Hartojo Andangdjaja, Jejak Sastra dari Solo

Buletin Sastra Pawon bekerja sama dengan Balai Soedjatmoko mencoba untuk melihat kembali jejak kesusastraan yang ada di Kota Solo. Banyak penulis dan sastrawan yang lahir dari kota ini, jejak itu sudah ada sejak dulu kala mulai dari era Yosodipura hingga saat ini. Untuk mengawalinya kami akan memperbincangkan sosok Hartojo Andangdjaja, seorang penulis yang muncul di era 60-an. Dalam diskusi ini juga akan diluncurkan satu buku khusus tentang sosok kita ini. Acara akan dilaksanakan pada tanggal 7 Juni 19:00 WIB di Balai Soedjatmoko, Solo.

HARTOJO ANDANGDJAJA

Dilahirkan di Kampung Sondakan, Laweyan, Solo, pada tanggal 4 Juli 1930, sebagai putra ke-enam dari tujuh bersaudara. Pendidikan terakhirnya di PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama) Solo (1958). Bertugas mengajar di SMP dan SMA Simpangempat, Sumatera Barat (1957-1962). Terakhir mengajar di STN Kartasura (1965).
Semenjak masih duduk di sekolah menengah (zaman Jepang dan di zaman revolusi), ia sudah aktif menulis sajak-sajak dan menerjemahkan. Sajak-sajak awal remajanya sudah banyak berhasil dimuat dalam berbagai majalah, berdampingan dengan penyair-penyair Chairil Anwar, Anas Makruf, Umar Ismail, S. Wakidjan, Rivai Apin dan lain-lain. seperti dalam majalah “ARENA” (1946); “REVOLUSI PEMUDA” (1946) di Yogya, “PEMBANGUNAN” dan “PANTJA RAYA” (1946-1947) dan “MIMBAR INDONESIA” (1949) di Jakarta, “SENIMAN”, “UDAYA” dan “SUARA MUDA” (1947-1949) di Solo.
Sebagai penyair kreatif, ia pernah ikut menangani berbagai aneka redaksi majalah. “MERPATI” (1948); “TJITA” (1952); “SIMPOSIUM/DWIWARNA” (1953); “SI KUNCUNG” (1964); “RELUNG PUSTAKA” (1970) dan “MADYANTARA” (1974).
Ia pun termasuk salah seorang aktivis kebudayaan di kota Solo semasa masih pelajar SMA. Pencetus gagasan HARI PUISI (1957), dan bersama DS Moeljanto, mendirikan organisasi Lembaga Seni Sastra Surakarta (1952) dan menyusun buku kumpulan puisi penyair-penyair muda Solo yang bernama “SIMPONI PUISI”, yang diterbitkan dalam rangka peringatan Chairil Anwar (1954). Di RRI Solo, ia juga sering mengadakan siaran-siaran “PANCARAN SASTRA” dan ikut memelopori acara siaran “SAJAK DAN PEMBAHASANNYA”.
Hartojo Andangdjaja juga termasuk salah seorang penandatangan “MANIFES KEBUDAYAAN” (1963) yang dilarang oleh Presiden Soekarno. Setelah bermukim kembali ke Solo dan bebas dari mengajar sebagai guru, ia hanya aktif menulis, menerjemahkan buku-buku dari Bank Naskah Dewan Kesenian Jakarta, yang sudah banyak diterbitkan. Kumpulan sajak-sajaknya “BUKU SIMPONI” terbit tahun 1973.
Ia tutup usia pada tanggal 30 Agustus 1990. Meninggalkan seorang istri dan dua orang anak, putera dan puteri. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum Tegalkembang, Pajang, Solo dan diiringi dengan pembacaan sebuah sajaknya yang terkenal dan monumental, berjudul: “RAKYAT”.

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas