Cuplikan Naskah Drama “RT Nol RW Nol”

Adegan I Kolong jembatan ukuran sedang, di suatu kota besar. Pemandangan biasa dari pemukiman kaum gelandangan, lewat senja. Tikar-tikar robek. Papan-papan. Perabot-perabot bekas rusak. Kaleng mentega dan kaleng susu kosong. Lampu-lampu templok. Dua tungku berapi. Diatasnya kaleng...

Orang-Orang Miskin

Orang-orang miskin di jalan, yang tinggal di dalam selokan, yang kalah di dalam pergulatan, yang diledek oleh impian, janganlah mereka ditinggalkan. Angin membawa bau baju mereka. Rambut mereka melekat di bulan purnama. Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala, mengandung buah...

Tiada yang Lebih Aman

Tiada yang lebih aman, pun tiada yang lebih nikmat Membayangkan masalampau yang dalam kenangan terpahat. Tiada yang lebih berat, pun tiada yang lebih berarti Dan saat kini yang ‘kan seg’ra lepas pula jadi mimpi. Tiada yang lebih gamang, pun tiada yang lebih senang Menghadapi...

Aku Setelah Aku

:eyelight Aku berdiri sebagai reruntuhan, atau, mungkin sebagai reruntuhan yang duduk di depan monitor kesunyian. Gelombang- gelombang memori masih bergerak, seperti mesin scanner yang mondar-mandir di atas keningku. Batas kematianku dan batas kecantikanmu, membuat tikungan yang pernah...

Catatan Kaki Sehabis Demonstrasi

aku melihat diam tak seorang saja tapi satu bangsa kulihat batu padahal manusia menunggu waktu padahal sia sia di ini negeri apa pun boleh terjadi tapi jangan sebut revolusi, siapa pun pahlawan ngeri. mimpi saja tak berani mereka capek dikibuli, dikebal sakit hati kubasuh kaca lensa,...

Tak Sepadan

Aku kira: Beginilah nanti jadinya Kau kawin, beranak dan berbahagia Sedang aku mengembara serupa Ahasveros Dikutuk-sumpahi Eros Aku merangkaki dinding buta Tak satu jua pintu terbuka Jadi baik juga kita padami Unggun api ini Karena kau tidak ‘kan apa-apa Aku terpanggang tinggal...

MANTERA

lima percik mawar tujuh sayap merpati sesayat langit perih dicabik puncak gunung sebelas duri sepi dalam dupa rupa tiga menyan luka mengasapi duka puah! kau jadi Kau! Kasihku

Salju

Kemanakah akan pergi mencari matahari ketika salju turun pohon kehilangan daun Kemanakah jalan mencari lindungan ketika tubuh kuyup dan pintu tertutup Kemanakah akan lari mencari api ketika bara hati padam tak berarti Kemanakah akan pergi selain mencuci diri

Ibu Kota Senja

Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari Antara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi Di sungai kesayangan, o, kota kekasih Klakson oto dan lonceng trem saing-menyaingi Udara menekan berat di atas jalan panjang berkelokan Gedung-gedung dan kepala mengabur dalam senja Mengarungi...
© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas