Bahasa Indonesia: Dari Daring Hingga Hidung Cutbray

 Diskusi tim BBC Indonesia dengan Maskun Iskandar tentang dinamika bahasa

Diskusi tim BBC Indonesia dengan Maskun Iskandar tentang dinamika bahasa

Bahasa Indonesia dinamis dan selalu berevolusi, terutama bahasa yang digunakan anak muda dan juga media.

Untuk berdiskusi tentang perkembangan bahasa termasuk kosa kata baru, Biro BBC di Jakarta mengundang Maskun Iskandar, seorang pemerhati bahasa dari jurusan bahasa Indonesia Lembaga Pers Dr. Soetomo.

Percakapan dibuka dengan membahas tren bahasa anak muda yang membuat perumpamaan dengan hal-hal sederhana dan kerap menggelitik.

“Dulu hidung yang tidak mancung disebut seperti ‘dasun tunggal’ atau bawang tunggal tapi sekarang tidak banyak lagi orang yang tahu arti dasun. Nah, sebuah majalah anak muda menyebut hidung yang seperti itu dengan ‘hidung cut bray’”, kata Maskun.

Cut bray adalah model celana panjang khas periode 1970-an yang melebar di bagian bawah.

Sedangkan untuk frasa perumpamaan yang banyak digunakan di era Pujangga Baru seperti “pipi bak pauh dilayang” atau “remuk redam” itu disebut oleh Maskun sebagai kuno.

“Kata-kata yang sudah archaic itu misalnya ‘remuk redam atau ‘hancur lebur’. Sekarang anak-anak muda bilangnya begini, ‘hati saya seperti kerupuk yang tergilas truk,’” ujarnya.

Dilema Kata Serapan

Seiring hilangnya batas ruang dan waktu melalui teknologi daring alias online, semakin banyak kata-kata bahasa asing yang diserap atau dicarikan padanannya dari bahasa Melayu dan bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Indonesia, meski tidak selalu tepat.

“Pada zaman Suharto, waktu pertama kali penanaman modal asing masuk ke Indonesia banyak istilah asing yang masuk… Para pakar ada yang seperti memaksakan untuk menerjemahkan karena mendahulukan bahasa sendiri.

“Tapi Sutan Takdir [Alisjahbana] marah sekali waktu supermarket diterjemahkan jadi pasar swalayan. Saat itu, Sutan Takdir bilang, ‘Supermarket sudah populer, baboe-baboe [pembantu rumah tangga] saja sudah tahu supermarket itu apa’,” kata dia.

“Jadi kalau kata itu sudah populer dan sudah diterima luas dalam bahasa Indonesia, kenapa tidak dipakai saja?”

Menurut Maskun, bahasa Indonesia miskin kosa kata sehingga banyak istilah asing diserap.

Dari bahasa Sansekerta, bahasa Indonesia menyerap 1.000-an kata. Dari bahasa Belanda ada 3.000-an kata dan dari bahasa Mandarin pun ribuan kata, semisal kata ubin, tukang, atau comblang.

Rasa Bahasa

Diskusi semakin hangat dengan pertanyaan-pertanyaan yang salah satunya membahas tentang rasa bahasa.

Pada topik pergerakan bahasa, perbincangan menyentuh beda rasa antara kata ‘wartawan’ dan ‘jurnalis’.

“Kuno atau tidak kuno itu masalah rasa bahasa. Tahun 1928 ada Kongres Perempuan Indonesia yang menilai kata ‘perempuan’ kuno dan rendah. Kongres itu pun sepakat menggunakan kata ‘wanita’ sehingga kongres perempuan menjadi kongres wanita.

“Padahal kalau diusut secara etimologi, kata ‘perempuan’ lebih bagus ketimbang kata ‘wanita’. Perempuan dari kata ‘empu’ yang artinya yang memiliki daya linuwih, waskita, berilmu tinggi, dan mulia. Sedangkan wanita dari bahasa Sansekerta yang artinya yang diingini. Kalau diingini kan ada yang menginginkan, yang menginginkan kan laki laki, dengan demikian wanita itu jadi obyek,” jelas Maskun.

sumber: bbc.co.id

Tags: 

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas