Membangkitkan Motivasi; Guru Cerdas Menulis

Apa yang anda bayangkan ketika mendengar kata menulis? Menulis dapat didefinisikan sebagai kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Pesan adalah isi atau muatan yang terkandung dalam suatu tulisan. Tulisan merupakan sebuah simbol atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan disepakati pemakaiannya. Dengan demikian, dalam komunikasi paling tidak terdapat empat unsur yang terliba yaitu penulis sebagai penyampai pesan, pesan atau isi tulisan, saluran atau media berupa tulisan , dan pembaca sebagai penerima pesan.

Menulis sendiri bukan suatu hal yang asing bagi kita. Artikel, esai, laporan, resensi, karya sastra, buku, komik, dan cerita adalah contoh bentuk dan prodak bahasa tulis yang akrab dengan kehidupan kita. Tulisan-tulisan itu menyajikan secara runtut dan menarik ide, gagasan, dan perasaan penulis. Menulis sendiri mempunyai beberapa manfaat, bahkan banyak sekali manfaatnya yang dapat kita petik dari menulis misalnya, meningkatkan kecerdasan intelegtual atau emosional, pengembangan daya inisiatif dan kreatifitas, menumbuhkan keberanian, dan pendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.

Menurut Graves (1978), seseorang engan menulis karena tidak tahu untuk apa dia menulis, merasa tidak berbakat menulis, dan merasa tidak tahu bagaimana harus menulis. Ketidaksukaan tidak lepas dari pengaruh lingkungan keluarga dan masyarakat, serta pengalaman pembelajaran menulis atau mengarang di sekolah yang kurang motivasi dan merangsang minat.

Motivasi berati dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tidakan dengan tujuan tertentu. Sesuai dengan itu, berate motivasi dibagi menjadi dua macam, yaitu motivasi internal dan motivasi eksternal. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:930).

Motivasi internal adalah motivasi yang merupakan dorongan dari diri seseorang atau individu. Dalam konteks guru, misalnya, seorang guru menulis karya tulis yang dihasilkannya hanya demi mencurahkan ide, gagasan, atau aspirasinya kepada orang lain melalui karya tulisnya tersebut, dan bahkan mengetahui, mencoba memberikan tanggapan dan dapat mengambil manfaat dari yang telah di tulisnya. Sedangkan motivasi eksternal adalah motivasi yang merupakan dorongan dari luar diri seseorang atau individu. Selain demi mencurahkan ide, ada pula guru yang senang menulis karena ia lebih terdorong mencari pengalaman, serta hadiah lomba yang cukup mengiur.

Hanya kita perlu mengingat-ingat, bahwa menulis itu kan soal latihan. Artinya jika guru sering berlatihtentunya kualitas tulisan akan dengan sendirinya terbentuk. Karena dengan latihan, latihan, dan latihan kita menjadi terbiasa, setelah menjadi terbiasa kita akan menjadi bisa, setelah bisa kita tentunya akan menjadi luar biasa dan setelah luar biasa kita menulis akan menjadi biasa-biasa saja kita menulis.

Sebaliknya, jika kemampuan guru dalam menulis tidak pernah dilatih dan dibiasakan, bisa jadi guru akan cendrung kesulitan menuangkan ide-ide yang dimiliki dalam bentuk tulisan. Meskipun dirinya memiliki materi dan bahan yang cukup, tetapi karena jarang dilatih maka guru tidak akan bisa menulis karya ilmiah popular, artikel, maupun bahan ajar.

Sudaryanto dalam bukunya mengemukakan beberapa cara guna mengatasi hal tersebut di atas, kiranya langkah-langkah berikut ini bisa dilakukan. Pertama, pemberian reward and punishment oleh pihak sekolah kepada guru yang suka menulis misalnya sebuah buku atau sertifikan dan tidak suka menulis. Kedua, membentuk forum atau kelompok studi para guru yang mencintai budaya literasi (membaca, menulis, dan berdiskusi). Ketiga, mengurangi jam mengajar guru, terutama bagi guru yang memiliki komitmen tinggi terhadap menulis. Keempat, mengundang para penulis, sesame guru untuk berbagi pengalaman menulisnya disekolah. Kelima, pengiriman guru-guru untuk belajar dilembaga pendidikan keterampilan (LPK), khususnya di bidang kepenulisan. Keenam. Peningkatan sarana dan prasarana (computer, buku-buku diperpustakaan, langganan Koran dan majalah) di sekolah.

Dengan langkah-langkah di atas, sekiranya seorang guru akan merasa terpanggil untuk menulis, karena menulis merupakan sati di antara bagian profesionalisme guru. Bahkan tidak sedikit orang memiliki karier, ia optimis dikarenkan dirinya rajin membaca dan menulis.

Masalah waktu. Aktivitas menulis, jujur kita akui membutuhkan waktu yang khusus. Adanya aturan bahwa guru mengajar sebanyak 24 jam per pecan sedikit banyak memengaruhi aktivitasnya, terutama menulis. Jika seorang guru sibuk mengajar di sekolah, kemudian harus meluangkan waktunya dirumah dan di masyarakatnya maka kapankah waktu dia untuk menulis?

Guna mengatasi masalah itu, Sudaryanto dalam bukunya menyatakan para guru harus pintar-pintar mencari peluang. Misalnya sesering mungkin anda pergi ke perpustakaan untuk memperoleh bahan informasi, baik dari buku, Koran, atau pun majalah lainnya. Informasi itu perlu dicatat apabila menurut anda hal itu penting. Jika itu sudah, anda tinggal membuat kerangka tulisan, dan kemudian menguraikan sesuai kerangka yang anda buat, disini perlunya berpikir kreatif dan kecerdasan.

Sementara masalah waktu, perlu ditegaskan bahwa menulis itu merupakan proses yang panjang atau tidak sekali tempo. Seorang penulis bisa menyelesaikan tulisanya dua atau tiga hari bahkan lebih. Jadi sekalipun anda selaku guru sibuk mengajar di sekolah karena tuntutan jam mengajar, anda tetap dapat menulis, dengan disiasati seperti itu, kita pasti punya banyak waktu untuk menulis. Perlu banyak juga membaca buku tentang menulis kreatif untuk pengembangan diri. Buku karya Sudaryanto ini juga di lengkapi dengan hari-hari besar nasional dan alamat media massa untuk memudahkan para guru menulis dan mengirimkan tulisannya. Membaca buku karya Sudaryanto dengan judulnya “Guru Cerdas”.Dapat menjadi inspirasi atau panduan dalam menulis apapun bentuknya. Buku itu juga merupakan Pengangan Wajib Guru Berprestasi.

sumber: kompasiana

Oleh: Adelbertus, S.Pd
Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak.

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas