Kang Paijo : Ramadhan (Episode Manusia Bodoh)

buluKang Paijo tergugun di lincak bambunya. Sepasar sudah. Ia jalani sasandara penuh berkah dengan perut mulas ingin muntah. Benar ia mencintai bulan ini dengan setulus hati. Dengan kerinduan tak terperi, dengan syukur, dengan tafakur. Dengan kesadaran tingkat tinggi. Tapi tak begini.

“Saya merasa ikut menjadi manusia paling munafik di bumi ini.” Ucapnya selalu. “Saya merasa menjadi manusia bodoh.”

Serta merta bermunculan kerudung di atas kepala, mengganti lautan dada dan paha. Senyum sipu pura-pura malu dan iman yang tiba-tiba merebak bermekaran. Namun, sama seperti musim bunga yang sekejap saja, tiga puluh hari saja. Lalu musim kembali berganti. Gersang, kering. Seolah bunga-bunga kemarin hanya mimpi. Gampang saja dilupakan, gampang saja berganti.

Ayat-ayat laris manis di pasaran, serupa ta’jil di pinggir jalan, pasar-pasar dadakan. Mereka-mereka yang merasa banyak tahu berubah menjadi ahli matematika. Pahala digembar-gemborkan. Dihitung dengan mengalikan sekian menambahkan sekian kalikan lagi sekian, dan –traraaa—muncul angka yang fantastis untuk sebuah pahala.

Televisi menjual iklan. Iklan-iklan berjualan ramadhan bahkan jauh hari sebelum ia datang. Ini baik, ini enak, ini indah, ini menyenangkan, ini menyegarkan. Anak-anak yatim laris manis. Magrib berubah menjadi ajang pesta pora bagi sebagian orang. Sebagian lagi menjual caci maki yang kemudian disebut dagelan. Sebagian lagi masih asik berebut kursi. Bagi sebagian senja hari masih sama seperti hari-hari sebelumnya, ditemani lapar dahaga.

Masjid-masjid mendadak penuh untuk sebuah kepatutan. Atau gratisan makanan? Pemandangan yang menyenangkan, untuk pengemis yang ingin lebaran, untuk pengurus masjid yang kesepian. Mereka pun berharap ramadhan diperpanjang karena untuk kebahagiaan kecil ini perlu setahun lagi menanti.

Tak ada yang abadi.

Maka rentetan apakah memeluk erat. Apakah esok kita masih mensyukuri lapar dan haus, masalah dan air mata. Apakah esok kita masih terbangun tengah malam menghinakan jiwa. Apakah kita masih akan tersenyum pada setiap wajah. Apakah esok kita masih mendendang hari dengan ayat-ayat suci. Apakah esok kita masih kerasan tidur di masjid semalaman.

Mungkin apakah yang terlalu berlebihan. Namun, apakah saat ini kita telah mencoba mengaji hati?

“Ya. Sayalah manusia yang paling munafik.”

“Saya manusia bodoh.”

Rahang Kang Paijo mengeras, seperti cadas diterjang air mata. Masih di atas lincak bambunya, telinga Kang Paijo mendengar sesayup suara dari kejauhan.

Oleh: Arumdalu

2 Komentar Pembaca

  1. Sastranesia

    sungguh tulisan yang mengusik hati. Selamat! Anda membuat saya berpikir hari ini :)

    Balas

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas