Penyair Sitor Situmorang Tutup Usia

sitor

Sastra Indonesia | Berita – Penyair Sitor Situmorang (91) meninggal dunia, Minggu (21/12/2014). Sastrawan angkatan 1945 itu mengembuskan napas terakhir di Belanda.

Kabar duka itu disampaikan oleh sejarawan JJ Rizal melalui akun Twitter-nya @JJRizal. “Pagi ini dapat berita dari Apeldoorn, Belanda, sasterawan #SitorSitumorang meninggal dunia,” demikian tweet Rizal.

Dalam kicauannya, Rizal menyebut keluarga berharap Sitor bisa dimakamkan di Tanah Air. Rizal juga mengungkapkan keinginan Sitor untuk bisa dimakamkan di kampung halamannya jika wafat. Dalam sajak berjudul “Tatahan Pesan Bunda”, Sitor menulis ingin dikuburkan di samping ibunya di Danau Toba, Sumatera Utara.

Tatahan Pesan Bunda

Bila nanti ajalku tiba
Kubur abuku di tanah Toba
Di tanah danau perkasa
Terbujur di samping Bunda

Bila ajalku nanti tiba
Bongkah batu alam letakkan
Pengganti nisan di pusara
Tanpa ukiran tanpa hiasan

Kecuali pesan mahasuci
Restu Ibunda ditatah di batu
Si Anak Hilang telah kembali!
Kujemput di pangkuanku!

Sitor Situmorang lahir di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 2 Oktober 1923. Dia pernah menjadi wartawan, tetapi kemudian lebih dikenal sebagai sastrawan dan penyair. Sitor terlahir dengan nama Raja Usu. Dia menempuh pendidikan di HIS di Balige dan Sibolga serta MULO di Tarutung, kemudian AMS di Batavia (kini Jakarta).
Pakar sastra Indonesia asal Belanda, A Teeuw, menyebut Sitor Situmorang sebagai penyair Indonesia terkemuka setelah Chairil Anwar.

Kumpulan cerpennya yang berjudul “Pertempuran” dan “Salju di Paris” (1956) mendapat Hadiah Sastra Nasional pada tahun 1955 dan kumpulan sajak Peta Perjalanan memperoleh Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta 1976

sumber: kompas.com

Tags: ,

Kirim Komentar Anda

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Gunakan bahasa atau kata-kata yang santun dan tidak mengandung unsur SARA. Terima kasih atas partisipasi Anda dan selamat berkarya.

© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas