Budaya Konkret Rembukan

Halim HDMenurut empu bahasa WJS Purwadarminta, berembuk (rembukan) adalah suatu perundingan, membicarakan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan. Dari kata itu kita juga bisa menangkap ada sesuatu yang penting yang perlu dijadikan dasar bagi sikap dan kondisi untuk menciptakan sebuah perembukan.

Pasalnya perembukan tak mungkin terlaksana jika salah satu pihak merasa keminter. Juga tak mungkin terwujud bila ada yang merasa lebih tinggi. Dengan kata lain, hal yang mendasar dari perembukan adalah pertama; bagaimana menanggalkan sikap merasa paling tahu dan merasa lebih tinggi.

Butuh suatu dekonstruksi tindakan secara konkret, yakni, bagaimana menyetarakan, menciptakan kondisi dan sikap kesederajatan antara seorang gubernur, kepala dinas, atau elite pengelola Jateng dan warga. Sikap dan perspektif kesetaraan ini hanya bisa berjalan nyata jika elite memiliki keterbukaan, jembar atine, dan selalu legawa menerima semua kritikan atau masukan dari masyarakat. Dengan kesetaraan dan keterbukaan, barulah kita bisa mewujudkan langkah pertama dalam menciptakan kehidupan kebudayaan yang dialogis.

Secara Bersama

Intisari dari budaya rembukan sesungguhnya sikap dialogis, suatu sikap reflektif dan praksis, merenungi semua masalah dengan tindakan nyata secara bersamasama. Kebersamaan mengandung rumangsa handerbeni. Bila elite ingin merasa dimiliki oleh warganya, dia wajib memasuki ruang sosial kemasyarakatan, memasuki masalah warga dengan keterbukaan dan kesetaraan.

Tindakan ini bukan hanya mengandaikan tapi lebih penting lagi sebagai upaya menciptakan suatu pemahaman, ilmu pengetahuan bersama warga dalam mengelola wilayah kebudayaan, sosial, politik, ekonomi berikut beragam seginya. Seperti ungkapan yang indah dan filosofis dari leluhur, elmu kuwi kelakone kanthi laku.

Kandungan dari kata dan makna berembuk bukan hanya merundingkan sesuatu untuk mencapai tujuan. Sebagai elite pengelola Jateng yang telah dipilih oleh warga maka berembuk mengartikan secara konkrit tentang bagaimana menerima dan melayani warga dengan sebaik-baiknya. Kita sebagai warga tahu dan merasakan benar secara riil dalam kehidupan seharihari, bagaimana kerepotan berhadapan dengan birokrasi yang penuh basa-basi dan diiringi sejumlah manipulasi.

Untuk itulah budaya berembuk bukan rundingan belaka melainkan juga kesiapan yang diiringi sikap melayani dengan terbuka. Tentu, dengan komitmen menciptakan pengelolaan Jateng yang bersih dari segala unsur koruptif. Pada sisi praktis lain, budaya rembukan mengartikan bahwa sesuatu bisa kita pecahkan, dan bisa kita wujudkan melalui sebuah dialog yang setara. Kata ini sesungguhnya memiliki makna optimisme, sekaligus kritisisme.

Artinya harapan yang akan kita capai perlu didukung pemikiran dan sikap kritis, bukan sekadar sikap ABS (asal bapak senang). Dalam konteks inilah, gubernur dan wakil gubernur beserta seluruh staf pengelola Jateng perlu dan wajib membuka diri untuk menerima apa yang dilontarkan warga.

Dan sisi lain yang berkait dengan hal itu, antara lain masalah jurang sosial ekonomi yang kian lebar, kerusakan ekologis, dan keamburadulan tata ruang perkotaan akibat politik pembangunan yang tak memikirkan suara warga. Belum lagi kemunculan faksi-faksi agama yang acap memaksakan kehendak, sikap intoleransi.

Karena itu, budaya berembuk wajib diterapkan secara berkesinambungan ke berbagai lapisan sosial, khususnya dalam konteks pemecahan konflik horizontal yang kerap terjadi pada masyarakat. Kita sambut ajakan Gubernur Ganjar Pranowo mengelola Jateng lewat sikap budaya rembukan.

Hanya kita menginginkan bukan hanya lontaran wacana melainkan yang lebih penting yakni terobosan konkret, tindakan nyata, sebagaimana koleganya di Jakarta, Jokowi, yang rajin blusukan, dan tak hanya menciptakan berita tapi lebih dari itu sejenis elmu, pengetahuan tentang kehidupan kemasyarakatan beserta solusinya. (10)

sumber: Suara Merdeka, 28/8/2013

Oleh: Halim HD
Networker kebudayaan, tinggal di Solo

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas