Bahasa Gegar Budaya

Saya sangat teringat sebuah kisah humor lama dalam sebuah buku yang saya lupa judulnya. Kisah itu terjadi pada akhir Perang Dunia I. Seorang jenderal dari Perancis dan seorang jenderal dari Inggris menikmatinya dengan ngobrol santai di sebuah kedai.

“Sir, apa rahasianya Inggris selalu menang dalam pertempuran laut?” tanya Si Jenderal Perancis dengan bahasa Inggris yang seadanya.

“Kami selalu berdoa sebelum perang.”

“Kami juga berdoa, Sir!” serobot Si Jenderal Perancis.

“Tapi, kan, tidak semua mengerti bahasa Perancis.”

*

Mengingat hal di atas membuat saya membayangkan, betapa sombongnya Si Jenderal Inggris mengenai bahasa mereka (bahasa Inggris), meski sebatas kisah humor. Saking sombongnya, bahkan malaikat dan Tuhan pun seolah hanya mengerti bahasa Inggris daripada bahasa Perancis, apalagi bahasa lainnya.

Dalam suatu hajatan mengenai terbitnya sebuah buku, meskipun belum pernah ke Inggris, saya berani menduga bahwa para penulis Inggris tidak akan pernah membuat hajatan “Peluncuran of …..” Mereka pasti tetap menggunakan bahasa Inggris secara murni dan konsekuen, alias tanpa perlu campur-aduk bahasa. Bukan karena mereka sombong (hanya menggunakan bahasa mereka) tetapi memang itulah bahasa mereka.

Tetapi yang aneh, sebagian orang Indonesia yang bergelut dalam bidang tulis-menulis berbahasa Indonesia. Saya sering menjumpai sebuah pamflet dan latar hajatan buku bertuliskan “Launching Buku Antologi Puisi”. Kata “launching” merupakan kata berbahasa Inggris. Sementara “buku”, “antologi”, “puisi”, bahkan seluruh puisi dalam buku tersebut menggunakan bahasa Indonesia.

Ada lagi, pada sebuah sampul depan buku tertulis “The Ahok Way, Hidup adalah Kebenaran, Kematian adalah keuntungan”. Saya terheran-heran. Orang Inggris saja tidak pernah mencampuradukkan bahasa dengan bahasa Indonesia, lha kok ini, orang Indonesia, penulis berkebangsaan Indonesia dan berbahasa Indonesia, malah melakukan ‘gegar bahasa’?

Ada apa dengan sebagian penulis Indonesia ini? Apakah, kalau tidak dicampuri kosakata bahasa Inggris, lantas sebuah hajatan atau sampul buku akan terlihat tidak keren, meskipun hajatan tersebut dihadiri oleh 99% orang Indonesia atau isi bukunya ditulis dalam bahasa Indonesia?

Menurut saya pribadi, yang asli Indonesia dan fasih berbahasa Indonesia ini, totalitas berbahasa sangatlah penting. Kalau sebuah hajatan diadakan dan diperuntukkan bagi kalangan orang Indonesia di Indonesia, alangkah tepat menggunakan bahasa Indonesia secara murni, apalagi ternyata buku yang diterbitkan dalam hajatan tersebut memang murni berbahasa Indonesia. Dan, kalau sebuah hajatan diadakan dan diperuntukkan bagi kalangan asing (mayoritas adalah orang Eropa atau masyarakat internasional, kecuali Indonesia) di Inggris sana, dan buku (sekaligus isinya) yang diterbitkan dalam bahasa Inggris, wajarlah hajatan dan sampul buku menggunakan bahasa Inggris.

Sebaliknya pula. Kalau di Inggris sana diselenggarakan sebuah hajatan tertulis “Launching Buku Antologi Puisi” untuk dihadiri oleh penulis dan pembaca berbangsa-berbahasa Inggris, atau diterbitkannya sebuah buku yang pada sampulnya tertulis “Hidup adalah Kebenaran, Kematian adalah Keuntungan”, bagaimana, ya?

Entahlah, bagaimana. Yang saya sok tahu adalah orang Inggris atau juga para penulisnya menggunakan bahasa Inggris karena memang itu bahasa mereka dan di tanah mereka sendiri (membumi). Saya tidak percaya bahwa mereka (penulis berbangsa-berhasa Inggris itu) menggunakan bahasa Inggris hanya untuk terlihat keren dan mendunia. Lha, bagaimana dengan para penulis Indonesia?

Barangkali ini yang disebut “tidak membumi” alias “lupa daratan”. Barangkali. Lupa bahwa mereka berada di Indonesia dan berbahasa Indonesia tetapi khayalan mereka sudah sampai ke daratan Eropa dan membayangkan bahwa para hadirin, pembeli buku, atau pembacanya adalah orang-orang Inggris.

Saya juga mengamati bahwa kejadian semacam itu berulang-ulang dan dipajang di aneka media. Barangkali juga, menurut saya pribadi yang asli Indonesia ini, kebiasaan semacam itu termasuk sebuah ‘gegar budaya’, khususnya dalam berbahasa Indonesia. Istilah lainnya yang sempat terkenal tahun 2013 adalah “Vickyisme”.

Ya, sangat barangkali “vickyisme” memang bagian dari “ideologi” sebagian orang Indonesia. Lucunya, mereka (penganut “vickyisme”) begitu gencar menertawakan si Vicky itu, bukannya menyadari ke-vicky-an dalam diri mereka sendiri.

Lantas, apakah orang-orang Indonesia yang berotak cerdas bahkan jenius itu sudah melupakan bahkan mengabaikan Soempah Pemoeda 1928? Maaf, saya tidak mengerti. Ketidakmengertian saya sudah pasti gara-gara saya orang bodoh bin pelosok udik, dan sama sekali tidak pernah pergi ke Inggris untuk menghadiri sebuah hajatan peluncuran buku atau sekadar jalan-jalan ke sana untuk membeli sepucuk buku saja. Memang sudah nasib saya.

*******

Kupang, 17 April 2014

sumber: kompasiana

Oleh: Agustinus Wahyono

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas