Satunya Kata dan Tindakan: Problem Bahasa yang Diperalat

Language is the house of being,” demikian kata Martin Heidegger. Bahasa adalah rumah dari manusia, demikian kurang lebihnya maksud Heidegger. Lebih jauh lagi, kita bisa merasakan bahwa bahasa sebenarnya adalah manusia itu sendiri. Dari hal yang mendasar ini maka masalah satunya kata dan tindakan kemudian menjadi masalah yang tidak sederhana lagi.

Atau cobalah kita menengok sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia, dan kita lihat di tahun 1928, saat Sumpah Pemuda, yang salah satu tekad pemuda saat itu adalah:

“Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia”

Bukan satu bahasa, tetapi bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Ini adalah keputusan yang cerdas, karena selain keinginan untuk keluar dari hegemoni yang ada dalam rumah bahasa kolonial, bahasa persatuan itu juga merupakan rumah baru, sebuah rumah besar bagi bangsa Indonesia yang memang beraneka ragam suku dan bahasanya. Bahasa Indonesia kemudian lebih dari sekedar bahasa pemersatu, tetapi menjadi rumah bersama yang diharapkan bangsa Indonesia kelak menjadi kerasan untuk menghuni di dalamnya. Dan perlu diingat, Sumpah Pemuda bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Sumpah Pemuda hadir dalam perjalan sejarah kita melalui jalan panjang yang beresiko dan melelahkan.

Atau kalau kita lihat sejarah Eropa Barat setelah mesin cetak ditemukan oleh Guttenberg. Tidak hanya kemajuan pesat di berbagai bidang kehidupan manusia, tetapi juga akhirnya itu mendorong berdirinya negara-negara nasional di daratan Eropa sana. Betapa dahsyat akibat yang disebabkan oleh bahasa ini.

Tetapi apa yang kemudian kita temui sekarang ini? Bahasa diperalat! Bahasa kemudian menjadi sekedar instrumen belaka, dan sayangnya lagi, dalam politik, bahasa terlalu sering diperalat untuk membangun tirai asap yang menyembunyikan laku jahat yang rakus. Tidak hanya itu, dan ini sungguh sangat memprihatinkan, terkait dengan Kurikulum 2013 yang dipersiapkan terutama untuk anak-anak Sekolah Dasar kita. Coba kita lihat kutipan tulisan dari Acep Iwan Saidi, ketua Forum Studi Kebudayaan ITB, Petisi untuk Wapres, yang dimuat di Kompas, Sabtu, 2 Maret 2013, halaman 7:

“Bahasa Indonesia hanya disikapi sebagai alat dalam sebuah bidang studi yang dinamai Pelajaran Bahasa Indonesia”

Lebih lanjut Acep menunjuk salah standar Kompetensi Dasar (KD) untuk murid kelas VI SD adalah:

“memiliki kepedulian dan tanggung jawab tentang ciri khusus makluk hidup dan lingkungan melalui pemanfaatan bahasa Indonesia”

Hidden curriculum apa yang ingin dicapai dengan kurikulum semacam ini? Apakah senandung pendidikan integratif? Omong kosong!

Kembali kepada Heidegger, bahasa adalah rumah manusia, atau lebih jauh lagi bisa kita katakan, bahasa adalah juga manusia itu sendiri. Maka, menghargai bahasa adalah sebenarnya membangun sikap dasar menghargai manusia. Menempatkan bahasa hanya semata alat saja, itu berarti juga sedang membangun sikap untuk mudah memperalat manusia lain. Atau sedang mempersiapkan sebuah bingkai manusia sebagai homo homini lupus, yang akan bertarung dalam lapangan survival of the fittest yang brutal. Dan inilah hidden curriculum dalam Kurikulum 2013 yang sebenarnya, terutama jika dikaitkan dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang dalam sejarahnya adalah rumah besar tempat berbagai suku yang ada di NKRI merasa kerasan hidup di dalamnya, sekarang justru diperlakukan sebagai alat belaka, dan bahkan bukan tanggung jawab bersama yang muncul, bukan rasa saling merawat yang muncul, tetapi manusia adalah serigala untuk yang lain.

Atau sebagai perbandingan terhadap cara pandang yang ada dalam Kurikulum 2013, lihatlah apa yang diharapkan dari universitas-universitas di Jerman dari calon-calon mahasiswanya yang berasal dari sekolah setingkat SMA? Pengetahuan yang banyak mengenai fisika, kimia, biologi atau yang lainnya? Ternyata bukan! Tuntutan dari universitas-universitas di Jerman untuk calon-calon mahasiswanya, menurut Drost, bisa diringkas dalam satu kata: hochsculreife, artinya: kematangan, baik intelektuil maupun emosional, agar dapat menempuh studi akademis. Tingkat kematangan itu dapat dilihat dari kemampuan bernalar dan bertutur yang telah terbentuk. Bernalar dan bertutur diperoleh dan dibentuk terutama lewat matematika dan bahasa.

Dari hal-hal di atas, maka satunya kata dan tindakan pada dasarnya adalah bicara soal bahasa. Dan itu juga sekaligus bicara soal manusia. Manusia yang mau peduli dan merawat manusia lain. Yang mampu menghargai orang lain. Manusia yang matang. Sayangnya, keretakan satunya kata dan tindakan ini sudah sedemikian parahnya. Dan mungkin saking geregetannya, pemenang Hadiah Nobel Bridgeman, seorang ahli nuklir, mengatakan:

“makna sebenarnya dari suatu kata hanya dapat ditemukan dengan meneliti apa yang dilakukan seseorang dengannya, dan bukan dengan apa yang dikatakannya dengan kata tersebut”

Pernah dimuat di: http://www.pergerakankebangsaan.org/?p=1218

sumber: kompasiana

Bahan Bacaan

Martin Heidegger, On The Way To Language, (trnsl. by Peter D Hertz), Harper & Row Publishers, Inc., New York, 1971, hlm. 63

J. Drost SJ., Dari KBK Sampai MBS. Esai-esai Pendidikan, Penerbit Buku Kompas, 2005, hlm. 25

Kutipan dalam: Mochtar Lubis, Manusia Indonesia. Sebuah Pertanggungjawaban, Inti Idayu Press, Jakarta, 1986, cet-7, hlm. 36

Oleh: Grego Sudargo

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas