“Tuhan” Terlempar Mudah Di Bibir, Lenyap Di Ujung Jemari

Nietzsche“Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya”

Petikan pendek dari Friedrich Wilhelm Nietzsche filsuf dan ahli ilmu Filologi asal Jerman yang sempat menggemparkan dunia. Kaum theist dari berbagai agama kebakaran jenggot serta mengutuk Nietzsche dan menjadikannya mahluk yang paling dibenci dan dilaknat. Pertanyaan yang muncul kemudian, siapakah yang membunuh Tuhan? Dan bagaimana manusia menghabisiNya?

Penyataan Nietzsche tersebut tidak sepenuhnya salah, sebab secara diam-diam kita bersekongkol ramai-ramai membunuhNya. Ajal Tuhan kini di ujung tanduk, dan memang kita, yang meyakiniNya, pelan-pelan mendepak Tuhan sebab tidak ada lagi ruang bagi kita untuk menghayati apalagi menghadirkanNya. Betul kita beragama dan meyakini wujudNya, akan tetapi pori-pori jiwa, hati, pikiran dan seluruh tubuh kita menyumbat rapat-rapat pintu masuk Tuhan.

Ya, Kita hidup di era “smart phone”, zaman dimana kita dibuat minim berkata-kata, peran dan fungsi mulut dibajak dan dikunci oleh jemari yang menari dilayar mini asyik bersenang-senang dengan fitures di dalamnya. Jemari kita menjelajah puluhan dan ratusan menu yang selalu tidak akan pernah ada habisnya untuk di click hingga mata, otak dan indra penting kita lainnya diseret ke dunia mungil serba lengkap itu.

Tuhan yang hardir dalam setiap sendi-sendi kehidupan melalui nikmat dan rizki pemberianNya menjadi sulit untuk dicerna. Contoh kecil yaitu saat kita makan, lidah kita yang bekerja secara maksimal menikmati serta melumat bumbu masakan yang kita sukai dan tanpa disadari ditransfer langsung ke rongga leher secara mulus. Namun sayang jari-jemari kita mengalihkan itu semua ke suatu tempat di luar sana. Tanpa disadari pula perut kita sudah terisi sementara si smartphone masih memaksa kita ke dunianya..

Demikian juga pada saat kita hendak membuang isi perut itu ke toilet. HP yang seolah mengikat, melekat dan menjadi bagian dari kita sehingga tanpa disadari ia tetap bersama kita. Menghayati maupun merasakan nikmatnya buang hajat menjadi mustahil. Termasuk merenungkan fungsi anus dan kinerjanya bagaimana ia membuka dan menutup secara otomatis sehingga kita merasa lega dan nyaman setelah selesai berurusan dengan isi perut, lagi-lagi nyaris kita sadari sebab puluhan game yang baru saja kita download bersekokongkal dengan jemari, otak dan indra lainnya untuk melupakan nikmat Tuhan itu.

Begitu juga di tempat di mana kita beribadah salah satunya ketika Shalat Jumat, pemberitahuan untuk tidak mengaktifkan HP di temple di sudut-sudut mesjid agar supaya kita khusuk dan setiadak nya ada ruang untuk mengingat Tuhan, malah justru sibut update status berbagai macam sosial media.

Jika ruang bersyukur yang lahir dari penghayatan mendalam begitu sempit, maka jedah untuk mengingat Tuhanpun semakin sulit. Itulah makna ramalan Nietzsche bahwa suatu saat nanti Tuhan akan dibunuh justru oleh mereka yang bertuhan. Kita tidak perlu membawa pisau ataupun pistol untuk membunuh Tuhan, cukuplah bacok Dia dengan jemari anda maka Tuhan akan lenyap begitu saja.  Terima kasih atas kritik konstruktifnya Nietzsche!!! Salam RIMANEWS

sumber: rimanews.com

Oleh: Fathor Rasi

  1. Yudh

    Menarik sekali, harus dibaca semua orang, sebagai cambuk pengingat bahwa kita sering melupakan Tuhan dan telah tanpa sadar “men-Tuhankan” smartphone. Salam Sastra.

    Balas

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas