“Nawang Wulan” Karya: Cecep Syamsul Hari

Dua puluh tahun kemudian Nawang Wulan terlihat keluar dari keriuhan Carrefour, mendorong kereta belanjaan dan menuntun seorang anak umur sepuluh tahunan Di depan kasa dikeluarkannya kartu Visa Rambutnya pendek sekali sekarang dicat warna biru, hijau dan pirang Tubuh yang dulu berhias...

Cemara Laut

Buat D. Zawawi Imron Langit semerah saga Membayang pada pasir pantai Ketika rumpun-rumpun cemara Menjadi pertapa Di pantai terlarang Ketika bongkahan karang hitam Tak lekang Tapi juga tak kekal Cemara menyimpan warna bulan Di rumpun-rumpunnya yang rimbun Seperti ingin menciptakan...

Malam Cahaya Lampion

Lampion. Tarian naga bersayap di tanah ini. Tanah hidupku Tempat angin pertama menyentuh.   Matamukah setajam silet mengulitiku. Kesurupan Atau mabukkah kau? Benamkan kepalamu. Bayangkan kita dikuliti bumi Dan semut-semut bersarang di liang mata   Tubuh tak kekal Jiwa diterbangkan...

Nawang Wulan

(Yang Melindungi Bumi dan Padi) Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia Aku dari sorga Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa Aku dari sorga Sambut aku dengan bunga Itu darah dari duka dan cinta Bunga buat bayi yang baru lahir dari rahim ibu Bunga buat kekasih yang manis merindu Bunga...

Bunga dan Tembok

seumpama bunga kami adalah bunga yang tak kaukehendaki tumbuh engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah seumpama bunga kami adalah bunga yang tak kaukehendaki adanya engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi seumpama bunga kami adalah bunga yang dirontokkan...

Kenapa Kau Tolak CintaKu, Dayang Sumbi?

-untuk Acep Zamzam Noor darah anjing jantan yang dulu membakar bawah pusarmu darah itulah sekarang membakar bawah pusarKu! dayang sumbi, bukankah kulakukan semua yang kau minta kulakukan! kutebang hutan rimba kucipta telaga dari yang tak ada bahkan kubuatkan kau perahu kayu untuk...

Orang-Orang Miskin

Orang-orang miskin di jalan, yang tinggal di dalam selokan, yang kalah di dalam pergulatan, yang diledek oleh impian, janganlah mereka ditinggalkan. Angin membawa bau baju mereka. Rambut mereka melekat di bulan purnama. Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala, mengandung buah...

Tiada yang Lebih Aman

Tiada yang lebih aman, pun tiada yang lebih nikmat Membayangkan masalampau yang dalam kenangan terpahat. Tiada yang lebih berat, pun tiada yang lebih berarti Dan saat kini yang ‘kan seg’ra lepas pula jadi mimpi. Tiada yang lebih gamang, pun tiada yang lebih senang Menghadapi...

Aku Setelah Aku

:eyelight Aku berdiri sebagai reruntuhan, atau, mungkin sebagai reruntuhan yang duduk di depan monitor kesunyian. Gelombang- gelombang memori masih bergerak, seperti mesin scanner yang mondar-mandir di atas keningku. Batas kematianku dan batas kecantikanmu, membuat tikungan yang pernah...
© 2013. Indonesia Sastra Media.  |  Kembali ke atas