Kuasa di Balik Bahasa

bahasa

ilustrasi/indonesiasastra.org

Dalam studi antropologi, disebutkan bahwa untuk menampung kebutuhannya yang beragam, kehendak-kehendak manusia harus diwadahi dalam bentuk institusi. Salah satu kehendak manusia adalah ingin menguasai orang lain; demi mewadahi hasrat itu maka dibentuklah politik. Manusia juga cenderung untuk melampiaskan kehendak seksualnya, oleh karenanya dibuat lembaga pernikahan. Sama halnya dengan kehendak manusia untuk mengetahui segala hal, manusia butuh suatu sekolah untuk memenuhinya. Dengan logika yang sama, karena adanya kebutuhan manusia untuk berkomunikasi dengan sesamanya sebagai mahluk sosial, manusia menciptakan simbol-simbol yang bersifat konvensional yang kemudian kita sebut bahasa.

Bahasa adalah kesepakatan (convention). Kita bisa berkomunikasi dengan orang lain di sekitar karena kita bersepakat dengan mereka akan suatu konsep yang sama. Seekor binatang merah kecil penyuka gula yang bila merasa terusik maka akan menggigit kita bersepakat dengan orang lain untuk menyebutnya semut. Konsep hujan di kepala kita sama konsep hujan di kepala orang lain. Mau tak mau, hasrat manusia untuk mengungkapkan apa saja yang mereka indrai mereka salurkan dalam bentuk bahasa.

Konon, dahulu bahasa hanya berupa bunyi-bunyi yang mereka dengar dari alam. Dalam perkembangannya, simbol-simbol itu mengalami evolusi sesuai dengan peradaban yang manusia ciptakan. simbol-simbol tersebut tidak bisa terus-menerus menjadi dirinya sendiri karena penggunanya ( language users) cenderung untuk mengeksploitasi bahasa menurut kepentingan masing-masing. Itulah mengapa dalam ilmu bahasa (linguistics) dikenal kajian pragmatik (pragmatic). Pragmatik merupakan salah satu unsur trikotomi semiotika.

Trikotomi Semiotika

Trikotomi semiotika memuat tiga isltilah yang tentu saja masih merupakan studi tanda (science of sign). Yang pertama adalah sintaktik semiotik (syntactic semiotic). Kalau Anda mempelajari bahasa sebagai ilmu murni, istilah syntax memahamkan Anda bahwa setiap kelas kata punya aturan-aturan tersendiri perihal bagaimana mereka berhubungan membentuk pola-pola frasa-klausa-kalimat yang bermakna. Misalnya, Kata sifat berpasangan dengan kata benda, kata kerja berpasangan dengan kata keterangan, dan seterusnya.

Ketika sebuah konsep yang kita serap dari dunia sekitar melalui panca indera disimbolkan dengan bentuk kata, disanalah apa yang kita lihat, dengar, raba, cium, kecap itu memeroleh makna. Tempat duduk yang entah itu terbuat dari kayu atau selain kayu kalau melihatnya pasti selalu kita sebut kursi; disinilah peran semantik semiotik (semantic semiotic). Jadi secara sederhana semantik adalah kajian tentang makna kata.

Yang menarik adalah tidak melulu kursi berarti properti yang digunakan untuk duduk. Dalam konteks politik, kursi bisa berarti kekuasaan. Ilmu bahasa yang mengaji makna kontekstual dari suatu simbol ini disebut pragmatik. Kalau semantik mengaji makna tekstual, pragmatik mengaji makna kontekstual. Simbol atau bahasa tak hanya bunyi, tapi bisa juga dalam wujud gerak, warna, dan apasaja yang bisa menjadi media bagi manusia untuk berfikir.

 

Selain berdasarkan akalnya, manusia berbeda dari hewan berdasarkan tingkat kebutuhan. Sejak lahir, seekor ayam sampai meregang nyawa memiliki kebutuhan yang konstan. Tidak berubah dari waktu ke waktu. Tak jauh-jauh dari persoalan pemenuhan kebutuhan biologis. Sedangkan manusia kebutuhannya kian tua kian abstrak. Pada waktu bayi, kita akan mengangis bila keharusan seputar mulut seperti susu terlambat disanggupi ibu. Menginjak usia sekolah, manusia butuh bukan sekedar makanan dan minuman semata, namun juga teman untuk bersosialisasi, sepeda, mainan robot, dan banyak lagi.

Setelah beranjak remaja, kebutuhan semakin banyak hingga mencapai suatu level tertentu dimana kita selalu merasa butuh untuk dihormati, dimengerti, suaranya selalu didengarkan, dan berbagai keabstrakan lainnya. Jadi kebutuhan manusia semakin abstrak seiring usia hidupnya.

Setidaknya dilingkaran kita orang indonesia, penghormatan adalah sesuatu yang sangat penting. Sedapat mungkin orang lain mengatakan sesuatu yang dapat memuaskan hati kita pendengarnya. Sejarah kelam indonesia sebagai bangsa yang pernah dijajah bangsa lain dan penguasa feodal ini terasa sangat kental. Relasi tuan dan hamba terasa menyatu dalam kehidupan sosial di manapun.

Taruhlah di tataran masyarakat Bugis. Kita mengenal istilah puang dan ata. Namun mari ambil istilah umum saja; bos dan bawahan. Bawahan selalu terposisikan sebagai pihak yang setiap waktu harus menaruh hormat bila bertemu bosnya.

“Bos” adalah sebuah kata biasa yang kemudian dilekatkan nilai-nilai kekuasaan padanya sedemikian rupa sehingga kata itu bisa mengatur sekian banyak bawahan yang kalau tidak menghormatinya atau menyenangkannya maka bisa semena-mena menindak mereka yang melanggar aturan.Faktor kekuasaan itu ditentukan oleh kepemilikan uang, darah biru, dan tingginya jabatan. Suka tak suka, faktor tersebut menentukan seberapa berkuasanya simbol bos. Kekuatan simbolik (symbolic power) nyatanya adalah sesuatu, boleh jadi sengaja dimapankan, yang banyak menciptakan jarak di antara kita umat manusia. Jarak yang semestinya samar dengan adanya status sosial justru kian lebar.

Di lingkungan perguruan tinggi, pola-pola atasan-bawahan juga sering ditemukan. Senior merupakan simbol yang mesti berkuasa atas dan bisa melakukan kekerasan pada junior dalam, beberapa kasus. Dalam beberapa pemberitaan banyak kasus perpeloncoan mengorbankan mereka yang berada pada status pendatang baru di institusi pendidikan itu. Atau dalam skala yang lebih luas banyak sekali tenaga kerja yang teraniaya “tangan besi” tuannya di negeri orang.

Kata-kata yang menempati posisi atasan, umpama bos, secara semantik berarti majikan, kepala, atau ketua. Namun dalam situasi tertentu, bos begitupula simbol-simbol atasan lainnya memainkan peran yang ekstrim sebagai penindas dan penganiaya mereka yang berposisi sebagai bawahan tergantung siapa terlibat, di mana terjadi, dan pola-pola hubungan seperti apa yang bermain di konteksnya.

Syukurlah dalam banyak kesempatan, kita melihat banyak rakyat di negeri ini yang semakin memiliki kepekaan semiotik. Rakyat tak lagi mau jadi boneka penguasa yang semena-mena. Banyak mahasiswa telah mencoba melakukan itu meski dalam beberapa kasus berujung anarki. Hampir semua protes yang terjadi kalangan akar rumput mencerminkan ketidak-puasan atas ketidak-pekaan penguasa di negeri ini dalam turut membaca penderitaan mereka. Pemegang kendali negeri ini besar kemungkinan belum memiliki kepekaan semiotik itu.

Berabad-abad silam, ada sosok pemimpin yang telah mengajari kita bagaimana menyikapi perbedaan status dengan amat memukau. Seorang jenderal perang yang pengaruhnya lintas negara di suatu kesempatan menjadi orang yang paling mengerti keadaan orang yang secara status jauh berada di bawahnya.

Suatu hari, seorang laki-laki menghampiri suatu majelis ilmu hendak bergabung. Barisan telah dipenuhi umat yang tengah mendengarkan sang jenderal berdakwah. Ketika mencoba merapatkan diri di barisan, dia tidak menemukan sedikitpun celah untuk duduk. Majelis hanya saling tatap satu sama lain menyadari kedatangannya dan enggan merenggangkan tempat duduk. Rasululah, sang pemimpin dunia itu, tiba-tiba membuka sorban dan menghamparkannya di sebelahnya lalu menawari si laki-laki itu untuk duduk bersebelahan. Si laki-laki ini pun tak kuasa menahan keharuan menyadari betapa rendah hati sosok di sampingnya itu. Rasulullah menyikapi kesenjangan itu dengan kepekaan konteks yang tinggi. Seperti itulah kira-kira penguasa negeri ini harus menyikapi kekuasaannya dan bersikap terhadap rakyat yang dikuasainya.

sumber: kompasiana

Oleh: Andi Syurganda
Penggiat kajian Humaniora. Tinggal di Makassar

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas