekarang museum sejarah Jakarta). Di tempat tersebut, para tahanan yang malang itu dipenggal kepalanya satu persatu. Adapun jumlah orang Tionghoa yang hancur mencapai kurang lebih 600 bangunan.(hal 36).

Seperti yang tertulis dalam buku-buku sejarah, kebengisan VOC tidak hanya pada orang Tionghoa tapi pada penduduk pribumi juga. Maka dari itu, pada tanggal 20 Juli 1741, pasukan Mataram menyerang Benteng Kompeni di Kartasura. Konflik terbuka antara Mataram dan Kompeni dimulai. Awal dari serangan dimulai pada waktu Notokusumo memberitahu Van Velsen bahwa ia akan melakukan rotasi pasukan. Namun, tak lama kemudian perang pun pecah dimulai dengan bunyi tembakan. Pasukan kompeni kehilangan 24 anggotanya. Jumlah anggota pasukan Mataram yang gugur dalam serangan tersebut mencapai 82 orang, (hal 177).

Karena kesamaan nasib inilah pasukan Mataram dan Tionghoa bersatu menumpas kompeni. Pasukan Tionghoa pun menuju Kartasura, ibu kota Mataram. Pada tanggal 1 Agustus 1741, pasukan Tionghoa tiba di Kartasura. Para panglima perangnya dipersilahkan menghadap raja dan diambil sumpah kesetiaannya pada Pakubowono II. Laskar Tionghoa yang tiba terdiri dari dua kelompok. Kelompok pertama adalah laskar Tionghoa lokal di bawah pimpinan Singseh. Sedangkan laskar kelompok kedua adalah mereka yang berasal dari Batavia dan dipimpin langsung oleh Kapitan Sepanjang. Pada tanggal 5 Agustus pasukan gabungan itu melakukan serangan artileri. Meriam-meriam yang digunakan merupakan kebanggaan Keraton Kartasura. (hal 180).

Peperangan terus berlanjut hinggan akhir 1743, pasukan Tionghoa yang dipimpin Kapitan Sepanjang dan sisa pasukannya bergerak ke arah Blambangan sambil menyerang pos-pos VOC. Catatan terakhir VOC Kapitan Sepanjang pindah ke Bali dan mengabdi pada sebuah kerajaan. Melihat Bali pulau terakhir di Nusantara yang berhasil dikuasai Kompeni.

Perang yang sangat heroik ini, mematahkan anggapan bahwasannya orang Tionghoa tak bisa berperang hanya mengambil keuntungan dari bangsa Pribumi dan tak memiliki jiwa nasionalis. Padahal selain dari sisi ekonomi orang Tionghoa sangat besar jasanya bagi negeri ini. Buku ini sangat layak dijadikan pedoman semangat multi kulturalisme untuk membangun bangsa ini lebih baik. Karena bagaimana pun jasa-jasa orang Tionghoa sangatlah banyak bagi negeri ini. Kelebihan dari buku ini dilengkapi dengan peta kronologi perang. Selain itu, yang pasti akan mengetahui mozaik nusantara yang terlupakan.

_______________________

Judul               : Geger Pacinan Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC
Penulis            : Daradjadi
Penerbit          : Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Cetakan           : II  April 2013
Halaman         : xliv + 292
ISBN                 : 978-979-709-687-8
Peresensi        : Sihabuddin, Mahasiswa Public Relations, Ilmu Komunikasi IAIN Sunan Ampel Surabaya.

sumber: rimanews.com

  1. nur asmiati

    sangat disayang kan perjuangan tersebut telah dilupakan…mungkin suatu hari akan dimuat dikurikulum sekolah…

    Balas

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas