Perempuan dalam Kekangan Feodalisme Jawa

gadis pantai

Istilah feodalisme tak lain adalah istilah perbudakan atas manusia terhadap manusia. Istilah ini sebenarnya mulai dipakai sejak abad ke-17, tapi oleh pelakunya sendiri tidak pernah dipakai/diakui, atau diekspresikan secara tertutup lantaran konotasinya yang negatif: kekuasaan sosiopolitik yang dijalankan kaum bangsawan untuk mengendalikan suatu daerah yang diklaim sebagai kepunyaannya; selalu ingin dihormati, atau tetap mempertahankan nilai-nilai lama yang sebenarnya sudah usang demi menjaga kepentingan pribadi dan golongannya. Kehadiran istilah inilah yang kemudian melahirkan “masyarakat feodal”: yang kuat berkuasa atas yang lemah, raja atas hambanya, tuan atas budaknya, pemodal atas buruhnya, laki-laki atas perempuan, dan lain sebagainya.

Pramoedya Ananta Toer dalam romannya berjudul “Gadis Pantai” ini, hendak membongkar bagaimana praktek-praktek feodalisme di Kabupaten Rembang, Jawah Tengah saat itu, dijalankan tanpa rasa kemanusiaan oleh kaum bangsawan untuk kepentingannya sendiri dengan mengorbankan para hamba sahaya: orang yang tak punya kuasa atas hidupnya. Gadis Pantai, seorang gadis berumur empat belas tahun, adalah salah satu korban dari praktek kebrutalan itu.

Dikisahkan seorang gadis belia yang terlahir dari perkampungan nelayan. Di kampungnya, orang-orang hidup dalam serba kekurangan. Laki-laki melaut, perempuannya menumbuk ebi, menjahit jala, dan segala urusan domestik rumah tangga lainnya. Makan nasipun hampir tak pernah, kecuali dengan jagung yang ditumbuk halus. Berpakaian seadanya, badan dan rambutnya kumal dan bau lantaran jarang mandi dengan air tawar. Sebuah potret masyakarakat miskin di nusantara.

Tapi, si Gadis Pantai memiliki kelebihan yang sangat jarang dimiliki oleh kebanyakan orang di kampung. Berkat penampilannya yang rupawan, berparas indah, ayu, manis, ia mampu memikat hati salah seorang pembesar santri (priyayi) setempat, seorang Jawa yang bekerja pada (administrasi) Belanda. Oleh Bendoro (priyayi) itu, Gadis Pantai dijadikan sebagai Mas Nganten: perempuan yang kerjanya melayani “kebutuhan” seks seorang Bendoro (sebagai latihan) untuk sementara waktu, sampai Bendoro itu mendapatkan seorang pendamping yang setara dengannya: seorang perempuan ningrat.

Kejam? Tentu saja. Hal ini tidak usah diperbincangkan lagi. Kehidupan rakyat di Jawa dahulu kala hingga mungkin sampai sekarang, masih dapat kita jumpai kehidupan semacam ini. Di Keraton misalnya, para abdinya jika disuruh menjilati kaki Sang Rajanya sekalipun, secara suka rela mereka akan melakoninya. Ya, itulah kewajiban hamba pada rajanya (heerendients). Seolah-olah, kehendak Raja adalah kehendak Tuhan, sehingga membangkang pada Raja, sama halnya dengan membangkang pada Tuhan. Aneh atau salah? Sudah pasti dua-duanya.

Meski Gadis Pantai menjabat sebagai Mas Nganten dan tinggal di rumah mewah seorang Bendoro, mendapatkan pelajaran tentang banyak hal seperti membatik, menulis, dan menjahit, tetap saja kondisi ini tidak serta-merta memberikannya hidup layaknya seorang manusia. Cercaan dan hinaan, dan segala macam tindakan yang tidak manusiawi, kerap menjadikan dirinya seperti seonggok binatang. Ya, orang rendahan tetap hanya akan menjadi orang rendahan. Biar bagaimanapun perkembangan potensi dalam dirinya, kalau asalnya dari kaum rendahan, tetap akan seperti itu: hidupnya diatur, dikuasai, dan dikekang dalam kehinaan.

Awalnya ia memang dihormati rakyat setempat, dan ini memberikan nilai plus tersendiri bagi diri pribadinya dan bagi keluarganya di kampung. Tapi sayang, keberuntungan yang orang-orang anggap itu, bagi diri Gadis Pantai tak lain adalah malapetaka, malapetaka tanpa perasaan. Sejak ia dirampas dari kampung dan orang tuanya untuk menetap di rumah mewah, sampai akirnya ia dipaksa kembali untuk meninggalkan perkawinan dan seorang anak perempuan pertamanya yang masih membutuhkan air kehidupan dari dadanya. Suatu kondisi yang sangat memperihatinkan, bukan? Anak dipisahkan dari orang tua, ibu dipisahkan dari anaknya. Kejam!

Sayangnya, dua naskah lanjutan yang awalnya sebagai trilogi karya Pram ini, binasa ditelan vandalisme Angkatan Darat. Naskah buku ini pun ada berkat jasa seorang mahasiswi Australia yang mendokumentasikannya sebagai bahan tesis. Patut kiranya kita apresiasi.

Akhir kata, roman ini sangat recommended bagi semua kalangan, terlebih bagi mereka yang ingin bebas, atau mereka yang berjuang demi kebebasan untuk semua anak manusia. Selain diramu dengan kata-kata indah, bahasa yang mengalir, dan tentu dengan logat dan kalimat khas tempo dulu, Pram juga melukisnya dengan penuh kejujuran, gamblang tanpa ragu, jauh dari tendensi selain atas nama kebenaran. Dan yang terpenting, roman ini mampu menusuk feodalisme Jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan tepat langsung di jantungnya yang paling dalam.

Judul : Gadis Pantai
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tahun : Cetakan 7, September 2011
Tebal : 272 hlm., 13 x 20 cm
ISBN : 979-97312-8-5

sumber: kompasiana

Oleh: Maman Suratman
Mahasiswa, bagian dari civil society.

  1. Dita Arswenda

    Sekilas ceritanya bener-bener bagus , tentang wanita jaman dahulu, membaca sedikit saja sudah pengen nangis :)

    Balas

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas